ARTIKEL
TEMA : PERILAKU SEHAT
SUB TEMA : SARAPAN
JUDUL ARTIKEL : KEBIASAAN DAN KUALITAS
SARAPAN PADA SISWI
STIKep PPNI JABAR
2018/2019
Curriculum vitae
NAMA : ANTIK SCANDI PANGESTUTI
TEMPAT TANGGAL LAHIR : CIMAHI, 27 JULI 2000
ALAMAT : JLN. KERKOF BLOK PADAKASIH
RT 07 RW 08 NO.26 G
NO HP : 08989323059
JENIS KELAMIN : PEREMPUAN
AGAMA : ISLAM
EMAIL :
[email protected]HOBI : membaca novel
PRODI : D3 KEPERAWATAN 1B
KELOMPOK : 2 (HUMERUS)
KEBIASAAN DAN KUALITAS SARAPAN PADA SISWI REMAJA DI
KABUPATEN BOGOR
Anna Febritta Intan Sari, Dodik Briawan, Cesilia Meti Dwiriani
ABSTRACT
The study aimed to describe breakfast habit among teenage girls of
vocational high school Bogor. A cross-sectional study was conducted and was
involving 68 students 14—18 years old from SMK Pelita Ciampea, Bogor
District. Breakfast consumption was collected by a 7-day food records. The result
showed that there were 45.6% schoolgirls having breakfast regularly. Breakfast
frequency per week was associated with BMI and anaemic status (p<0.05). The
subject mostly explained that breakfast is eat in the morning. Subjects explained
more that breakfast have benefit, consist of a solid food and beverage, and in a
medium portion. Types of good food for breakfast were bread and milk. Mother
should prepare food for breakfast and it should be done at home before leaving
house. The schoolgirls having a good quality breakfast consumed rice, bread,
fruit, and milk; and those are having a low quality breakfast consume sweet tea
and snack. Mother education and occupation, parents income, and number of
family member are significantly related to habitual breakfast (p<0.05). There is
significantly association between habitual breakfast and breakfast quality
(r=0.539, p<0.05).
Key words: breakfast, concept, quality, schoolgirls
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kebiasaan sarapan pada remaja
siswi sekolah menengah kejuruan Bogor. Desain cross-sectional digunakan
dengan subjek 68 siswi berusia 14—18 tahun dari SMK Pelita Ciampea,
Kabupaten Bogor. Konsumsi sarapan dikumpulkan dengan food record selama 7
hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45.6% remaja siswi biasa sarapan
setiap hari. Frekuensi sarapan dalam satu minggu berhubungan dengan IMT dan
status anemia (p<0.05). Seluruh subjek mendefinisikan sarapan sebagai makan di
pagi hari. Selebihnya subjek menjelaskan bahwa sarapan akan bermanfaat, terdiri
dari makanan padat dan minuman, dan porsi sedang. Makanan saat sarapan yang
baik adalah roti dan susu. Ibu sebaiknya menyiapkan makanan untuk sarapan dan
sarapan dilakukan di rumah sebelum memulai aktivitas di luar rumah. Siswi
dengan dengan kategori kualitas sarapan baik mengonsumsi nasi, roti, buah, dan
susu sedangkan yang kualitas sarapan tidak baik lebih banyak minum teh manis
dan jajanan. Pendidikan dan pekerjaan ibu, pendapatan orang tua, dan besar
keluarga berhubungan dengan kebiasaan sarapan (p<0.05). Terdapat hubungan
positif antara kebiasaan sarapan dengan kualitas sarapan (r=0.539, p<0.05).
Kata kunci: konsep, kualitas, sarapan, siswi remaja
HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN DAN KONSUMSI SUPLEMEN
DENGAN STATUS HEMOGLOBIN PADA REMAJA PUTRI
Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Kota Makassar Universitas Hasanuddin
(
[email protected],
[email protected],
[email protected],085241339558)
ABSTRAK
Anemia atau biasa dikenal dengan kurang darah cenderung terjadi di
negara sedang berkembang dibandingkan negara maju. Anemia dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, namun lebih dari 50% kasus anemia yang tersebar di seluruh
dunia secara langsung disebabkan oleh kurangnya masukan zat besi. Anemia gizi
umumnya terjadi pada perempuan dalam usia reproduktif dan anak-anak. Keadaan
ini membawa efek keseluruhan terbesar dalam hal gangguan kesehatan. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dan konsumsi
suplemen dengan status hemoglobin pada remaja putri di SMAN 10 Makassar.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian Observasional analitik dengan
desain cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 10 Makassar pada
bulan Maret-April 2014denganpopulasisebanyak 380 siswi. Sampel dalam
penelitian berjumlah 148 siswi yang ditentukan dengan metode simple random
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengumpulan data sekunder dan
primer yang meliputi wawancara dengan menggunakan kuesioner dan recall serta
hasil pemeriksaan Hb menggunakan hemoque. Analisis dilakukan menggunakan
uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara kebiasaan sarapan (p=0,0010,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwas emakin baikkebiasaan sarapan dan kualitas sarapan, maka semakin baik
pula status Hb seseorang. Kata Kunci : Sarapan, kualitas, suplemen, status
hemoglobin.
