KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II
SKENARIO 2
Disusun Oleh :
1. Sri Mulyana (1910201162) 8. Garin Saputra (1910201169)
2. Nastiti Damayanti (1910201163) 9. Riska Nur Wulan (1910201170)
3. Kartiningsih (1910201164) 10. Yusni Antika (1910201171)
4. Putri Fadillah Sari (1910201165) 11. Nursoleh Udin (1910201172)
5. Suryadi (1910201166) 12. Ajuwisa I Saban (1910201173)
6. Farend Indah Prastiwi S. (1910201167) 13. Aldila Jati C (1910201174)
7. Sa’dan Nafi’ah (1910201168) 14. Putrika Nur I (1910201175)
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2021
1
SKENARIO 2
Tujuan Kompetensi
Setelah mempelajari kasus skenario 2, mahasiswa memahami tentang asuhan keperawatan pada
pasien dengan gangguan sistem gastrointestinal
Tujuan Kompetensi
Setelah mempelajari kausu skenario 1, mahasiswa memahami tentang asuhan keperawatan pada
pasien dengan gangguan sistem gastrointestinal
Indikator Kompetensi
1) Memahami patofisiologi gangguan sesuai kasus dengan sistem sistem gastrointestinal.
2) Mampu memilih data senjang sesuai kasus sistem gastrointestinal.
3) Mampu mengelompokkan data dalam kategori subyektif dan obyektif.
4) Mampu menetapkan diagnosa keperawatan yang muncul sesuai kasus (mengacu NANDA).
5) Mampu menetapkan perencanaan tujuan asuhan keperawatan (mengacu NOC).
6) Mampu menetapkan perencanaan intervensi/implementasi yang sesuai (mengacu NIC).
7) Mampu membuat evaluasi dengan SOAP untuk satu diagnosa keperawatan.
Case 2
Mrs CC, a 47-year-old female with a known history of ulcerative colitis (UC) and
anemia, was driven to the emergency department (ED) by her daughter, Cindy, on
March, 2021. The reason for her visit was due to complaints of severe abdominal
pain/swelling and bloody diarrhea over the past four days.
Vital signs were taken in the ED showing a blood pressure (BP) of 96/50, heart rate
(HR) 113 bpm, respiratory rate (RR) of 29, tympanic temperature of 38.9°C, oxygen
saturation (O2 sat.) of 97% on room air, and a pain of 9/10 (using the verbal numeric
pain scale) located in her left lower abdominal quadrant that is sharp, constant, and
aggravated by movement.
Mrs CC states, “my stomach hurts so much I can barely take the pain”. She claims that
she has been taking extra-strength Advil (ibuprofen 400mg) for the pain. Her vitals
were reassessed after 20 minutes showing a decrease in BP to 85/47, HR 130, RR 29,
tympanic temperature of 38.9°C, O2 sat. 96%, and pain still at 9/10.
Upon further assessment, Mrs CC appeared uncomfortable and was quietly crying and
lying on her left side with her knees flexed and arms holding her abdomen. She was
alert and oriented to person, place, time, and situation and was demonstrating
appropriate responses. Her face was flushed and her skin felt warm and dry to touch.
There was slight skin tenting at her clavicle and she admitted to not being able to “eat
or drink very much over the past few days” due to her abdominal pain and discomfort.
She claims to have been having diarrhea that “looks kind of bloody” and hasn’t been
voiding as often as she “normally does”, approximately twice a day over these past
few days. Her abdomen is visibly distended and tender/firm upon palpation. Upon
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2
auscultation, she has hypoactive bowel sounds in all four quadrants and her pain is
noted to be in the left lower quadrant. She is tachycardic and has a clear S1S2
heartbeat with diminished pedal pulses; tachypnea is noted, lung sounds are clear in
all lobes. Her strengths in both upper and lower extremities are slightly weak and her
daughter states that her mother has been “dizzy when getting up and has difficulty
walking at times”.
