LEMBAR KERJA
PRAKTIKUM DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN
Tanggal Praktikum : Kamis, 25 Maret 2021
Nama Praktikan : Adrian Novanda
NIM/Gol. : 134190097 / I1
Asisten Praktikum : Nadya Noora / 134180163
07/04/21
LEMBAR KERJA
BAB VII ANALISIS VEGETASI
A. Tujuan
1. Mengetahui cara mengambil sampel
2. Mengetahui cara menganalisis vegetasi suatu pertanaman
3. Mengetahui jenis gulma yang dominan
B. Hasil Pengamatan
Tabel 7.1 Hasil Pengamatan Analisis Vegetasi Gulma pada Vegetasi A
Frekuensi Kerapatan Dominansi
Gulma
A1 A2 A3 A1 A2 A3 A1 A2 A3
Rumputan ü ü ü 12 19 14 20% 20% 20%
Tekian ü ü ü 28 24 7 50% 30% 30%
Daun Lebar ü ü ü 17 27 6 30% 50% 10%
Perhitungan:
1. Frekuensi
a. Frekuensi Mutlak
Rumputan = x 100% = 100 %
Tekian = x 100% = 100 %
Daun Lebar = x 100% = 100 %
Total = 100% + 100% + 100% = 300%
b. Frekuensi Nisbi
Rumputan = x 100 % = 33,3%
Tekian = x 100 % = 33,3%
Daun Lebar = x 100 % = 33,3%
2. Kerapatan
a. Kerapatan Mutlak
Rumputan = 45
Tekian = 59
Daun Lebar = 50
Total = 154
b. Kerapatan Nisbi
Rumputan = x 100% = 29,22%
Tekian = x 100% = 38,3%
Daun Lebar = x 100% = 32,46%
3. Dominansi
a. Dominansi Mutlak
Rumputan = 100%
Tekian = 110%
Daun Lebar = 90%
Total = 300%
b. Dominansi Nisbi
Rumputan = x 100% = 33,3%
Tekian = x 100% = 36,6%
Daun Lebar = x 100% = 30%
4. Nilai penting
Rumputan = 33,3% + 29,22% + 33,3% = 95,82%
Tekian = 33,3% + 38,3% + 36,6% = 108,2%
Daun Lebar = 33,3% + 32,46% + 30% = 95,76%
5. SDR
Rumputan = = 31,94%
Tekian = = 36,06%
Daun Lebar = = 31,92%
Total = 99,92%
Tabel 7.2 Hasil Pengamatan Analisis Vegetasi Gulma pada Vegetasi B
Frekuensi Kerapatan Dominansi
Gulma
B1 B2 B3 B1 B2 B3 B1 B2 B3
Rumputan ü ü ü 2 19 4 15% 30% 25%
Tekian ü ü ü 19 3 0 80% 10% 0%
Daun Lebar ü ü ü 5 33 17 5% 60% 75%
Perhitungan:
6. Frekuensi
c. Frekuensi Mutlak
Rumputan = x 100% = 100 %
Tekian = x 100% = 66,6 %
Daun Lebar = x 100% = 100 %
Total = 100% + 66,6% + 100% = 266,6%
d. Frekuensi Nisbi
Rumputan = x 100 % = 37,5%
Tekian = x 100 % = 24,98%
Daun Lebar = x 100 % = 37,5%
7. Kerapatan
c. Kerapatan Mutlak
Rumputan = 25
Tekian = 22
Daun Lebar = 55
Total = 102
d. Kerapatan Nisbi
Rumputan = x 100% = 23,8%
Tekian = x 100% = 21,56%
Daun Lebar = x 100% = 53,92%
8. Dominansi
c. Dominansi Mutlak
Rumputan = 60%
Tekian = 90%
Daun Lebar = 140%
Total = 290%
d. Dominansi Nisbi
Rumputan = x 100% = 20,68%
Tekian = x 100% = 31,03%
Daun Lebar = x 100% = 48,27%
9. Nilai penting
Rumputan = 37,5% + 23,8% + 20,68% = 81,98%
Tekian = 24,98% + 21,56% + 31,03% = 77,57%
Daun Lebar = 37,5% + 53,92% + 48,27% = 139,69%
10. SDR
Rumputan = = 27,32%
Tekian = = 25,85%
Daun Lebar = = 46,56%
Total = 99,73%
11. Koefisien Komunitas
C = 2(27,32+25,85+31,92) × 100%
99,92+99,73
= 2(85,09) × 100%
199,65
= 170,18 × 100%
199,65
= 85,23%
C. Pembahasan
Analisis vegetasi merupakan suatu cara untuk menemukan komposisi
jenis vegetasi dari yang paling dominan hingga tidak dominan. Dalam