ABSTRACT
Anemiaor commonly known as blood less likely to occurin developing
countries compared to developed countries. Anemia can be caused by various
factors, but more than 50% of cases of anemia are scattered around the world are
directly caused by lack of iron input. Nutritional anemia generally occursin
women of reproductive age and children. This situation carries the biggest overall
effectin terms ofhealth problems. The purpose of this study was to determine the
relationship of breakfast habits and consumption of supplements with hemoglobin
status in adolescent girls in SMAN 10 Makassar. Type of research is
observational analytic study withcross-sectional design. This study was conducted
at SMAN 10 Makassar in March-April 2014 with 380 population. The sample
totaled 148 students who are determined by simple random sampling method.
Data was collected through primary and secondary data collection that included
interviewsusing questionnaires and recallas well as the results of Hb using
hemoque. Analyses were performedusing thechi-square test. The results showed
that there was asignificant relationship between breakfasthabits (p =0.0010.05).
From these results it can be concluded that the better quality of breakfast and
breakfast habits, it make the better the person's hemoglobin status. Keywords:
Breakfast, quality, supplements, hemoglobinstatus.
ARTIKEL
Kebiasaan sarapan dikategorikan berdasarkan frekuensi sarapan,
yaitu jarang (1—3 kali/minggu), kadang-kadang (4—6 kali/minggu), dan
selalu (7 kali/minggu). Terdapat 45.6% dan 48.5% subjek termasuk pada
kategori selalu dan kadang-kadang sarapan setiap hari, dan hanya 5.9%
yang jarang sarapan setiap hari. Kelompok remaja putri termasuk dalam
golongan umur yang sensitif terhadap perilaku makan, termasuk sarapan.
Golongan ini mulai mencari identitas dan sangat menjaga penampilan
tubuh (Soetardjo 2011). Terdapat 53.8% subjek anemia yang
kadangkadang melakukan sarapan setiap hari, sedangkan 49.2% subjek
yang tidak gemuk kadang-kadang sarapan setiap hari. Tidak terdapat
hubungan yang signifikan (p>0.05) antara kebiasaan sarapan dengan status
anemia dan tingkat kegemukan. Pada hari sekolah terdapat 69.1% subjek
melakukan sarapan pukul 06.00—06.59, sedangkan pada hari libur 38.2%
subjek sarapan pukul 08.00—09.00. Waktu sarapan tersebut bervariasi dan
berhubungan dengan waktu belajar di sekolah, waktu praktek kerja di
lapang, dan jarak antara rumah dengan lokasi sekolah. Hampir seluruh
subjek melakukan sarapan di rumah, baik ketika hari sekolah (85.3%) dan
libur (83.8%). Selebihnya melakukan sarapan saat hari sekolah di rumah
kontrakan, kantin rumah sakit, dan sekolah
Terdapat 66.2% subjek terbiasa melakukan sarapan sendirian,
30.9% subjek terbiasa sarapan bersama anggota keluarga lainnya (kakak
atau adik, ibu dan adik, ibu dan kakak), dan hanya 2.9% subjek terbiasa
sarapan bersama temannya. Studi Pearson et al. (2009) kebiasaan sarapan
bersama keluarga berperan dalam perilaku konsumsi sarapan yang lebih
baik pada remaja. Jenis makanan yang biasa dikonsumsi untuk sarapan
pada 45.6% subjek adalah makanan sepinggan, 32.4% makanan sepinggan
dan jajanan, 30.9% nasi dan lauk pauk, dan hanya 1.5% dengan sarapan
lengkap (nasi, lauk pauk, sayur, dan minuman). Jenis menu sarapan pada
hari sekolah lebih sering berupa makanan sepinggan, jajanan, dan
minuman; sedangkan pada hari libur berupa nasi lengkap dengan lauk
pauk dan sayur. Penelitian Mudjianto et al. (1994), jenis sarapan yang
banyak dikonsumsi oleh remaja adalah nasi dan lauk pauk, nasi goreng,
roti dan isi, dan mi instan. Pada hari sekolah berupa makanan sepinggan,
jajanan, dan minuman lebih banyak dikonsumsi karena harga yang
terjangkau. Rata-rata harga makanan sepinggan, jajanan, dan minuman
berturut-turut adalah Rp 2 950, Rp 800, dan Rp 2 200. Terdapat hubungan
yang signifikan antara pendidikan dan pekerjaan ibu, pendapatan orang
tua, dan besar keluarga dengan kebiasaan sarapan subjek (p
Rata-rata asupan energi dan protein sarapan subjek adalah 342±153
kkal dan 11.4±6.6 g, sudah memenuhi 15%—25% dari kecukupan sehari
(Tabel 1). Rata-rata asupan energi dan protein sarapan subjek pada hari
sekolah adalah 340 kkal dan 11.0 g. Rata-rata asupan energi dan protein
sarapan subjek pada hari libur adalah 359 kkal dan 13.9 g. Hasil uji beda t-
test menunjukkan terdapat perbedaan antara asupan energi dan protein
pada hari sekolah dan hari libur (p<0.05).
