0 ratings0% found this document useful (0 votes) 89 views7 pagesFonem Bhs Kawi
Old Javanese pronunciation
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content,
claim it here.
Available Formats
Download as PDF or read online on Scribd
FONEM VOKAL BAHASA JAWA KUNA
DAN ALOFON-ALOFONNYA
Marsone
Abstrak
Bahasa Jawa Kuna seperti bahasa
yang lain mempunyai sistem bunyi dan
fonem sendiri. Fonem vokalnya berjumlah
10 buah, yaitu: f, i, u, u, @ & 6, 0, a, af
Kesepuluh fonem vokal itu dapat
berdistribusi pada awal, tengah, dan akhir
kata. Alofon sebagai realisasi fonem,
perwujudannya ditentukan oleh distribusi
lingkungannya. Dalam distribusi suku kata
terbuka dengan suku kata tertutup kadang-
kadang alofonnya sering tidak sama.
4. Pengantar
ahasa sebagai alat komunikasi an-
bentuk dari fonem-fonem yang be-
Tupa bunyi-bunyi. Setiap bahasa mempu-
nyai sistem fonem dan sistem bunyi yang
berbeda. Bahasa Jawa kuna sebagai alat
komunikasi masyarakat Jawa abad ke 9—
15, periode sebelum datangnya agama Is-
lam di Jawa (Uhlenbeck, 1964:108) mem-
punyai sistem fonem dan sistem bunyi yang
berbeda, baik dengan bahasa Jawa seka-
rang maupun dengan bahasa daerah yang
Jain.
Ahli-ahli yang telah menyinggung fo-
nem-fonem bahasa Jawa Kuna, di antara-
nya, Prawirasuganda dan Sauni (1954:11-
26); Zoetmulder dan Poedjawijatna
(1961:11-14); Mardiwarsito dan Harimurti
Kridalaksana (1964:28-38); dan Marsono
(1993/1994). Keenam ahli yang pertama
menyinggung fonem bahasa Jawa Kuna
dalam uraian tata bahasa Jawa Kuna. Per-
bedaan fonem dengan huruf atau abjad da-
lam ketiga karya yang pertama tidak dibe-
dakan secara jelas. Yang terakhir khusus
mendeskripsikan sistem konsonan dalam
bahasa Jawa Kuna. Uraian tentang sistem
vokal dan alofon-alofonnya dalam bahasa
Jawa Kuna belum pernah dilakukan.
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan
sistem fonem vokal dan alofon-alofon ba-
hasa Jawa Kuna, meliputi: perbendaharaan
fonem vokal, distribusi setiap fonem vokal,
dan kemungkinan alofon-alofonnya. Pa-
sangan minimal dan morfofonemik meliputi
segala kemungkinan perubahan fonem se-
bagai akibat bergabungnya morfem dengan
morfem dalam pembentukan kata tidak
akan disinggung.
Landasan teori yang dipakai dalam pe-
nelitian ini adalah teori struktural, seperti di
antaranya dikerjakan oleh Uhlenbeck
(1949), Hockett (1958), Soepomo Poedjo-
soedarmo dkk. (1979, dan Ramlan (1987a,
1987b). Teori ini dipilih karena sesuai de-
ngan keadaan bahasa Jawa Kuna yang
sudah tidak terpakai. Struktural dalam arti
bahwa setiap unsur fonem vokal dalam sa-
tuan kebahasaan akan dilihat dalam relasi,
baik secara struktural maupun secara siste-
mis dengan unsur fonem yang lain.
‘Setiap unsur fonem vokal bahasa Jawa
Kuna sebagai pendukung struktur akan
dilihat dalam kaitan kebersamaan dengan
fonem yang lain bukan sebagai benda-
benda individual. Misalnya, identitas fonem
Jal akan dilihat kemungkinan hubungan se-
cara struktural horizontal dan hubungan
oposisional vertikal dengan fonem vokal
yang lain dalam suatu kata (Hyman, 1975:
60-61). Fonem-fonem vokal itu lebih lanjut
akan diklasifikasikan berdasarkan tempat
dan cara jika diartikulasikan. Alofon-alofon-
nya akan dicari melalui distribusi dalam
kata.
