0% found this document useful (0 votes)
56 views26 pages

Laporan Kasus Trauma Kepala Medis

The document discusses head trauma (trauma kepala). It defines head trauma and describes the mechanisms, types of injuries including scalp, skull and brain injuries. It covers the Glasgow Coma Scale for assessing consciousness level, signs and symptoms, management including primary and secondary surveys, indications for CT scan, intubation, Mannitol administration and close monitoring of patients with head trauma.

Uploaded by

papermint
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
56 views26 pages

Laporan Kasus Trauma Kepala Medis

The document discusses head trauma (trauma kepala). It defines head trauma and describes the mechanisms, types of injuries including scalp, skull and brain injuries. It covers the Glasgow Coma Scale for assessing consciousness level, signs and symptoms, management including primary and secondary surveys, indications for CT scan, intubation, Mannitol administration and close monitoring of patients with head trauma.

Uploaded by

papermint
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Laporan

Kasus Emergency Medicine


TRAUMA KEPALA
INTRODUCTION
Definisi
Suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat
menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan
otak
(Sastrodiningrat, 2009)

Suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degenera=f,


tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat
mengurangi atau mengubah kesadaran dan menimbulkan kerusakan
kemampuan kogniCf dan fungsi fisik
(Brain Injury Associa=on of America, 2006)

Tingkat kesadaran dinilai dengan Glasgow Coma Scale untuk mengkategorikan =ngkat
keparahan cedera kepala

Scottish Intercollegiate Guidelines Network, 2009


Head Trauma (Anatomical)

•  Abrasi •  Linear
•  Kontusio •  Depressed
•  Focal injuries
•  Laserasi •  Open
•  Diffuse injuries
•  Subgaleal •  Comminuted
haematom •  Basal

Scalp Skull Brain


Mekanisme Cedera Kepala

—  Blunt
◦  Tabrakan Kendaraan Bermotor
◦  Pukulan benda tumpul
◦  Jatuh

—  PenetraCng
◦  Luka Tembak
◦  Luka Tusuk


Scalp Injury

—  Scalp mempunyai banyak pembuluh darah à trauma dapat


menyebabkan perdarahan yang profuse
—  Kontrol Perdarahan àpenekanan langsung pada luka
—  Jangan melakukan penekanan langsung jika kemungkinan terdapat
cedera tulang kepala
Skull Injury
Fraktur Basis Cranii

Robeknya Duramater
–  Memungkinkan CSS mengalir keluar
melalui lubang eksternal
–  Ex: Rhinnorhea dan ORhorea
–  Evaluasi untuk “Target” or “Halo”
sign
Brain Injury

Focal Injury

-  Cerebral contusion
-  Cerebral laceration
-  Haematoma
•  Epidural Haematoma
•  Subdural Haematoma
Brain
•  Intracerebral Haematoma
Injury

Diffuse Injury

-  Concussion
-  Axonal Injury
-  Cerebral edema
-  Cerebral Ischemia
Holt and Dolan, 2008
Brain Injury (2)

Cedera Otak Primer Cedera Otak Sekunder


•  Kerusakan segera terjadi •  Akibat dari hipoksia atau
setelah trauma penurunan perfusi
•  Coup and contracoup •  Respon terhadap cedera otak
primer
•  Terjadi saat itu juga
•  Berkembang dalam beberapa
jam

Respon terhadap Injury

•  Pembengkakan otak
•  Vasodilatasi dengan peningkatan volume darah otak
•  Peningkatan TIK

•  Penurunan aliran darah ke otak


•  Penurunan perfusi
•  Iskemia serebral (hipoksia)
Tanda dan Gejala Cedera Kepala