While in the ED, the nurse inserted an 18-gauge intravenous (IV) to the left antecubital
fossa (AC) and administered a 1 L normal saline (NS) bolus. Mary’s labs (CBC, CMP,
cultures) were drawn, an x-ray and abdominal CT scan were performed, and a stool
sample was ordered. She was administered 1 mg of morphine sulfate IV push at 1115
for her pain. In 15 minutes, her pain was reassessed and was reported as 8/10 using the
numeric pain scale. She received an additional dose of 2 mg morphine sulfate IV push
and reassessed after 15 minutes, stating a pain of 6/10; continuous pain assessment and
management were performed. She was ordered NPO for bowel rest. The ED nurse
administered 500 mg of metronidazole IV to prevent septic complications.
Once results were in from the labs, x-ray, and CT scan, Mary was diagnosed with toxic
megacolon resulting from a flare-up of UC and sent to the intensive care unit (ICU) for
close observation and monitoring.
When Mrs CC was stable, she was transferred to the direct observation unit (DOU)
floor for observation and case management. On the floor, the patient was educated
regarding toxic megacolon and taught about the need to continue her UC medication—
Vedolizumab (Entyvio)—which, if taken correctly, should decrease the chance of
recurrence of UC flare-up and risk of toxic megacolon. Lastly, she met with case
management and was educated on ulcerative colitis support groups and an appointment
was schedule in May with her primary healthcare provider for follow-up.
Step 1 1) Ulseratif colitis (UC).
2) Megakolon.
Mengklarifikasi istilah/konsep
3) Voiding atau buang air kecil.
4) Fossa cubital atau pit siku.
5) Morfin Sulfate.
6) Megakolon Toksik.
Step 2 1) Ulseratif colitis (UC) adalah suatu penyakit radang
usus yang menyebabkan peradangan di saluran
Mendifinisikan masalah
pencernaan.
2) Megakolon adalah pelebaran atau pembesaran
abnormal pada usus besar atau kolon.
3) Voiding atau buang air kecil adalah peristiwa
dikeluarkannya urin pada alat pembuangan air kecil
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
3
dari uretra sampai meatus air kecil keluar tubuh.
4) Fossa cubital atau pit siku adalah daerah segitiga
pada tampilan anterior dari siku.
5) Morfin Sulfate adalah obat yang digunakan untuk
mengatasi rasa sakit dengan intensitas sedang hingga
parah, seperti nyeri pada kanker atau serangan
jantung.
6) Megakolon Toksik adalah jenis megakolon akut
yang disebabkan oleh infeksi bakteri clostridium
difficile atau radang usus, seperti penyakit Crohn
atau kolitis ulseratif.
Step 3 1) Mengapa pasien mengalami sakit perut parah dan
mengalami pembengkakan dan diare berdarah?
Menganalisis Masalah
2) Mengapa tindakan yang dilakukan adalah dengan
memberi obat morfin, karena morfin adalah obat
yang tidak boleh diberi sembarangan?
3) Mengapa pasien mengonsumsi ibuprofen dengan
dosis tinggi ?
4) Mengapa saat mengalami diare terlihat agak
berdarah?
5) Mengapa ketika pasien mengonsumsi ibuprofen, rasa
sakit masih menunjukkan skala 9/10. Apakah
ibuprofen tidak berpengaruh terhadap rasa sakitnya?
6) Apa hubungan toksik megakolon dengan masalah
usus?
Step 4 1) Karena pasien mengalami penyakit megacolon toksis
atau menyebabkan usus besar mengalami pelebaran
Penyusun urutan penjelasan
dengan cepat bahkan dapat menyebabkan pecahnya
masalah (Pertanyaan &
usus besar sehingga feses terdapat darah.
Hepotesis)
2) Karena Morfin merupakan obat penghilang rasa
sakit, dalam kasus rasa sakitnya dilaporkan 8/10
dengan menggunakan skala nyeri numerik.
3) Tujuannya untuk meredakan nyeri berlebih pada
perut.
4) Karena pasien didiagnosis mengidap megacolon
toksik akibat pembengkakan UC. Dimana gejala
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
4
megakolon toksik adalah diare parah dan disertai
dengan darah.