kaitannya dengan gulma, analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui
gulma yang memiliki kemampuan tinggi dalam penguasaan sarana tumbuh
dan ruang hidup. Hasil dari analisis vegetasi nantinya dapat digunakan dalam
pengambilan keputusan pengendalian gulma. Metode yang digunakan pada
analisis vegetasi yaitu metode kuadrat, yaitu pengukuran Vegetasi suatu
petakan lahan dengan suatu alat berbentuk segi empat dan meletakkan alat
tersebut ke salah satu petakan tanah dan menganalisis gulma yang ada
didalam segi empat tersebut. Besaran yang diperoleh ialah Kerapatan,
Frekuensi, dan Persentasi dominansi.
Pada vegetasi A, ditunjukkan bahwa gulma teki memiliki rata rata
dominansi tertinggi (SDR) yaitu sebesar 36,06 %. Gulma teki secara umum
termasuk dalam golongan C4 yang memiliki titik kompensasi cahaya yang
tinggi. Yang akan hidup secara optimal dan terus bertahan selama gulma
tekian memiliki intensitas cahaya yang cukup untuk pertumbuhannya.
Tanaman golongan C4 memiliki 2 tahapan dalam proses fotosintesis yaitu
reaksi terang dan reaksi gelap, yang mana pada reaksi terang gulma akan
menghasilkan energi kimia dan oksigen lalu dilanjutkan dengan reaksi gelap
yang menghasilkan gula dengan bahan dasar CO2 dan energi.(Kawaroe,
2009).
Sedangkan pada vegetasi B,ditunjukkan bahwa gulma berdaun lebar
memiliki rata rata dominansi tertinggi (SDR) yaitu sebesar 46,56%. Hal ini
dikarenakan Gulma berdaun lebar yang memiliki golongan C sehingga dapat
diuntungkan dalam perkembangan populasi. Gulma dengan golongan C
sangat toleran terhadap kondisi cahaya yang rendah karena memiliki titik
kompensasi cahaya yang rendah sehingga jika tanaman mendapatkan
intensitas cahaya yang rendah, gulma dengan golongan C akan tetap bertahan
hidup dan gulma akan tetap tumbuh tanpa adanya hambatan.Sangat berbeda
dengan tanaman golongan C yang pertumbuhan tanaman akan terhambat dan
bahkan bisa mengalami kelayuan jika tidak mendapatkan intensitas cahaya
yang cukup.(Marsal et al. 2015).
Koefisien Komunitas digunakan untuk membandingkan 2 macam
vegetasi yang berbeda. Berdasarkan hasil analisis data pengamatan gulma
pada 2 jenis vegetasi. Didapat bahwa hasil Koefisien Komunitas sebesar
85,23 %. Yang berarti bahwa nilai Koefisien Komunitas (C) ≥ 75% . Hal ini
menunjukkan bahwa pada 2 macam vegetasi yang berbeda, tidak memiliki
variasi yang berbeda (homogen). Persamaan tersebut dapat disebabkan karena
di awal pertumbuhan, gulma - gulma sudah mendominasi sehingga pada
keadaan yang kurang menguntungkan, gulma tersebut akan menekan
pertumbuhan gulma yang lain. Tingkat keragaman gulma juga dipengaruhi
oleh jumlah gulma di dalam suatu lahan, semakin banyak jumlah spesies
suatu gulma yang sama maka perubahan komposisi gulma akan semakin kecil
karena kompetisi hanya akan terjadi dengan sesamanya. (Bukholder 1952 dan
Sastroutomo 1990).
Menurut Tjitrosoedirjo et al. (1984), dalam penelitian untuk menentukan
tindakan pengendalian gulma di suatu perkebunan, gulma dapat
dikelompokkan secara sederhana menurut sifat morfologi secara umum.
Manfaat pengelompokan jenis gulma berdasarkan sifat morfologi bila akan
dikendalikan dengan herbisida untuk memilih jenis herbisida selektif pada
jumlah SDR gulma rerumputan terbesar digunakan dalapon, bila yang
terbesar golongan daun lebar digunakan glifosat. Dan MCPA.
D. Kesimpulan
Untuk melakukan Pengendalian Gulma, perlu terlebih dahulu untuk
memperhatikan sifat jenis-jenis gulma.Pengendalian gulma harus ditujukan
khusus pada jenis-jenis yang merugikan karena sangat kompetitif dan
persisten, mempunyai daya saing yang sangat tinggi. Pada penelitian kali ini,
sampel gulma yang akan diteliti ada 3 jenis gulma yang dibagi menurut
golongan rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges) dan berdaun lebar (broad
leaf).
Analisis vegetasi gulma menjadi pilihan yang tepat untuk mengetahui
sifat-sifat gulma dan komposisi jenis gulma dan mengetahui bagaimana jenis
pengendalian yang tepat.Terdapat beberapa metode dalam menganalisis
vegetasi gulma berupa Metode Kuadrat dan Metode Garis. Metode Kuadrat
mengukur vegetasi pada suatu petakan lahan dengan menggunakan media
berbentuk segi empat. Sedangkan Metode Garis mengukur vegetasi pada
suatu petakan memanjang pada areal yang sangat luas. Besaran yang
diperoleh dari kedua metode tersebut ialah kerapatan, frekuensi, dan
dominansi.
Pengamatan dan analisis data pada Vegetasi A menggunakan Metode
kuadrat, sedangkan pengamatan dan analisis data pada Vegetasi B
menggunakan Metode Garis. Berdasarkan hasil pengamatan pada Vegetasi A,
Gulma tekian mendominasi vegetasi dikarenakan gulma tekian pada petakan
vegetasi A termasuk tanaman gulma golongan C4 yang mendapatkan cahaya
dengan intensitas yang cukup tinggi sehingga gulma tekian dapat
berfotosintesis dengan sangat baik. Sedangkan hasil pengamatan pada
Vegetasi B menunjukkan bahwa gulma berdaun lebar memiliki tingkat
dominansi tertinggi dikarenakan tanaman gulma berdaun lebar termasuk pada
golongan tanaman C3 yang akan tetap terus tumbuh dengan baik walaupun
hanya mendapatkan intensitas cahaya yang sangat sedikit.
DAFTAR PUSTAKA
Irwanto. 2007. Analisis Vegetasi untuk Pengelolaan Hutan Lindung Pulau
Marsegu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Provinsi Maluku. [Tesis]. Program
Studi Ilmu Kehutanan UGM, Yogyakarta.
Mangoensoekarjo, S. 1983. Pedoman Pengendalian Gulma pada Tanaman
Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta.
Marsalis, M.A., S.V. Angadi, F.E. Contreas-Govea. 2010. Dry matter yield and
nutritive value of corn, forage sorghum, and BMR forage sorghum at
different plant populations and nitrogen rates. Field Crops Res. 116:52-57.
Marsal, D., K.P. Wicaksono, E. Widaryanto. 2015. Dinamika perubahan
komposisi gulma pada tanaman tebu keprasan di lahan sistem reynoso dan
tegalan. J. Produksi Tanaman 3:81-90