Data yang ada dalam tulisan ini di am
taranya diambil dari Kitab Peladjaran Bahe~
sa Djawa Kuna Djilid | (Prawirasuganda dan
S. Sauni, 1954), Bahasa Parwa Tatabahasa
Djawa Kuno | Bentuk Kata (Zoetmulder dam
Poedjawijaina, 1961), Struktur Bahase
Jawa Kuna (Mardiwarsito dan Harimurti Kie
dalaksana, 1978), Kamus Jawa Kune
(Kawi) - Indonesia (Mardiwarsito, 1978).
Humaniora No. 10 Januari - April 1935Tarsono
dan Old Javanese - Anglish Dictionary
(Zoetmulder, 1982).
2. Vokal Bahasa Jawa Kuna dan Alofon-
alofonnya
Fonem vokal bahasa Jawa Kuna ber-
jumiah sepuluh buah, yaitu: fi, i, e, é, 6, a,
@, U, U, of. Kesepuluh fonem vokal tersebut
berdasarkan ketinggian lidah pada waktu
diucapkan dapat dibagi menjadi tiga, yaitu
vokal tinggi /i, i, u, u/; vokal madya /e, é, 6,
o/; dan vokal rendah /a, a/. Berdasarkan
bagian lidah yang bergerak sewaktu fonem
vokal itu diucapkan dapat dikelompokkan
menjadi tiga juga, yaitu: vokal depan ji i, el;
vokal tengah / 6, 6, a, al; dan vokal
ku kata terbuka. Alofon dari kesepuluh fo-
nem vokal tersebut berdasarkan distribusi-
nya akan diberikan di bawah. Urutan uraian
disesuaikan dengan ketinggian lidah seperti
terlihat dalam bagan satu
4. Vokal Tinggi
Fonem vokal tinggi dalam bahasa Jawa
Kuna berjumlah empat, yaitu fonem vokal
tinggi depan tak bulat tertutup fil, i” dan
tinggi belakang depan bulat tertutup /u/, /ul
Disebut vokal depan tinggi tak bulat tertutup
karena fonem iil, fi! realisasi alofonnya di-
ucapkan dengan meninggikan bagian de-
pan lidah, bentuk bibir dalam keadaan tak
bulat, dan striktur dalam keadaan tertutup.
Bagan 1
Fonem Vokal Bahasa Jawa Kuna
Bagian Lidah yang Bergerak
Depan | Tengah | paaera
zl
Tinggi ii uit Tertutup
Madya e ° Semi Stittur
Ketinggian ertutve | (Jerak tidah
ion @6 Semi dengan Isngit-
terbuka langit)
Rendah a8 Terbuka
Tak bulat Bulat
Bentuk bibir
belakang /u, u, of. Berdasarkan jarak lidah
dengan langit-langit atau striktur sewaktu
fonem vokal itu diucapkan dapat digo-
longkan menjadi empat, yaitu: vokal tertu-
tup fi, i, u, u/; semi tertutup /e, of; semi ter-
buka /8, 6/; dan terbuka /a, al. Berdasarkan
bentuk bibir waktu fonem vokal diucapkan
dapat dibagi menjadi dua, yaitu: vokal tak
bulat fi, i, e, 6, 6, a, af dan vokal bulat /u, u,
of. Bagan kesepuluh fonem vokal berda-
sarkan empat pembagian itu terlihat dalam
bagan satu berikut.
Fonem vokal seperti juga fonem kon-
sonan bersifat abstrak. Yang terucap dan
terdengar oleh telinga adalah bunyi yang
disebut alofon atau varian. Realisasi alofon
atau varian sebuah fonem berbeda-beda
menurut distribusi dan lingkungannya. Su-
atu fonem vokal yang berada pada suku
kata tertutup alofonnya sering tidak sama
dengan fonem vokal yang berada pada su-
Yang kedua, disebut vokal belakang tinggi
bulat tertutup Karena fonem /u/, /u/ realisasi
alofonnya diucapkan dengan meninggikan
bagian belakang lidah, bentuk bibir dalam
keadaan bulat, serta striktur dalam keadaan
tertutup. Alofon setiap fonem itu menurut
distribusi dan lingkungannya seperti di ba-
wah ini.