5) Pasien mengonsumsi ibuprofen karena merupakan
jenis obat yang berguna untuk meredakan nyeri serta
peradangan. Dalam kasus pasien mengonsumsi ibu
profen dengan dosis 400mg sedangkan pasien
mengalami skala nyeri 9/10 dimana pasien
merasakan sakit dengan skala nyeri yang tinggi.
kurang dosis pemberian obat bisa menyebabkan rasa
sakit tetap ada. Untuk dosis ibu profen orang dewasa
yaitu 200 mg – 800 mg.
6) Megakolon toksik berhubungan dengan usus karena
megakolon toksik menyebabkan usus besar
mengalami pelebaran dengan cepat, bahkan dapat
menyebabkan pecahnya usus besar.
Step 5 1) Mahasiswa dapat mengetahui penyakit Megakolon
toksik?
Menetapkan tujuan belajar
2) Mahasiswa dapat menjelaskan penyebab megakolon
toksik?
3) Mahasiswa dapat mengetahui gejala megakolon
toksik?
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
5
Pathway
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
6
Patofisiologis
Nyeri diawali dengan kerusakan jaringan, dimana jaringan tubuh yang cedera melepaskan zat
kimia inflamator (excitatory neurotransmitter), (histamine dan bradykinin) sebagai vasodilator
yang kuat edema, kemerahan, nyeri dan menstimulasi pelepasan prostaglandis.
Bila terjadi kerusakan jaringan/ancaman kerusakan jaringan tubuh, seperti pembedahan akan
menghasilkan sel-sel rusak dengan konsekuensi akan mengeluarkan zat-zat kimia bersifat algesik
yang berkumpul sekitarnya dan dapat menimbulkan nyeri. akan terjadi pelepasan beberapa jenis
mediator seperti zat-zat algesik, sitokin serta produk-produk seluler yang lain, seperti metabolit
eicosinoid, radikal bebas dan lain-lain. Mediator-mediator ini dapat menimbulkan efek melalui
mekanisme spesifik
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
7
ASUHAN KEPERAWATAN
LAMPIRAN
FORMAT PENGKAJIAN
Tgl. Pengkajian : 23 Maret 2021 No. Register : -
Jam pengajian : 13.00 WIB Tgl. Masuk : 22 Maret 2021
Ruang /kelas : C2
I. IDENTITAS.
Identitas pasien
a. Nama : Ny. P Nama : Cindy
b. Umur : 47 thn umur : 17 thn
c. Jenis kelamin : Perempuan jenis kelamin : perempuan
d. Agama : islam agama : islam
e. Pendidikan : SMA pekerjaan : Wiraswasta
f. Pekerjaan : Wiraswasta Alamat : Yogyakarta
g. Gol. Darah :B Hubungan dengan klien : Anak
h. Alamat : Yogyakarta
II. KELUHAN UTAMA
1) Keluhan utama saat masuk rumah sakit.
Keluhan sakit perut parah/ Pembengkakan.
2) Keluhan utama saat pengkajian.
Pasien mengklaim telah mengalami diare yang “Terlihat agak berdarah”.
III. DIAGNOSA MEDIS
Megakolon Toksik.
IV. RIWAYAT KESEHATAN
1) Riwayat penyakit sekarang.
Didiagnosis mengidap Megakolon Toksik.
2) Riwayat kesehatan yang lalu.
Ulcerative Colitis (UC) dan Anemia.
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
8
3) Riwayat kesehatan keluarga.
Tidak ada.
V. PENGKAJIAN FUNGSIONAL
1) Aktivitas sehari-hari (ADL).
a) Pola nutrisi dan cairan
Kebiasaan jumlah makan dan kudapan.
Klien tidak bisa makan dan minum sangat banyak selama beberapa hari terakhir.
Jenis dan jumlah (makan dan minum).
Klien makan dan minum dengan porsi sedikit.
Makanan patangan dan kesukaan.
Makanan pantangan yaitu Gula terkonsentrasi.
