View metadata, citation and similar papers at core.ac.
uk brought to you by CORE
provided by Portal Jurnal Universitas Serang Raya
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
The Role of the Regulations in Indonesia State System
Rokilah
Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Serang Raya, Serang, Banten.
Email : [email protected]
Info Artikel:
| Submission : 28 April 2020 | Revisions : 10 Mei 2020 | Accepted : 8 Juni 2020
: 18 Mei 2020
: 6 Juni 2020
Abstrack
In the current era of globalization, when national borders are no longer clear, the existence of
written law (jus scriptum), especially in the field of legal studies, namely legislation, has become a
basic human need in efforts to achieve justice, peace and legal certainty. Based on the background
of the problem, the formulation of the problem is: 1) how the role of legislation in the Indonesian
constitutional system; 2) the function of legislation in the formation of national law. This study uses
normative juridical research methods that are qualitative in nature. The data source used is
secondary data sources, while the method of collecting data in researching research objects is
library data obtained through library research. The results of this study illustrate that the role of
legislation is increasingly important as a claim for the principle of legality as one of the
characteristics of the rule of law, and the function of legislation confirms that the laws and
regulations contain government policies primarily as a means of legitimacy for the government to
run the government.
Keywords : Statutory Regulations; Rule of Law; Indonesian State Administration.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
29
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
A. PENDAHULUAN
Negara Indonesia adalah negara Hukum dalam Pasal 1 Ayat (3) UUD 1945; rumusan
pasal ini mempunyai Filosofi konsep bernegara yang memberikan ruang kepada hegemoni
hukum atau kedaulatan hukum (supremacy of Law) yang artinya dalam hehidupan bernegara
dalam konteks ke Indonesiaan, satu hal yang harus ditegakkan adalah kehidupan hukum dalam
masyarakat. Dalam paham Negara hukum, Indonesia telah menempatkan hukum di atas manusia,
bahkan bahkan di atas pembuat hukum itu sendiri. Maka hukum sepatutnyalah melandasi seluruh
penghidupan manusia Indonesia, baik dari kehidupan sosial, politik agama dan budaya.1
Penggunaan prinsip “Negara Hukum” di Indonesia terlepas dari apakah prinsip yang
dilaksanakan di Indonesia sama dengan konsep dari makna Rechtsstaat-nya. Eropa Kontinental;
atau rule of law nya Anglo Saxon, akan tetapi Indonesia sudah menetapkan prinsip menjalankan
kehidupan bernegaranya didasarkan atas hukum. Suatu prinsip bernegara, yang idealnya tentu
saja tidak hanya didasarkan pada produk hukum tetapi juga dinilai dari kualitas penegakan
hukumnya.2 Peraturan perundang-undangan sebagai hukum yang tertulis yang diberi bentuk
sejak awal diharapkan bahwa dalam pelaksanaannya akan memberikan kepastian hukum.
Disadari bahwa suatu hukum tertulis mengandung banyak kelemahan, tetapi juga memiliki
kelebihan dibanding dengan hukum yang tidak tertulis. Peranan peraturan perundang-undangan
semakin penting sebagai tuntutan asas legalitas sebagai salah satu ciri negara hukum. Dalam
Negara kesejahteraan modern, tatkala menyusun suatu rencana, peraturan perundang-undangan
semakin penting baik sebagai kerangka rencana itu sendiri, maupun sebagai instrumen pemandu
dalam melaksanakan suatu rencana.3
Dalam kaitannya dengan hukum tertulis (peraturan perundang-undangan), maka harus
dipahami pula bahwa hakikat hukum adalah juga merupakan hakikat peraturan perundang-
undangan. Sangat disadari bahwa Hukum tidak identik dengan Peraturan perundang-undangan,
karena disamping peraturan perundang-undangan sebagai hukum tertulis ditemukan juga hukum
yang tidak tertulis yang berlaku dalam masyarakat. Banyak pihak (terutama para ahli yang
berpikiran sosiologis dan historis) menganggap bahwa hukum tidak tertulis ini yang
sesungguhnya pencerminan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat karena berkembang seiring
dengan perkembangan masyarakatnya.4
Peraturan perundang-undangan sebagai hukum tertulis yang cenderung kearah
positivisme, dibuat secara sadar oleh lembaga yang memiliki otoritas untuk itu. Dalam perjalan
keberlakuannya, hukum yang tertulis tidak berjalan searah dengan nilai yang hidup dan
berkembang di dalam masyarakat, atau tidak mampu mengikuti perkembangan masyarakat.