Pertumbuhan yang pesat, perubahan psikologis yang dramatis serta
peningkatan aktivitas yang menjadi karakteristik masa remaja, 3
menyebabkan peningkatan kebutuhan zat gizi. Terpenuhi atau tidak
terpenuhinya kebutuhan ini akan mempengaruhi status gizi remaja.
Meningkatnya aktivitas, kehidupan sosial, dan kesibukan pada remaja,
akan mempengaruhi kebiasaan makan mereka. Pola konsumsi makanan
sering tidak teratur, sering jajan, sering tidak makan pagi, dan sama sekali
tidak makan siang. 6 Remaja putri malah sering melewatkan dua kali
waktu makan, dan lebih memilih kudapan. Sebagian besar kudapan bukan
hanya hampa kalori, tetapi juga sedikit sekali mengandung zat gizi, selain
dapat mengganggu/menghilangkan nafsu makan. Mengudap sebetulnya
tidak dilarang asal mengetahui cara memilih kudapan yang kaya akan zat
gizi.6 Pada penelitian yang dilakukan Tandirerung, dkk. diketahui bahwa
terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan makan pagi dengan
kejadian anemia pada murid SD Negeri 3 Manado. Hasil dari penelitian
tersebut menyatakan bahwa murid Sekolah Dasar Negeri 3 Manado
sebesar 65,1% memiliki kebiasaan makan pagi. Dan berdasarkan
pemeriksaan kadar hemoglobin, sebagian besar murid Sekolah Dasar
Negeri 3 Manado berada pada kategori normal atau tidak anemia
(89,2%).7 Penelitian lain yang dilakukan Izah pada siswa kelas V dan VI
di MI Negeri 02 Cempaka Putih, Tanggerang juga menunjukan hasil yang
sama. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa responden yang
berstatus anemia defisiensi besi lebih banyak pada responden yang tidak
memiliki kebiasaan sarapan (100.0%). Reponden yang berstatus anemia
sendiri dan memiliki kebiasaan sarapan adalah sebesar 78.4%. Sedangkan
responden yang tidak memiliki kebiasaan sarapan dan berstatus tidak
anemia sebesar 0.0%, dan responden yang memiliki kebiasaan sarapan dan
berstatus tidak anemia sebesar 21.6%.
DAFTAR PUSTAKA
1. Arisman. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2007.
2. WHO. Worldwide Prevalence of Anaemia 1993–2005. In: Organization WH,
editor. Spanyol: World Health Organization; 2008.
3. Depkes RI. Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDAS) 2007. Jakarta
Departemen Kesehatan Republik Indonesia;2007.
4. Sukmawati, W. Faktor-faktor yang Mempegaruhi Status Gizi dan Anemia Gizi
Besi pada Santeri Putri di Pesantren Modern dan Tradisional di Kabupaten
Cianjur[Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2003.
5. Masrizal. Anemia Defisiensi Besi. Jurnal Kesehatan Masyarakat.
2007;2(1):140-5.
6. Nursari, D. Gambaran Kejadian Anemia pada Remaja Putri SMPNegeri 18
Kota Bogor tahun 2009 [Skripsi]. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah; 2010.
7. Tandirerung, UE, Mayulu N, Kawengian SES. Hubungan Kebiasaan Makan
Pagi dengan Kejadian Anemia pada Murid Sd Negeri 3 Manado. Jurnal e-
Biomedik (eBM).