Pola makan 3 hari terakhir atau 24 jam terakhir.
Pola makan tidak teratur.
Kebiasaan belanja dan memasak.
Klien suka belanja makanan instan.
Kepuasan berat badan.
Tidak ada.
Pengaruh pada pamilihan makanan (agama, etinis, budaya ekonomi).
Tidak ada.
Persepsi akan kebutuhan metabolic.
Tidak ada.
Factor yang berhubungan dengan (aktivitas, penyakit, stress).
Klien tidak dapat beraktivitas karena rasa sakit dan kesulitan untuk berjalan.
Factor pencernaan.
Faktor pencernaan klien terganggu.
Data pemeriksaan fisik yang beraitan.
TD : 85/47 mmHg, HR 130, RR 29 x/m, S : 38,9 0C, 02 duduk 96 %, Rasa sakit
masih di 9/10.
b) pola eliminasi.
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
9
kebiasaan pola buang air kecil.
Klien belum Voiding sesering biasanya. (dua kali sehari selama beberapa hari
terakhir ini).
kebiasaan buang air besar.
Mengalami diare yang terlihat agak berdarah.
keyakinan budaya/kesehatan.
Tidak ada.
kemampuan perawatan diri.
Klien tidak dapat melakukan perawatan diri tanpa bantuan orang lain.
penggunaan bantuan untuk ekskresi.
Tidak ada.
tindakan untuk mencegah sistensis.
Tidak ada.
riwayat berkaitan dengan masalah fisik dan/atau psikologis.
Klien tampak tidak tidak bisa bergerak dengan keadaan menangis dan berbaring
disisi kirinya dengan lutut lentur dan tangan memegang perutnya.
Data pemeriksaan fisik yang berkaitan : abdomen, genitalia, prostat.
Abdomen klien tampak menggembung dan lembut saat di palpasi, saat di auskultasi
memiliki suara usus yang mengandung di empat kuadran dan rasa sakitnya tercatat
berada di kuadran kiri bawah.
c) Pola aktivitas dan latihan.
Aktivitas kehidupan sehari-hari.
Klien melakukan aktivitas sehari-hari terkadang dibantu orang lain.
Olahraga : tipe, frekuensi, durasi, intensitas.
Klien jarang berolahraga.
Aktifitas menyenangkan.
Klien dan anaknya sering pergi jalan-jalan berdua.
Aktivitas diwaktu luang.
Klien lebih suka menonton tv saat waktu luang.
Keyakinan tentang latihan dan olahraga.
Tidak ada.
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
10
Kemampuan untuk merawat diri sendiri.
Perawatan diri kadang dibantu oleh anaknya.
Mandiri, tergantung atau perlu bantuan.
Klien perlu bantuan.
Penggunaan alat bantu (kruk, kaki tiga, dsb).
Tidak ada.
Factor yang berhubungan (konsep diri, dsb).
Konsep diri klien terganggu karna tampak dalam keadaan menangis.
Riwayat berkaitan dengan masalah fisik, dan psikologis.
Masalah fisik klien terganggu karena klien mengatakan tidak bisa menahan rasa
sakitnya.
Data pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan (pernapasan, kardiovaskuler,
muskuloskeleta, neurologi).
RR : 29 x/m
d) Pola istirahat tidur.
Kebiasaan tidur sehari-hari (jumlah waktu tidur, jam tidur dan bangun, ritual menjelang
tidur, tingkat kesegaran tidur).
Jumlah tidur klien cukup, jam tidur pada malam hari pukul 10, bangun pukul 7
pagi.
Keyakinan budaya.
Tidak ada.
Penggunaan alat mempermudah tidur (obat-obatan, music untuk relaksasi, dsb).
Tidak ada.
Jadwal istirahat dan relaksasi.
Tidak ada.
Gejala gangguan pola tidur.
Tidak ada.
Factor yang berhubungan (nyeri, suhu, prosespenuaan, dsb).