Kelemahan-kelemahan hukum tertulis yang demikian, oleh para pemerhati hukum dibidang
1
Noor Tri Hastuti, Mengukur Derajat Jenis Dan Fungsi Dalam Hirarkii Peraturan Perunang-undangan (Pasal 7 (4)
Undang-Undang No.10 Tahun 2004 Tentang Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, (Jurnal
Prespektif: Surabaya, 2007), Volume XII No. 3 Tahun 2007 Edisi September), hlm. 197.
2
Ibid.,
3
Jalaluddin, Hakikat Dan Fungsi Peraturan Perundang-Undangan Sebagai Batu Uji Kritis Terhadap Gagasan
Pembentukan Perda Yang Baik, Jurnal Aktualita (Bandung, Penerbit Pascasarjana Unisba, 2011) Vol 6, No 3 , 2011,
hlm.7-8.
4
Ibid., hlm.4.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
30
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
perundang-undangan mengarahkan pikirannya pada segi pembentukan peraturan perundang-
undangan.5
Melihat fungsi undang-undang sebagai sistem hukum dan pengaruhnya terhadap pola
prilaku, peraturan-peraturan dipersiapkan oleh para penyusun rancangan pola perilaku yang
seharusnya dilakukan. Dalam menciptakan suatu lingkungan yang mendukung proses
pembangunan maka tugas undang-undang yang paling penting adalah memberi petunjuk atau
pengarahan pada perilaku kearah yang baru atau tujuan yang diharapkan. Fungsi peraturan
perundang-undangan menegaskan bahwa peraturan perundang-undangan berisi kebijakan
pemerintah (rencana) yang ingin dicapai, untuk menjawab berbagai kepentingan masyarakat dan
terutama sebagai sarana legitimasi bagi pemerintah untuk menjalankan pemerintahan.6
Berdasarkan uraian gambaran masalah di atas maka penulis, merumuskan masalah tentang
peranan peraturan perundang-undangan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia dan fungsi
peraturan perundang-undangan dalam pembentukan hukum nasional.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif yang bersifat kualitatif,
yaitu penelitian yang mengacu pada norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-
undangan dan putusan pengadilan serta norma-norma yang hidup dan berkembang dalam
masyarakat. Penelitian ini bersifat deskriptif analistis, yang mengungkapkan peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian.7
Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah sumber data sekunder. Data sekunder,
yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan
objek penelitian, hasil penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan peraturan
perundang-undangan. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah data
kepustakaan yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan yang bersumber dari peraturan
perundang-undangan, buku-buku, dokumen resmi, publikasi, dan hasil penelitian.8
C. KERANGKA KONSEPTUAL
1) Pengertian Peraturan Perundang-undangan
Kata perundang-undangan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan
sebagai yang bertalian dengan undang-undang atau seluk beluk undang-undang. Sedangkan
kata undang-undang diartikan ketentuan-ketentuan dan pearturan-peraturan negara yang
dibuat oleh pemerintah (menteri, badan legisatif, dsb.) disahkan oleh parlemen (dewan
perwakilan rakyat, badan legislatif, dsb.) ditandatangani oleh kepala negara (presiden, kepala
peemrintah, raja) dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.9
5
Ibid., hlm.4-5.
6
Ibid., hlm.9.
7
Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), hlm.105-106.
8
Ibid., hlm 106-107.
9
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Keempat, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal.1527-1528.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
31
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
Dalam teknis hukum (yuridis), kata/istilah peraturan perundang-undangan merupakan
terminologi hukum yang mempunyai pengertian sendiri. Apabila kata/istilah tersebut
merupakan terjemahan dari kata wetgeving atau wettelijke regelingen, maka menurut A.