•  Perubahan Status Mental • Muntah


◦  Perubahan Orientasi • Tanpa Mual
◦  Perubahan Personalitas •  Proyek=l
◦  Amnesia •  Perubahan termperatur tubuh
–  Retrograde •  Peubahan reak=vitas pupil
–  Antegrade •  Postur dekor=kate
•  Cushing’s Reflex
•  Perubahan Patofisiologi
–  Cedera Lobus Frontalis
•  Perubahan kepribadian
–  Cedera Lobus Oksipital
•  Gangguan Pengelihatan
–  Cedera Kortikal
•  Penurunan status mental dan amnesia
–  Retrograde
»  Tidak mampu untuk mengingat kembali kejadian sebelum
cedera
–  Antegrade
»  Tidak mampu untuk mengingat peristiwa setelah kejadian
–  Defisit fokal
•  Hemiplegia, kelemahan, kejang
Epidural Hematoma

•  Perdarahan antara
periosteum dan duramater
•  Paling sering disebabkan
ruptur a.meningeal media
•  Hematom berbentuk
konveks
•  “Lucid Interval”

Subdural Hematoma

—  Perdarahan diantara duramater


dan arachnoid
—  Lesi desak ruang berbentuk
konkaf dan =dak berbatas jelas
dari jaringan otak dibawahnya
Hematoma epidural
Perdarahan Subarakhnoid

—  Perdarahan dibawah membran


arakhnoid
—  Komplikasi yang sering terjadi:
Hidrosefalus
Perdarahan Intrakranial

—  Perdarahan fokal dalam


parenkim otak
—  Presentasi sama dengan
gejala stroke
—  Tanda dan Gejala
memburuk dari waktu
ke waktu
Primary Survey

•  Pa=ents are assessed and treatment priori=es established based on their


injuries, vital signs, and injury mechanisms
•  ABCDEs of trauma care
–  A Airway and c-spine protec=on
–  B Breathing and ven=la=on
–  C Circula=on with hemorrhage control
–  D Disability/Neurologic status
–  E Exposure/Environmental control
Primary Assessment

Tingkat kesadaran :
A - Alert (sadar)
V - respon terhadap verbal(bicara)
P - Respon terhadap pain (nyeri)
U - Unresponsive (=dak ada respon)
Secondary Survey

Lakukan secondary survey :


•  Tanda-tanda vital
•  Anamnesa
•  Pemeriksaan head to toe termasuk neurologi
•  Balut dan bidai
•  Monitor terus menerus
Manajemen

— Skull X-Ray
◦  Secara umum =dak wajib dilakukan pada pasien CKR,
kecuali:
–  Hematom besar yang mempersulit pada pemeriksaan palpasi ada =daknya
fraktur tulang tengkorak
–  Curiga terhadap adanya benda asing radioopaque yang merobek dan masuk
dalam kepala

•  CT scan
◦  Indikasi :
–  GCS < 13 tanpa adanya intoksikasi alkohol/fraktur cranium
–  GCS < 14 disertai fraktur cranium
–  Dilatasi pupil unilateral pada keadaan AMS
–  Fraktur depresi cranium
–  Defisit neurologis fokal
–  Pasien cedera kepala yang membutuhkan ven=lasi
–  Pasien cedera kepala yang akan dilakukan pembedahan dengan general
anestesi
•  Intubasi
◦  Indikasi:
–  Coma (GCS < 8)
–  Penurunan GCS > 2 secara cepat
–  GCS < 14 disertai dilatasi pupil unilateral
–  Clinical respiratory distress à RR > 30x/min atau kurang dari 10x/
min atau abnormalitas pola nafas, atau hipoksemia yang tidak dapat
dikoreksi 100% dengan O2 NRBM
–  Cedera maksilofasial
–  Kejang berulang
–  ALO, trauma dada/abdomen
— Mannitol
◦  Indikasi
–  Pasien koma dengan pupil yang awalnya reak=f lalu menjadi dilatasi pupil
dengan/tanpa hemiparese
–  Pupil dilatasi bilateral dan non reak=f

–  Dosis mannitol à1 g/kgBB habis dalam 5 menit
–  Hal yang harus perha=kan dalam pemberian mannitol:
–  Pasang kateter urine
–  Pas=kan pasien =dak hipotensi
–  Pas=kan pasien =dak ada gangguan ginjal (contoh: CKD)

You might also like