a. Alofon vokal tinggi /il
Fonem vokal tinggi depan /i/ mempunyai
dua alofon, Pertama diucapkan dengan
cara meninggikan bagian depan lidah, ben-
tuk bibir dalam keadaan tidak bulat, jarak
lidah dengan langit-langit dekat sehingga
striktumnya tertutup, yang terjadi bunyi [i]
Kedua diucapkan dengan bagian depan li-
dah diletakkan dalam posisi lebih rendah
sedikit daripada alofon [i], bentuk bibir da-
lam keadaan tidak bulat, jarak fidah dengan
Humaniora No, 10 Januari April 1999
57THarsono
langit-langit agak dekat sehingga strikturnya
semi-tertutup, yang terjadi adalah bunyi (I).
Ketinggian lidah bagian depan dalam
mengucapkan bunyi [I] ini hampir sama de-
ngan ketinggian lidah dalam mengucapkan
bunyi [e]. Perbedaannya, posisi ketinggian
dalam mengucapkan [e] sedikit lebih ren-
dah.
1) Alofon fi]
Alofon [i] muncul jika fi) berdistribusi
pada suku kata terbuka atau tertutup, se-
perti dalam kata berikut:
ilu {lu} ‘ikut’ dami {dami] jerami?
dina {dina} ‘hari’ hati [hati] ‘hati’
cinta [cinta] ‘pikiran’ cit [cit] ‘akal’
timba {timba] ‘timba’ tis [tis] ‘dingin’
2) Alofon {I}
Alofon [1] muncul jika /i/ berdistribusi pa-
da suku kata tertutup, contoh
unir [kuntr] ‘kunyit’ wis [wis] ‘sudah’
Jalis [alls] ‘kejam’ sih [sth] ‘kasih’
balik [ball?] ‘kembali ris [rls] ‘halus’
b. Alofon vokal tinggi /i/
Fonem vokal tinggi depan /i/ mempunyai
dua alofon. Pertama, diucapkan dengan ca-
ra meninggikan bagian depan lidah, bentuk
bibir dalam keadaan tidak bulat, jarak lidah
dengan langit-langit dekat sehingga strik-
turnya tertutup, yang terjadi bunyi [i]. Ke-
dua, diucapkan dengan bagian depan lidah
diletakkan dalam posisi lebih rendah sedikit
daripada alofon [i], bentuk bibir dalam kea-
daan tidak bulat, jarak lidah dengan lang
langit agak dekat sehingga strikturnya semi-
tertutup, yang terjadi bunyi [I]. Posisi ke-
tinggian dalam mengucapkan alofon vokal
i sedikit lebih tinggi daripada alofon vokal
W.
1) Aloton fi]
Alofon []] muncul jika fi’ berdistribusi
pada suku kata terbuka atau tertutup, se-
perti:
Jia {jiwal {iwa’ nar? [nari] ‘wanita’
‘ina {lina} ‘hilang’ sakr[saki] ‘sahabat’
hina {hana] ‘uruk’ nadi{nadi] ‘sungai’
Jjitna {jirna] ‘cela’
dipta [dipta] ‘cahaya’
kati (Kirti] ‘amar
2) Alofon {1}
Alofon [I] muncul jika /i/ berdistribusi pa-
da suku kata tertutup, contoh:
‘hdr (hlr] ‘tarik’ wirya [wiry] ‘berani’
Biwara (Is'waray’ Siwa’
pariksa [parlksa] ‘periksa’
diigha {dIrgha] *
diksita [dlksita) ‘di
¢. Alofon vokal tinggi /u/
Fonem vokal tinggi belakang /u/ mem-
punyai dua alofon. Pertama, diucapkan de-
gan cara meninggikan bagian belakang li-
dah, bentuk bibir dalam keadaan bulat, ja-
rak bagian belakang lidah dengan langit-la-
ngit dekat sehingga striktumya tertutup,
yang terjadi bunyi [u]. Kedua, diucapkan de-
ngan bagian lidah belakang diletakkan da-
lam posisi lebih rendah sedikit daripada alo-
fon fu}, bentuk bibir dalam keadaan bulat,
jarak lidah dengan langitlangit agak dekat
sehingga strikturnya semi tertutup, yang
terjadi bunyi [U]. Ketinggian lidah bagian
belakang dalam mengucapkan bunyi [U] ini
hampir sama dengan ketinggian lidah da-
fam mengucapkan bunyi [o]. Perbedaan-
nya, posisi ketinggian dalam mengucapkan
bunyi [0] sedikit lebih rendah.
41) Alofon [u
Alofon fu] muncul jika /u berdistribusi
pada suku kata terbuka atau tertutup, con-
toh:
ulah [ulah] ‘perbuatan’ damu [damu]
dara [udara] 'perut’ caru [caru] ‘campur’
bhuja [bhuja] ‘lengan’ tiru {tru} ‘tru
tumbas {tumbas] ‘bell’
rungki {runki) ‘sarung keris’
‘pundak [punda?] ‘pundak’
Alofon [u] dari fonem /u/ juga muncul
pada suku kata tertutup yang mempunyai
nilai rasa, seperti
duh [dun] ‘aduh’
aduh [aduhj ‘aduh’
2) Alofon [U}
Alofon [U] muncul jika /u! berdistribusi
pada suku kata tertutup, contoh:
ayun [ayUn] ‘lepas’ bhukti
‘makanan’
duk [dU] ‘uk’ durjana [dUrjana] ‘jahat’
gélung {g@lUn] ‘sanggul’ —puspita
[pUspita] ‘bunga’
[bhUkti]
58
Humaniora No.10 Januari — April 1999Marsono
d. Alofon vokal tinggi /i/
Fonem vokal tinggi belakang /i/) mem-
punyai dua alofon. Pertama, diucapkan de-
ngan meninggikan bagian belakang lidah,
bentuk bibir dalam keadaan bulat, jarak
bagian belakang lidah dengan langit-langit
dekat sehingga strikturnya tertutup, yang
terjadi bunyi [i]. Kedua, diucapkan dengan
bagian lidah belakang diletakkan dalam po-
sisi lebih rendah sedikit daripada alofon [i],
bentuk bibir dalam keadaan bulat, jarak li-
dah dengan langit-langit agak dekat sehing-
ga striktumya semi tertutup, yang terjadi
bunyi [0]. Ketinggian lidah bagian belakang
dalam mengucapkan bunyi [0] dan [i] se-
dikit lebih tinggi daripada [u) dan [U]
1) Alofon [a]
Alofon [i] muncul jika /i/ berdistribusi
Pada suku kata terbuka, contoh:
‘jiti (ati) ‘cepat’ siba [sibi) ‘mandi’
aia [kala] ‘tepi’ rémpa {rémpii] ‘hanour’
musika [misika] ‘tikus’ duda [dudi]
‘bukan’
mila {miila] ‘akar’ rurd [ruri] ‘gugur’
2) Alofon [0]
Alofon [0] muncul jika /a/ berdistribusi
pada suku kata enti:
sep
tia (tOt] ‘turut’ alam [alm] ‘layu’
sup [sUp] ‘masuk’ aram [arCm] ‘harum’
marti [mOrti] ‘penjelmaan’ —tambif
[tambO}] ‘sekapur sirih’
pirwaka [pUrwaka] ‘permulaan’ turan
fturOnj ‘turun’
2. Vokal Madya
Fonem vokal madya dalam bahasa
Jawa Kuna berjumiah empat buah, yaitu vo-
kal madya depan tak bulat semi-tertutup /el,
vokal madya tengah tak bulat semi-terbuka
1, 0/, dan vokal madya belakang bulat
semitertutup /o/. Alofon keempat fonem itu
menurut distribusi dan lingkungannya se-
pertiterlihat di bawah ini.
a. Alofon vokal madya /e/
Fonem vokal madya depan /e/ mem-
punyai dua alofon. Pertama, diucapkan de-
gan cara meletakkan bagian depan lidah
dalam posisi madya, bentuk bibir tidak bu-
lat, jarak lidah dengan langit-langit agak de-
kat sehingga strikturnya semi-tertutup, yang
terjadi bunyi (e]. Ketinggian lidah bagian de-
pan dalam mengucapkan bunyi [e] ini se-
dikit lebih rendah daripada bunyi {i}. Kedua,
diucapkan dengan cara meletakkan bagian
depan lidah dalam posisi madya, tetapi le-
bih rendah sedikit daripada bunyi [e], ben-
tuk bibir tidak bulat, jarak lidah dengan la-
ngittangit agak jauh sehingga strikturnya
semi-terbuka, yang terjadi adalah bunyi[e].