Hamid S.A yang mengutip Kamus Hukum Fockema Andreae, kata wetgeving diarrtikan: 1)
perbuatan membentuk peraturan-peraturan negara tingkat pusat atau tingkat daerah menurut
tata cara yang ditentukan; 2) keseluruhan peraturan-peraturan negara tingkat pusat dan tingkat
daerah. Sedangkan kata wettelijke regelingen diartikan sebagai peraturan-peraturan yang
bersifat perundang-undangan.10
Apabila istilah peraturan perundang-undangan merupakan terjemahan wettelijke
regelingen ia lebih sempit karena tidak termasuk wetten (undang-undang) dan AmvB
(tindakan umum pemerintah yang ditetapkan dengan Koninklijk Besluit (KB), AmvB ini
kadang di Indonesia diterjemahkan dengan peraturan pemerintah) yang dibuat di Belanda dan
ordonasi yang dibuat di Hindia Belanda. Apabila peraturan perundang-undangan merupakan
terjemahan dari algeme verordeningen ia lebih luas karena mencakup undang-undang (wet),
peraturan pemrintah (AmvB), dan ordonasi.11 Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dirumuskan pengertian Peraturan
Perundang-undangan dalam Pasal 1 angka 2, yaitu Peraturan Perundang-undangan adalah
peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau
ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang
ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan.
2) Paham Negara Hukum
Istilah rechtsstaat diberikan oleh ahli-ahli hukum Eropa Barat Kontinental atau rule of
law diberikan oleh kalangan ahli Anglo Saxon, rechtsstaat atau rule of law yang di Indonesia
diterjemahkan dengan “negara hukum” ini pada masa abad ke-19 sampai abad ke-20 disebut
negara hukum klasik (formal) dengan ciri-ciri sendiri. Friedrich Julius Stahl dari kalangan ahli
hukum Eropa Barat Kontinental memberikan ciri-ciri rechtsstaat sebagai berikut: a) hak-hak
asasi manusia; b) pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak asasi
manusia; c) pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan; dan d) peradilan administrasi
dalam perselisihan.12 Sedangkan AV Dicey dari kalangan ahli Anglo Saxon memberikan ciri
rule of law sebagai berikut: a) supremasi hukum; b) kedudukan yang sama di depan hukum;
c) terjaminnya hak-hak manusia dalam undang-undang dan keputusan-keputusan pengadilan.
Gagasan baru ini biasanya disebut sebagai gagasan welfare state atau Negara Hukum
Material (dinamis), adapun negara hukum ciri utamanya adalah perluasan tugas pemerintahan
yang tidak boleh bersifat pasif. Dalam welfare state ini faktor kemandirian negara lebih
menonjol daripada faktor kenetralan negara, sehingga negara tidak terikat lagi pada gagasan
pluraslisme tetapi juga mendekati organisme.13 Menurut E. Utrecht, untuk menentukan
10
Has Natabaya,Sistem Peraturan Perundang-undangan Indonesia,(Jakarta: Konitusi Press dan Tatanusa, 2008),
hlm.15-16.
11
Ibid., hlm.17.
12
Moh, Mahfud MD, Dermokrasi dan Konstitusi di Indonesia:tudi tentang Interaksi Politik dan Kehidupan
Ketatanegraan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003) hlm.27-28.
13
Ibid., hlm.29-30.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
32
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
apakah suatu negara dapat dikategorikan sebagai negara hukum, biasanya digunakan dua
macam asas, yaitu 1) asas legalitas; dan 2) asas perlindungan atas kebebasan setiap orang dan
atas hak-hak asasi manusia. Asas pertama menunjukkan bahwa semua tindakan negara harus
berdasarkan dan bersumber pada undang-undang. Sedangkan asas kedua memberikan
pemahaman bahwa hak-hak tersebut yang sudah ada sejak orang dilahirkan, perlu mendapat
perlindungan secara tegas dalam negara hukum modern.14
3) Aliran Positivisme Hukum
Positivisme adalah suatu aliran dalam filsafat (teori) hukum, yang beranggapan,
bahwa teori hukum itu hanya bersangkutpaut dengan hukum positif saja. Ilmu hukum tidak
membahas apakah hukum positif itu baik atau buruk, dan tidak pula membahas soal
efektivitasnya hukum dalam masyarakat.15 Positivisme mengembangkan paham empirik
dengan mengatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu positif atau sains,
yaitu ilmu-ilmu yang berangkat dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat.