Nyeri 9/10 skala numerik, Suhu 38,9 0 C
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
11
Riwayat berkaitan dengan masalah fisik yang berkaitan : survey keadaan umum.
Tidak ada.
e) Pola kebersihan diri (personal hygiene).
Tidak ada.
f) Pola seksual dan reproduksi.
Masalah atau perhatian seksual.
Tidak ada.
Gambaran perilaku seksual.
Tidak ada.
Pengetahuan yang berhubungan dengan seksualitas dan reproduksi.
Tidak ada.
Efek terhadap status kesehatan.
Tidak ada.
Riwayat menstruasi dan reproduksi.
Normal.
Data pemeriksaan fisik yang berkaitan : survey keadaan umum genetalia payudara
rectum.
Tidak ada.
2) kondisi psikologi, social dan spiritual.
a) pola kognitif dan persepsi.
Normal.
b) pola persepsi diri dan konsep diri.
Konsep diri klien terganggu karna klien memandang dirinya tidak berguna.
c) Pola hubungan dan peran.
Peran klien terganggu karena tidak bisa memenuhi peran sebagai ibu rumah
tangga.
d) Pola koping dan toleransi stress.
Tidak ada.
e) Pola nilai dan kepercayaan.
Tidak ada.
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
12
f) Dampak perawatan dirumah sakit.
Tidak ada.
VI. PEMERIKSAAN FISIK.
1) Survey keadaan umum.
a) Penampilan dan perilaku.
Tingkat kesadaan secara kualitatif.
Klien dalam keadaan sadar.
Gender dan ras.
Klien bergenjer perempuan dan ras suku jawa.
Usia.
47 Tahun.
Ekspresi wajah.
Wajah klien memerah.
Jenis tubuh.
Tinggi.
Postur.
Berisi.
Gaya berjalan.
Klien mengalami kesulitan berjalan.
Gerakan tubuh.
Klien tampak tidak bisa bergerak.
Komunikasi.
Klien menunjukkan tanggapan yang tepat.
Kekerasan terhadap klien.
Tidak ada.
2) Tanda-tanda vital.
Tekanan darah (TD) : 85/47 mmHg
Nadi :-
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
13
Suhu : 38,9 ◦C
Respiratory Rate (RR) : 29 x / menit
3) Antropometri.
Tinggi badan : 157 cm
Berat badan : 45 kg
LLA : 32 cm
LK : 30 cm
4) Pemeriksaan fisik system tubuh (head to toe).
a) kulit, rambut dan kuku.
Kulit klien terasa hangat dan kering untuk disentuh ada tanda kulit tipis di
tulang selular.
b) kepala dan leher.
kepala.
Normal.
mata.
Normal.
telinga.
Normal.
hidung dan sinus.
Normal.
mulut.
Normal.
leher.
Normal.
kelenja tiroid.
Tidak ada.
c) mata.
Normal.
d) dada dan paru.
Normal.
e) kardiovaskuler dan system vaskuler peripheral.
TD : 85/47 mmHg.
f) payudara.
Normal.
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
14
g) Abdomen.
Abdomen tampak menggembung dan lembut.
h) Muskuloskeleta.
Tidak ada.
i) Genito-urinari.
Tidak ada.
j) Neurologis.
Tidak ada.
Selasa, 23 Maret 2021
TTD Perawat
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
15
No Hari/ Sign and Sympton/ Data Problem/ Etiology/
Tanggal Masalah Penyebab
1 Rabu, Ds : Domain 12, Agens cedera
24 Maret Klien menyatakan, "perutku sakit Kelas 1 Nyeri biologis
2021 sekali, aku hampir tidak bisa Akut (00132)
menahan rasa sakitnya”.
Do :
- rasa sakit masih di 9/10.
- tangan memegang perutnya.
2 Rabu , 24 Ds : Domain 4, Nyeri
Maret Putrinya Cindy mangatakan Kelas 2
2021 bahwa ibunya telah "pusing ketika Hambatan
bangun dan mengalami kesulitan berjalan (00088)
berjalan ".