1) Alofon [e]
Alofon [e) dapat muncul apabila /e/ ber-
distribusi pada suku kata terbuka atau ter-
tutup, contoh:
ena [ena] ‘agar Juse {luse] ‘turun’
hema [hema] ‘emas’ made [made]
ipeitieoa
cetana [cetana] ‘akal’ bale [bale]
“bangsal’
kewala [kewala] ‘hanya’ [sare] [sare]
‘lereng’
pendah [pendah] ‘indah’ wes'ma
[wesma} ‘rumah’
gempor [gempor] ‘gempor’ rempong
[rempon] ‘pincang’
2) Alofon [e]
Alofon [e] dapat muncul apabila /e/ da-
Jam distribusi terbuka atau tertutup, contoh:
ceti [cet] ‘dayang-dayang’ celeng [celen]
‘celeng’
hetu [hétu] 'sebab’ bebek [bebe?) ‘tik’
ewer [ewer] ‘sebar’ dede [dedel] ‘lepas’
wet [wet] ‘sebab’ raden [raden] ‘gelar’
hertali (hertali) ‘air terjun’
waneh [waneh] ‘yang lain’
jengkel jenkell ‘lumpuh’ rendeng
[renden] ‘jamur :
b. Alofon vokal madya [é]
Fonem vokal madya tengah /é/ hanya
mempunyai satu alofon, yaitu diucapkan
dengan cara meletakkan bagian tengah li-
dah dalam posisi madya, bentuk bibir tidak
bulat, jarak bagian tengah lidah dengan la-
ngitlangit agak jauh sehingga strikturnya
semi-terbuka, yang terjadi adalah bunyi [@].
Alofon [@] ini bisa terjadi apabila distribusi
pada suku kata terbuka atau tertutup, se-
pert:
bun [bun] ‘embun’ fawé [lawé] ‘lama’
bécik [bécl?} 'baik’ réngé [réné] ‘dengar
hémas [hémas] ‘émas’ gégé [gegé]
‘percaya’
‘Humaniora No. 10 Januari- April 1999
59Marsono
drés [drés] ‘deras’ cangkém [cankém]
‘mulut’
éndut [endUt] ‘lumpur’ gamé/ [gamel]
‘pegang’
nti [@nti] ‘habis’ halép {halép] ‘indah’
¢, Alofon vokal [6]
Fonem vokal madya tengah panjang /6/
hanya mempunyai satu alofon, yaitu di-
ucapkan dengan cara meletakkan bagian
tengah lidah dalam posisi madya, bentuk bi-
bir tidak bulat, jarak bagian tengah lidah de-
ngan langit-langit agak jauh sehingga strik-
turnya semi-terbuka, yang terjadi adalah
bunyi [6]. Alofon [6] diucapkan lebih pan-
jang daripada [@] dan dapat terjadi apabila
berdistribusi pada suku kata terbuka atau
tertutup, contoh:
686 [6s6] ‘lahir’ hénd [hénd] ‘celup’
poyéh [pdyéh] ‘kencing’ pard [pard)
‘dekat’
sésér [sésér] ‘putar’ I6y6 [ley9} ‘licin’
g6ng [g6n] ‘besar’ ingot [indt] ‘ingat’
pongpong [pénpsn) ‘giat’ kétér [kétér]
‘gemetar’
d. Alofon vokal madya /o!
Fonem vokal madya belakang /o/ mem-
punyai dua alofon. Pertama, diucapkan de-
gan cara meletakkan bagian belakang li-
dah dalam posisi madya, bentuk bibir bulat,
jarak bagian belakang lidah dengan langit-
langit agak dekat sehingga strikturnya semi
tertutup, yang terjadi adalah bunyi [o]. Ke-
dua, diucapkan dengan cara meletakkan
bagian belakang lidah dalam posisi madya,
tetapi lebih rendah sedikit daripada bunyi
[o], bentuk bibir bulat, jarak lidah dengan
angit-langit agak jauh’ sehingga strikturnya
semi-terbuka, yang terjadi adalah bunyi (0).
1) Alofon fo]
Alofon {0} ini dapat muncul apabila /o!
berdistribusi pada suku kata terbuka atau
tertutup, contoh:
olan [olan] ‘ulat siwo [siwo] ‘canda’
pora [pora] ‘rakyat’ jéro [jéro] ‘dalam’
soma [soma] ‘bulan’ kapo [kapo] ‘jadi
folita [lolita] ‘gelisah’ go [go] ‘lembu’
‘mokta [mokta] 'bebas’ bhoh [bhob] ‘mari’
gost [gost] ‘rapat’ op [op] ‘peduli’
bhokta [bhokta] 'penikmat’
hop {hop] ‘hop’ (kata seru)’
2) Alofon [0]
Alofon [0] dapat muncul apabila /o/ ber-
distribusi pada suku kata terbuka atau ter-
tutup, contoh:
kori {kOri] ‘pintu’ kokoh [kOkOh] ‘nasi
kuah’
4g22! VOI] ‘kesuburan rondon rOndOn}
oe {mOni] ‘diam’ fégor {t8gOr] ‘tebang”
kontén [kOntén] ‘pintu’ cor [cOr]
‘sumpah’
tonton [tOntOn] ‘lihat’ pingsor {pinsOr]
‘ke bawaht
botrawi [bOtrawi] ‘dinding batu’ gépok
[g@p0?] ‘sentuh’
3. Vokal Rendah
Fonem vokal rendah dalam bahasa
Jawa Kuna berjumlah dua, yaitu vokal ren-
dah tengah tidak bulat terbuka pendek /a/
dan vokal rendah tengah tidak bulat semi
terbuka panjang /a/. Disebut vokal rendah
tengah tidak bulat terbuka karena fonem /al
realisasi alofonnya diucapkan dengan mele-
takkan bagian depan lidah dalam_posisi
rendah ke tengah, bentuk bibir tidak bulat,
jarak lidah dengan langit-langit jauh sehing-
ga strikturnya terbuka, yang terjadi bunyi
[a]. Kedua, disebut vokal rendah tengah ti
dak bulat semi-terbuka karena fonem /a/ re-
alisasi alofonnya diucapkan dengan me-
letakkan bagian depan lidah dalam posisi
rendah ke tengah, bentuk bibir tidak bulat,
jarak fidah dengan langit-langit agak jauh
sehingga strikturnya semi-terbuka, yang ter-
jadi adalah bunyi [i]. Alofon kedua fonem
itu menurut distribusinya seperti di bawah
ini,
a. Alofon vokal rendah /al
Fonem vokal rendah tengah /af hanya
mempunyai satu alofon, yaitu diucapkan
dengan cara meletakkan bagian depan |i-
dah dalam posisi rendah ke tengah, bentuk
bibir tidak bulat, jarak lidah dengan langit-
langit jauh sehingga strikturnya terbuka,
yang terjadi bunyi [a]. Alofon [a] ini dapat
terjadi dalam distribusi suku kata terbuka
atau tertutup, contoh:
aba [aba] ‘suara’ cora [cora) ‘pencuri’
bahu [bahu] ‘pundak' dewa [dewa]
‘dewa’
‘Humaniora No.10 Januari ~ April 199920
Depan
ats
tame {
oe
tes
tavsaya {
tawah
tos
terendn {
Dawah
Keterangsnr:
5 Suir Gara tach dengen lengtengt)
acala [acala] ‘gunung’ kara [kara]
‘telinga’
sah [sah] ‘pisah’
‘mihat [mihat] ‘melihat?
Jampi {jampil ‘obat’ mah [lémah] ‘bum!
‘nandaka (nandaka] ‘berkah’ wilah [wilah]
‘bilah’
b. Alofon vokal rendah /a/
Fonem vokal rendah tengah /a/ hanya
mempunyai satu alofon, yaitu diucapkan
dengan cara meletakkan bagian depan |i-
dah dalam posisi rendah ke tengah, bentuk
bibir tidak bulat, jarak fidah dengan tangit-
langit agak jauh sehingga strikturnya semi-
terbuka, yang terjadi adalah bunyi [4]. Alo-
fon (i] dapat muncul apabita fonem fa/ ber-
distribusi pada suku kata terbuka atau ter-
tutup, contoh:
jata (jata] ‘matahari’ kala {kala} ‘jerat’
Jawan lawan] ‘dengan’ nana [nana]
‘hancur’
manasa
[usadhaf'obat’
di [adi] ‘pertama’ uld [ula] ‘ular’
rat [rat] ‘dunia’ manang [manaq] ‘emas’
kanti (kanti] ‘cahaya’ hémas [hémas]
‘emas’
bhaskara [bhiskara] ‘matahari saksit
[siksat] ‘jelas’
karmuka [karmuka] ‘busur’ awas [awas]
‘terang’
[manasa] ‘hat’ usadha
Dari uraian fonem-fonem vokal beserta
alofon-alofonnya di atas dapat dibuat bagan
alofon bahasa Jawa Kuna seperti dalam
bagan dua berikut.
Belakang
3a Tertutup
‘Sb Semitertutup
3. Semiterbuka
3d Terbuke
3. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat di-
ketahui bahwa jumlah fonem vokal dalam
bahasa Jawa Kuna ada 10 buah, Kese-
puluh fonem itu dapat berdistribusi pada
awal, tengah, dan akhir kata. Kemungkinan
alofon-alofon kesepuluh fonem itu dapat di-
buat ringkasan seperti dalam bagan 3 di
bawah ini.
Bagand
\Vokal dan Alofon Bah asa Jawa Kuna dalam Distibusi
a Tor
[SoRTrEKE—}
i
:
fe}
Daftar Pustaka
Hockett, Charles F. 1958. A Course in
Modern Linguistics. _ Macmillan
Publishing Co., INC: New York.
Hyman, Larry M. 1975. Phonology Theory
and Analysis. Holt, Rinehart and
Winston: NewYork Chicago San
Humaniora No. 10 Januari April 1999
61Marsono
Francisco Atlanta Dallas Montreal
Toronto London Sydney.
Mardiwarsito, L. 1978. Kamus Jawa Kuna
(Kawi) — Indonesia Nusa Indah:
Ende - Flores.
dan Harimurti Kridalaksana. 1984.
Struktur Bahasa Jawa Kuna. Nusa
Indah: Ende - Flores.
Marsono. 1993/1994. “Sistem Konsonan
dalam Bahasa Jawa Kuna’. Laporan
Penelitian Fakultas Sastra Universi-
tas Gadjah Mada Yogyakarta.
——. 1994/1995. “Sistem Vokal dan Mor-
fofonemik dalam Bahasa Jawa
Kuna". Laporan Penelitian Fakultas
Sastra Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta.
Poedjosoedarmo dkk., Soepomo. 1979.
‘Morfologi Bahasa Jawa Pusat Pem-
binaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Ke-
budayaan Jakarta.
Prawirasuganda, A. dan S. Sauni, 1954.
Kitab Peladjeran Bahasa Djawa
Kuna Dilid |. Masa Baru: Bandung.
Ramian, M. 1987a. /Imu Bahasa Indonesia
Morfologi Suatu Tinjauan Deskripti.
C.V. Karyono: Yogyakarta.
1987b. limu Bahasa Indonesia
Sintaksis. C.V. Karyono: Yogyakarta
Uhlenbeck, E.M. 1949. De Structuur van
het Javaanse Morpheem. Koninklijk
Bataviaasch © Genootschap van
Kunsten en Wetenschappen, Ver-
handelingen Deel LXXVIII, A.C. Nic
& Co: Bandung.
——. 1964. A Critical Survey of Studies
on the Languages of Java and
Madura. Martinus Nijhoff: ‘s-
Gravenhage.
Zoetmulder, P.J. dan LR. Poedjawijatna.
1961. Bahasa Parwa Tatabahasa
Djawa Kuno | Bentuk Kata. Obor:
Djakarta.
1982. Old Javanese - English
Dictionary. Martinus Nijhoff: ‘s-
Gravenhage.
62
‘Humaniora No.10 Januari ~ April 1999