Positivisme kental dengan ide pendokumenan dan pemformulan hukum dalam wujud
statutoiness of law dan bureucratic law. Hukum menurut model ini adalah serba keteraturan
dan kepastian hukum.16 Positivisme hukum melihat bahwa yang terutama dalam hukum
adalah fakta bahwa hukum diciptakan dan diberlakukan oleh orang-orang tertentu dalam
masyarakat yang mempunyai kewenangan untuk membuat hukum. Aliran ini berpandangan
hukum identik dengan undang-undang, yaitu aturan yang berlaku. Hukum merupakan
perintah penguasa dan kehendak dari negara.17
D. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Peranan Peraturan Perundang-Undangan Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia
Sistem perundang-undangan suatu negara tidak terlepas dari sistem hukum yang
berlaku di suatu negara, karena peraturan perundang-undangan sebagai hukum tertulis
merupakan esensi atau bagian penting dalam sistem hukum dari negara hukum yang
demokratis.18 Untuk itu, sistem hukum perlu dibangun (law making) dan ditegakkan (law
enforcing), sebagaimana mestinya, dimulai dengan konstitusi sebagai hukum paling tinggi
kedudukannya.19 Pembentukan instrumen hukum oleh suatu lembaga atau badan harus
terlebih dahulu mendapat pelimpahan kewenangan atau mandat pelimpahan kewenangan
dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang dinyatakan dalam peraturan
14
Putera Asmoto, Ilmu Perundang-undangan; Teori dan Praktik di Indonesia,(Depok:Rajawali Pers, 2018), hlm.31-32.
15
Neni Sri Imaniyati, Pengaruh Paradigma Positivisme Terhadap Teori Hukum Dan Perkembangannya, Jurnal
Mimbar, (Bandung: Universitas Islam Bandung, 2003), Volume XIX No. 3 Juli – September 2003, hlm. 266-268.
16
Agus Riwanto, Mengembangkan Paradigma Sistem Hukum Dari Positivisme ke Konstruktivisme (Sebuah Tawaran
Sistem Hukum Masa Depan Dari Perspektif Filsafat Hukum), Jurnal Kertha Patrika, (Denpasar: Fakultas Hukum
Universitas Udayana, 2016), Volume 38, Nomor , Januari-April 2016, hlm.105.
17
Suparman Usman, Pokok-Pokok Filsafat Hukum, (Serang: Suhud Sentrautama, 2010), hlm. 108-109.
18
Delfina Gusman dan Andi Nova, Kedudukan Ketetapan MPR Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2011 Tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Jurnal Dinamika Hukum (Purwokerto: Faculty of Law, Universitas
Jenderal Soedirman, 2012), Vol 12, No 3, 2012, hlm.440.
19
Ibid., hlm.437.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
33
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
perundang-undangan yang bersangkutan, baik bentuk instrumen hukum yang akan dibuat
maupun batasan substansi materi muatan yang akan dibentuk.20
Pada zaman sekarang ini, peraturan perundang-undangan adalah salah satu instrumen
kebijakan negara yang dibuat untuk menyelesaikan masalah baik yang sudah, sedang, atau
kemungkinan terjadi di masa depan yang bersifat antisipasi atau prospektif. Sebagai salah satu
instrumen kebijakan negara, peraturan perundang-undangan mempunyai kelebihan dan
kelemahan. Kelebihannya, sebagai bagian dari hukum tertulis, peraturan perundang-undangan
lebih dapat menimbulkan kepastian hukum, mudah dikenali, dan mudah membuat dan
menggantinya kalau sudah tidak diperlukan lagi atau tidak sesuai lagi. Kelemahannya, kadang
suatu peraturan perundang-undangan bersifat kaku (rigid) dan ketinggala zaman karena
perubahan di masyarakat begiu cepat. Di samping itu karena peraturan perundang-undangan
adalah produk politis karena dibuat oleh lembaga politik dalam pembentukannya terjadi
tawar-menawar (political bargaining), sehingga peraturan perundang-undangan yang
dihasilkan kadang atau tidak mencerminkan kepentingan umum.21
Hukum tertulis menduduki peranan penting dalam sistem hukum Eropa Kontinental,
hukum tertulis diwujudkan di dalam peraturan perundang-undangan berupa aturan-aturan
yang dibuat oleh yang berkuasa. Peranan peraturan perundang-undangan di Indonesia dari
hari ke hari semakin besar. Sebab-sebab peranan peraturan perundang-undangan makin besar,
disebabkan oleh beberapa hal antara lain: 1) peraturan perundang-undangan merupakan
kaidah hukum yang mudah dikenal (diidentifikasi), mudah diketemukan kembali, dan mudah
ditelusuri. Sebagai kaidah hukum tertulis, bentuk, jenis dan tempatnya jelas. Begitu pula
pembuatnya; 2) peraturan perundang-undangan memberikan kepastian hukum yang lebih
nyata karena kaidah-kaidahnya mudah diidentifikasi dan mudah diketemukan kembali; 3)
struktur dan sistematika peraturan perundang-undangan lebih jelas sehingga memungkinkan
untuk diperiksa kembali dan diuji baik segi-segi formal maupun materi muatannya; 4)
pembentukan dan pengembangan peraturan perundang-undangan dapat direncanakan. Faktor
ini penting bagi negara-negara yang sedang membangun sistem hukum baru yang sesuai
dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Jumlah peraturan perundang-undangan di
Indonesia yang semakin bertambah menunjukkan semakin besar peranan peraturan
perundang-undangan. Hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya peraturan perundang-
undangan yang tidak sedikit setiap tahun apalagi jika dihitung sejak Indonesia merdeka.22
2. Fungsi Peraturan Perundang-Undangan Dalam Pembentukan Hukum Nasional
Hukum nasional adalah semua hukum yang berlaku di wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia baik berupa hukum tertulis maupun tidak tertulis. Peraturan perundang-
undangan adalah salah satu bentuk hukum tertulis yang ada. Peraturan perundang-undangan
dan proses pembentukannya memerankan fungsi signifikan dalam pembangunan hukum
20
Zaelani, Pelimpahan Kewenangan Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Delegation Of Authority
The Establishment Of Legislation Regulation), Jurnal Legislasi Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan
Perundang-undang, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,2012), Vol 9, No 1, Maret 2012, hlm.121-122.
21
Has Natabaya, op.cit., hlm.3-4.
22
Rachmat Trijono, Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan, (Depok: Papas Sinar Sinanti, 2013), hlm.
43-44.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
34
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
nasional. Hal ini dikarenakan, di Indonesia, peraturan perundang-undangan merupakan cara
utama penciptaan hukum, peraturan perundang-undangan merupakan sendi utama sistem
hukum nasional. Selain itu, Peraturan perundang-undangan merupakan instrumen yang sangat
efektif dalam pembaharuan hukum (law reform) karena kekuatan hukumnya yang mengikat
dan memaksa. Peraturan perundang-undangan juga memberikan kepastian hukum yang lebih
tinggi dari pada hukum kebiasan, hukum adat, atau hukum yurisprudensi.23
Pembentukan hukum nasional dapat diartikan dengan pembentukan hukum tidak
tertulis yang berwujud hukum kebiasaan dan hukum adat yang berlaku dalam kehidupan
masyarakat adat, dapat juga diartikan dengan pembentukan hukum yang tertulis, yang
dibentuk oleh lembaga yang berwenang, yang berwujud peraturan perundang-undangan yang
bersifa legislatif maupun bersifat administratif. Hukum tertulis selain merupakan wahana bagi
hukum baru yang dibentuk setelah Indonesia merdeka dalam rangka memenuhi kebutuhan
kehidupan kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan yang senantiasa berkembang, juga
untuk menjembatani antar lingkup laku aneka adat dan hukum tidak tertulis lainnya, atau
untuk mengatasi kebutuhan kepastian hukum tidak tertulis dalam hal pihak-pihak
menghendakinya.24
Pengembangan ilmu bidang perundang-undangan dapat mendorong fungsi
pembentukan peraturan perundang-undangan yang sangat diperlukan kehadirannya, oleh
karena di dalam negara yang berdasar atas hukum modern, tujuan utama dari pembentukan
peraturan perundang-undangan bukan lagi menciptakan kodifikasi bagi norma-norma dan
nilai-nilai kehidupan yang sudah mengendap dalam masyarakat, akan tetapi tujuan utama
pembentukan peraturan perundang-undangan itu adalah menciptakan modifikasi atau
perubahan dalam kehidupan masyarakat. Untuk menghadapi perubahan dan perkembangan
kebutuhan masyarakat yang semakin cepat, sudah bukan saatnya mengarahkan pembentukan
hukum melalui penyusunan kodifikasi. Karena pemikiran tentang kodifikasi hanya akan
menyebabkan hukum selalu berjalan di belakang dan bukan tidak mungkin selalu ketinggalan
zaman.25
Menurut A. Hamid Attamimi bahwa dalam konteks pembentukan Hukum Nasional,
terdapat 3 fungsi utama Ilmu Perundang-undangan, yaitu: 1) untuk memenuhi kebutuhan
hukum dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang senantiasa
berkembang; 2) untuk menjebatani lingkup hukum adat dengan hukum yang tidak tertulis
lainnya; atau 3) untuk memenuhi kebutuhan kepastian hukum tidak tertulis bagi masyarakat.26
Pembentukan hukum nasional dimaksudkan adalah pembentukan peraturan perundang-
undangan nasional yang merupakan produk pembentuk undang-undang (badan legislatif)
23
Mia Kusuma Fitriana, Peranan Politik Hukum Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia
Sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Negara (Laws And Regulations In Indonesia As The Means Of Realizing The
Country’s Goal), Jurnal Legislasi Indonesia (Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undang,
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2015), Vol 12, No 2 Juni 2015, hlm.9-10.
24
Maria Farida Indarti S, Ilmu Perundang-undangan: Jenis, Fungsi dan Materi Muatan, (Yogyakarta: Kanisius, 2007).
hlm.14-15.
25
Ibid., hlm.2-3.
26
Evi Noviawati, Landasan Konstitusional Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Jurnal Ilmiah Galuh
Justisi, (Ciamis: Universitas Galuh Ciamis, 2018), Vol 6, No 1, 2018, hlm.54.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
35
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
yang didasarkan pada nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dan diakui sebagai hukum. Hal
ini terlihat dalam berbagai kehidupan manusia yang sebenarnya merupakan hukum yang
hidup dalam masyarakat, namun belum ada peraturan perundang-undangan yang
mengaturnya. Kondisi tersebut dapat dipahami karena kebutuhan manusia beragam, cepat
berubah dan berkembang, sedangkan peraturan perundang-undangan tidak mungkin dapat
menampung semua segi kehidupan manusia selengkap-lengkapnya dan sejelas-jelasnya.27
Bagir Manan mengemukakan tentang Fungsi peraturan perundang undangan yaitu
fungsi internal dan fungsi eksternal. Secara internal fungsi ini lebih berkaitan dengan
keberadaan peraturan perundang-undangan dimaksud dalam sistem hukum. Peraturan
perundang-undangan menjalankan fungsi internal sebagai berikut: 1) fungsi penciptaan
hukum (rechts chepping); 2) fungsi pembaharuan hukum; 3). fungsi integrasi: dan 4). fungsi
kepastian hukum. Sedangkan secara eksternal peraturan perundang-undangan menjalankan
fungsi sebagai berikut: 1) fungsi perubahan; 2) fungsi stabilitasi dan 3) fungsi kemudahan.
Fungsi peraturan perundang-undangan sebagaimana dikemukakan oleh Bagir Manan tersebut
di atas, menggambarkan/berkaitan dengan organ yang berwenang membuat peraturan
perundang-undangan, hukum itu sudah direncanakan, dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang
diinginkan, menegaskan lingkungan kuasa berlakunya suatu aturan hukum (perundang-
undangan), berfungsi sebagai instrumen, baik sebagai instrumen kontrol maupun sebagai
instrumen perubahan (rekayasa) masyarakat.28
E. SIMPULAN
Berdasarkan uraian dalam pembahasan tersebut maka disimpulkan bahwa Indonsia
adalah negara yang berdasarkan atas hukum dengan pengertian bahwa pola yang diambil tidak
menyimpang dari negara berdasarkan atas hukum pada umumnya (genus begrip), namun
disesuaikan dengan keadaan di Indonesia, dengan menggunakan ukuran pandangan hidup
maupun pandangan bernegara bangsa Indonesia. Oleh karena itu, segala aspek dalam
pelaksanaan dan penyelenggaraan negara diatur dalam suatu sistem peraturan perundang-
undangan. Pembentukan perundang-undangan adalah mengatur dan menata kehidupan dalam
suatu negara supaya masyarakat yang diatur oleh hukum itu memperoleh kepastian, kemanfaatan
dan keadilan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Peraturan perundang-undangan menjadi sangat penting, terutama dalam rangka
pembentukan sistem hukum nasional, sebab segala kehidupan, baik kehidupan bernegara,
kehidupan berbangsa, maupun kehidupan bermasyarakat harus didasarkan pada hukum. Artinya,
segala tindakan harus didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang sah dan tertulis.
Secara esensial peraturan perundang-undangan fungsinya adalah mengatur sesuatu substansi
untuk memecahkan suatu masalah yang ada dalam masyarakat dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat. Dengan kata lain peraturan perundang-undangan sebagai instrumen kebijakan
pemerintah dalam rangka pelayanan kemasyarakatan apapun bentuknya, apakah peetaan,
pengesahan, pencabutan, dan perubahan.
27
Putera Asmoto, op.cit., hlm.73.
28
Jalaluddin, op.cit., hlm.8.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
36
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ali, Zainuddin. Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2016.
Asmoto, Putera. Ilmu Perundang-undangan; Teori dan Praktik di Indonesia, Depok:Rajawali
Pers, 2018.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi
Keempat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Farida, Maria Indarti S, Ilmu Perundang-undangan: Jenis, Fungsi dan Materi Muatan,
Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Mahfud, Moh, MD. Dermokrasi dan Konstitusi di Indonesia:tudi tentang Interaksi Politik dan
Kehidupan Ketatanegraan, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
Natabaya, Has. Sistem Peraturan Perundang-undangan Indonesia, Jakarta: Konitusi Press dan
Tatanusa, 2008.
Trijono, Rachmat. Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan, Depok: Papas Sinar
Sinanti, 2013.
Usman, Suparman. Pokok-Pokok Filsafat Hukum, Serang: Suhud Sentrautama, 2010.
Jurnal
Agus Riwanto, Mengembangkan Paradigma Sistem Hukum Dari Positivisme ke
Konstruktivisme (Sebuah Tawaran Sistem Hukum Masa Depan Dari Perspektif Filsafat
Hukum), Jurnal Kertha Patrika, (Denpasar: Fakultas Hukum Universitas Udayana,
2016), Volume 38, Nomor , Januari-April 2016..
Delfina Gusman dan Andi Nova, Kedudukan Ketetapan MPR Berdasarkan UU No. 12 Tahun
2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Jurnal Dinamika
Hukum (Purwokerto: Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman, 2012), Vol 12,
No 3, 2012.
Evi Noviawati, Landasan Konstitusional Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan,
Jurnal Ilmiah Galuh Justisi, (Ciamis: Universitas Galuh Ciamis, 2018), Vol 6, No 1,
2018.
Jalaluddin, Hakikat Dan Fungsi Peraturan Perundang-Undangan Sebagai Batu Uji Kritis
Terhadap Gagasan Pembentukan Perda Yang Baik, Jurnal Aktualita (Bandung,
Penerbit Pascasarjana Unisba, 2011) Vol 6, No 3, 2011.
Mia Kusuma Fitriana, Peranan Politik Hukum Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-
Undangan Di Indonesia Sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Negara (Laws And
Regulations In Indonesia As The Means Of Realizing The Country’s Goal), Jurnal
Legislasi Indonesia (Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undang,
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, 2015), Vol 12, No 2 Juni 2015.
Neni Sri Imaniyati, Pengaruh Paradigma Positivisme Terhadap Teori Hukum Dan
Perkembangannya, Jurnal Mimbar, (Bandung: Universitas Islam Bandung, 2003),
Volume XIX No. 3 Juli – September 2003.
Noor Tri Hastuti, Mengukur Derajat Jenis Dan Fungsi Dalam Hirarkii Peraturan Perunang-
undangan (Pasal 7 (4) Undang-Undang No.10 Tahun 2004 Tentang Tentang
The Role of the Regulations in Indonesia State System
37
AJUDIKASI : Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 1, Juni 2020. Hlm 29-38
P-ISSN 2613-9995 & E-ISSN 2614-0179
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, (Jurnal Prespektif: Surabaya, 2007),
Volume XII No. 3 Tahun 2007 Edisi September.
Zaelani, Pelimpahan Kewenangan Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
(Delegation Of Authority The Establishment Of Legislation Regulation), Jurnal
Legislasi Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undang,
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,2012), Vol 9, No 1, Maret 2012.
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82.
The Role of the Regulations in Indonesia State System
38