Do :
- TD ke 85/47 mmHg
- Klien tampak tidak bisa bergerak
dan dengan keadaan menangis dan
berbaring di sisi kirinya dengan
lutut lentur dan tangan memegangi
perutnya.
Diagnosa :
Domain 12, Kelas 1 nyeri Akut (00132) Berhubungan dengan Agens cedera biologis ditandai
dengan pasien mengeluh sakit perut.
Domain4, Kelas 2 Hambatan berjalan (00088) berhubungan dengan nyeri ditandai dengan klien
tampak tidak bisa bergerak dan tangan memegangi perutnya.
Prioritas Diagnosa Keperawatan :
Domain 12, Kelas 1 Nyeri Akut (00132) Berhubungan dengan Agens Cedera Biologis.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
16
N Diagnosa
Tujuan (NOC) Rencana Tindakan (NIC) Rasional
o keperawatan
1. Domain 12, Setelah dilakukan Manajemen Nyeri : - Mengetahui lokasi,
Kelas 1 tindakan Akut (1410) karakteristik, durasi,
Nyeri Akut keperawatan selama kualitas, beratnyan
- Lakukan pengkajian
(00132) 2x24 jam dengan nyeri.
nyeri komprehensif
Berhubungan indikator : - Mengetahui kondisi
yang meliputi lokasi,
dengan mobilitas fisik pasien
Outcome : Kontrol karakteristik, durasi,
Agens - Memudahkan
Nyeri (1605) frekuensi, kualitas,
Cedera mendapatkan data valid
intensitas atau beratnya
Biologis. - Mengenali kapan terkait dengan tingkat
nyeri.
nyeri terjadi nyeri
- Identifikasi intensitas
- Menggambarkakn - Mengetahui rasa
nyeri selama
nyeri kenyamanan dan
pergerakan misalnya
- Mendiskusikan ketidakmyamanan
aktivitas yang
pilihan pasien
diperlukan saat
penanganan nyeri - Meningkatkan rasa
pemulihan (batuk, dan
dengan nyaman pasien terhadap
nafas dalam, ambulsi,
professional nyeri
transfer ke kursi)
kesehatan - Membantu mengurangi
- Monitor nyeri
- Menggunakan dan atau menghilangkan
menggunakan alat
tindakan nyeri
pengukur yang vaid
pengurangan
dan reliable sesuai usia
(nyeri) tanpa
dan kemampuan
analgesik
berkomunikasi
- Melakukan teknik
- Observasi adanya
relaksasi efektif
petunjuk non-verbal
Outcome : Tingkat mengenai
Nyeri (2102) ketidaknyamanan
- Nyeri yang terutama pada mereka
dilaporkan yang tidak dapat
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
17
- Panjangnya berkmunikasi secara
episode nyeri efektif
- Tekanan darah - Hindari penggunaan
- Eskpresi nyeri analgesik yang
wajah mungkin memiliki efek
samping pada orang
yang lebih tua
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Diagnosa Hari/
No Implementasi Evaluasi
keperawatan tanggal
1. Domain 12, Rabu,2 - Lakukan pengkajian nyeri Kamis, 24 Maret 2021
Kelas 1 Nyeri 4 Maret komprehensif yang meliputi lokasi, Jam 10.00
Akut (00132) 2021 karakteristik, durasi, frekuensi, S : Klien mengatakan
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
18
Berhubungan kualitas, intensitas atau beratnya nyeri sudah berkurang
dengan Agens nyeri.
O : Klien tampak lebih
Cedera tenang, skala nyeri
berkurang
Biologis. - Monitor nyeri menggunakan alat
pengukur yang vaid dan reliable A : Masalah teratasi
sebagian
sesuai usia dan kemampuan
berkomunikasi P : Intervensi
dilanjutkan
- Observasi adanya petunjuk non-
verbal mengenai ketidaknyamanan
terutama pada mereka yang tidak
dapat berkmunikasi secara efektif
- Hindari penggunaan analgesik yang
mungkin memiliki efek samping pada
orang yang lebih tua
TUTORIAL2, KMB2, PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA