0% found this document useful (0 votes)
130 views9 pages

Pengendalian Kualitas Batubara Seam 300

This document discusses coal quality control at PT Kuansing Inti Makmur's coal mine in Tanjung Belit, Jambi, Indonesia. It analyzes changes in quality parameters (total moisture, ash content, calorific value) of coal from the mining face to the stockpile and from the stockpile to buyers. The analysis found decreases in quality during transport, with the highest changes occurring from the mining face to the stockpile. Efforts are made to control quality during transport and stockpiling to meet buyer specifications. Maintaining consistent coal quality is important throughout the mining and delivery process.

Uploaded by

TimeHack Gaming
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
130 views9 pages

Pengendalian Kualitas Batubara Seam 300

This document discusses coal quality control at PT Kuansing Inti Makmur's coal mine in Tanjung Belit, Jambi, Indonesia. It analyzes changes in quality parameters (total moisture, ash content, calorific value) of coal from the mining face to the stockpile and from the stockpile to buyers. The analysis found decreases in quality during transport, with the highest changes occurring from the mining face to the stockpile. Efforts are made to control quality during transport and stockpiling to meet buyer specifications. Maintaining consistent coal quality is important throughout the mining and delivery process.

Uploaded by

TimeHack Gaming
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

ISSN: 2302-3333 Jurnal Bina Tambang, Vol .6, No.

PENGENDALIAN KUALITAS BATUBARA SEAM 300 BERDASARKAN PARAMETER


KUALITAS BATUBARA DARI FRONT SAMPAI KE BUYER DI PT KUANSING INTI
MAKMUR, JOB SITE TANJUNG BELIT, BUNGO, JAMBI

Hafiz Zakwan1*, Heri Prabowo1**


1
Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang

*hafizzakwanxtl@[Link]
**Heri.19782000@[Link]

Abstract. Coal quality control is an activity in controlling coal quality, because during the mining
process until it reaches the buyer, there is a decline in coal quality. The coal mining activity was
carried out in the west block at the East Pit of PT Kuansing Inti Makmur. This study was conducted
to determine changes in coal quality, determine what factors cause changes in coal quality, and
efforts in handling changes in coal quality with parameter values used, namely total water content
(TM), ash content (Ash), and calorific value (GCV arb). Based on the results of the analysis of coal
quality, there are changes when coal is transported to the stockpile from the front coal getting with
the highest quality change, namely at seam 300 CR3 (TM = 4.06%, ASH = 0.23%, GCV = -303
Kcal/Kg ) and seam 300 LOWER (TM = 1.70%, ASH = 0.82%, GCV = -174 Kcal/Kg). And the
results of the analysis of changes in coal quality when transported from the stockpile to the buyer
there are changes when the coal arrives at the buyer with a change value of TM = 1.64%, ASH =
0.32%, GCV = -92 Kcal/Kg.

Keyword : coal, channel pit, coal parameters, stockpile, buyer, coal delivery.

1. Pendahuluan batubara yaitu total moisture, ash content, volatile matter,


dan fixed carbon.
PT Kuansing Inti Makmur Jobsite Tanjung Belit Management Pengendalian Kualitas Batubara
merupakan anak perusahaan Sinarmas Mining Group yang Berdasarkan Parameter Kualitas Batubara merupakan
bergerak dibidang industri pertambangan batubara. PT serangkaian kegiatan dalam pengendalian mutu batubara,
Kuansing Inti Makmur (PT KIM) memproduksi batubara karena dalam prosesnya terjadi penurunan kualitas
yang terdiri dari tiga seam, yaitu seam 100, seam 200, dan batubara yaitu pada saat batubara ditambang (coal
seam 300. Untuk seam 300 sendiri memiliki 2 layer getting), kemudian penumpukan batubara dari Front
(Upper dan Lower) yang dibatasi oleh Inter Burden (IB), sampai ke stockpile dan juga sampai ke tahap pengiriman
pada seam 300 Upper terdapat beberapa pembagian layer ke buyer.
berdasarkan kualitas yaitu 300 UHS, 300 ULS, dan 300 Kualitas batubara juga dipengaruhi oleh kondisi
CR3. geologi suatu lokasi penambangan, diantaranya ada
Pembagian jenis batubara tersebut didasarkan atas batubara kualitas tinggi (higt quality), kualitas menengah
jumlah kualitas yang terkandung di dalamnya. Semakin (medium quality), dan kualitas rendah (low quality).
tinggi kandungan kalori batubara dan kandungan total Keberadaan batubara pada tiap seam memiliki kualitas dan
sulfurnya rendah maka akan semakin bagus kualitasnya. kuantitas cadangan yang berbeda-beda. Untuk mengetahui
Selain kandungan nilai kalori dan total sulfur, terdapat hal tersebut pihak perusahaan melakukan Management
beberapa parameter lain yang mempengaruhi kualitas dari Pengendalian Kualitas Batubara Berdasarkan Parameter
Kualitas Batubara guna mengontrol kualitas batubara dari

68
Front penambangan sampe ke stockpile, maka dilakukan mata biasa. Kata “bitumen” sekarang menunjukkan
pengujian beberapa metoda parameter batubara untuk beberapa zat mineral yang mudah terbakar seperti aspal,
memenuhi permintaan konsumen. tetapi tidak dipakai untuk menunjukkan kepada batubara
Selain itu pembuatan stockpile dalam menjaga lagi. Sub-bituminous mempunyai ±40% karbon terikat.
kualitas batubara juga sangat berperan penting dan c. Bituminous
memerlukan perencanaan yang matang agar pondasi dasar Merupakan batubara muda, kekerasannya hampir
stockpile tidak mengalami penurunan. Banyak faktor yang menyerupai antrasit. Batubara bituminous berisi karbon
harus diperhatikan diantaranya kondisi tanah/permukaan terikat lebih dari 70%. Zat ini mudah tersudut api yang
dasar stockpile dan geometri tumpukan batubara. Analisa berwarna kuning. Menghasilkan asap dan bau, tergantung
tinggi timbunan serta kemiringan lantai perlu dilakukan jumlah abu dan sulfur yang dikandungnya.
agar daerah stockpile tidak ada genangan air yang dapat d. Antrasit
merusak kualitas batubara. Merupakan batubara yang ditemukan pada lapisan
Batubara di PT KIM umumnya mengalami batubara metamorf yaitu pada strata batuan yang sudah
perubahan nilai parameter kualitas ketika diangkut dari terlipat selama pembentukan gunung-gunung zaman
front menuju stockpile dan stockpile menuju ke buyer, dahulu. Antrasit (dari kata Yunani “antrax” yang berarti
seperti kandungan air total, kadar abu, dan nilai kalori “batubara”. Batubara ini sedikit lembab dan mungkin
batubara. Perubahan nilai parameter kualitas batubara berisi lebih dari 90% karbon terikat, keras dan berwarna
tersebut tidak dapat dihindari, sehingga batubara harus hitam mengkilap dengan kadar air kurang dari 8%. Jika
dapat dijaga/dikendalikan agar batubara tetap sesuai dibakar menghasilkan api biru dan tidak mengeluarkan
dengan spesifikasi yang telah ditetapkan perusahaan asap serta hanya sedikit berbau karena pada dasarnya
bersama dengan konsumen/Buyer. Kaitan antara kadar abu dan sulfur nya rendah.
perubahan parameter kualitas batubara yang lain terhadap
nilai kalori batubara menjadi dasar bagi penulis untuk 2.2 Teknik Pengambilan Sampel
mengangkat penelitian ini. Proses pengambilan contoh dari tubuh material
(batubara) yang representatif untuk tes/analisis dan dipakai
2. Tinjauan Pustaka untuk mengetahui material asalnya. Berdasarkan
2.1 Jenis Batubara tempatnya sampling dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Core Samplin
Tingkat perubahan yang dialami batubara, dari lignite Sampling batubara dari borehole (drilling) memiliki
sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan perbedaan-perbedaan dengan jenis-jenis sampling yang
memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut lainnya. Dimana sample batubara pada jenis sampling ini
disebut sebagai “tingkat mutu” batubara. Menurut diambil secara mekanikal yaitu dengan core. Jadi yang
American Society For Testing and Material (ASTM), ada dimaksud dengan core sampling ini lebih ditujukan
empat jenis batubara, yaitu: bagaimana terhadap prosedur treatment atau penanganan
a. Lignite untuk sample yang telah didapat dari borehole tersebut
Merupakan batubara yang paling lunak, menunjukkan sampai sample tersebut dikirimkan ke laboratorium.
kurang lebih struktur dari zat tumbuhan asli termasuk ASTM sendiri menspesifikasikan prosedure pengambilan
unsur kayunya. Lignite (dari kata lain lignum yang berarti sample dari core ini dalam ASTM D 5192 – 95. Practice
kayu) merupakan persentase karbon terikat terendah dari for collection of coal samples from core. Core Sampling
keempat golongan itu yaitu sekitar 30%. Bentuk lignite terdiri dari : Exploration sampling, Deep drilling, Shalow
juga mempunyai kadar tertinggi zat vilatile yang mudah drilling, Pit sample, dan Pit drilling.
menguap dan lembab. Warna batubara jenis ini beraneka b. Channel Pit
ragam dari cokelat muda sampai dengan sangat tua. Channel sampling adalah pengambilan sample dari
Varietas yang berwarna cokelat disebut “batubara lapisan batubara dengan membuat torehan memanjang
cokelat”. batubara ini sangat lunak yang mengandung air menurut ketebalan batubara atau endapan bahan galian
35-75% dari beratnya. lainnya. Sample ini mewakili penampang batubara
b. Sub-bituminous menurut ketebalannya. Sample ini biasanya diambil di
Merupakan batubara lunak yang berwarna hitam dan sekitar singkapan. Sebelum melakukan penyampelan,
tidak menunjukkan sedikitpun zat kayu jika dilihat dengan

69
sumuran atau parit memanjang dibuat untuk membuka pertambangan. Cuaca yang sering hujan akan
satu sisi batubara segar. menyebabkan kandungan moisture pada batubara
c. Bulk Sampling meningkat, terutama pada batubara yang memiliki ukuran
Bulk sampling didefinisikan sebagai "proses butir kecil dan telah tertumpuk lama. Sebaliknya ketika
mengekstraksi sebagian kecil bahan dari bagian yang cuaca panas akan mengakibatkan terjadinya swabakar
cukup mewakili untuk tujuan yang dimaksudkan". yang berpotensi meningkatkan nilai ash yang secara
Kebutuhan mendesak saat ini akan sistem pengambilan lansung akan menurunkan nilai GCV batubara.
sampel yang sederhana, efektif dan andal semakin
meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan untuk 3. Metodologi Penelitian
pengendalian kualitas sebagai sarana untuk menghadapi 3.1 Jenis Penelitian
inflasi, persaingan, dan konsumsi bahan baku yang Berdasarkan jenis data yang akan diperoleh maka
meningkat pesat (Darling, P. (Ed.). 2011) penelitian ini tergolong kedalam penelitian kuantitatif.
Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis
2.3 Faktor-Faktor Penyebab Perbedaan Kualitas penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis,
Menurut Muhammad Agil F, dkk perubahan ini terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga
disebabkan oleh : pembuatan desain penelitiannya. Demikian pula pada
a. Terdapat Kontaminasi tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai
Kontaminasi merupakan tercampurnya bahan atau dengan Gambar, tabel, atau tampilan lainnya.
material lain dalam tumpukan batubara. Untuk Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini
penanganan material pengotor atau kontaminasi dapat adalah sebagai berikut :
dilakukan dengan pengawasan secara ketat ketika loading 1. Studi Kepustakaan :
material di front dan melakukan pembersihan peralatan Yaitu berdasarkan studi literatur, dimana data data
secara rutin. yang didapat dijadikan sebagai data sekunder, disamping
b. Kegiatan Pengangkutan Batubara itu juga buku-buku yang berkaitan dengan judul atau tema
Dalam kegiatan pengangkutan batubara, kondisi jalan penelitian tersebut.
yang berdebu juga akan mempengaruhi kualitas dari 2. Observasi Lapangan
batubara. Keadaan jalan yang berdebu akan Observasi Lapangan merupakan kegiatan
mengakibatkan debu jalan menempel pada batubara. pengambilan data lapangan dengan cara turun langsung
Penanganan ash batubara harus sangat diperhatikan karena ketempat atau daerah yang menjadi lokasi penelitian.
peningkatan kadar ash akan berakibat lansung pada
penurunan nilai GCV. 3.2 Data dan Sumber Data
c. Fine Coal Akibat Proses Handling a. Data Primer
Penanganan (handling) batubara merupakan salah Data primer adalah data yang diamati dan
satu kegiatan yang sangat mempengaruhi kualitas diambil langsung di lapangan seperti pengambilan
batubara, karena berpotensi menghasilkan fine coal. sampel batubara di channel pit dan pengambilan
Aktivitas kegiatan penambangan maupun penanganan sampel batubara di stockpile pada seam 300, dan
batubara di stockpile dengan menggunakan peralatan besar dokumentasi lapangan.
seperti dozer, backhoe dan dump truck mengakibatkan b. Data sekunder
terbentuknya fine coal. Fine coal yang terbentuk dari Data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian
kegiatan tersebut akan mengakibatkan peningkatan nilai ini adalah:
ash content pada batubara yang secara lansung akan 1) Hasil uji kualitas batubara di laboratorium
mengakibatkan penurunan nilai kalori batubara. PT KIM.
d. Ukuran Butir Batubara Yang Tidak Seragam 2) Hasil uji laboratorium dari pihak buyer.
Semakin kecil ukuran butir batubara maka surface Data sekunder ini merupakan data pendukung
moisture akan semakin tinggi dan total moisture dalam penelitian, dimana data sekunder yang
mengalami peningkatan yang akan menyebabkan dibutuhkan tersebut didapatkan dari dokumen
penurunan nilai kalori batubara. perusahaan.
e. Cuaca dan Iklim
Pengaruh cuaca dan iklim merupakan pengaruh yang
tidak dapat dihindari dalam melakukan kegiatan industry
70
c. Sumber Data Tabel 3. Selisih Antara Sample 300 CR3 Channel Pit
Sumber data yang didapatkan berasal dari dengan Stockpile
pengamatan langsung di lapangan, buku-buku,
literatur dan dokumen dari PT Kuansing Inti Makmur. TM Ash GCV
SAMPLE
(ARB) (ADB) (ARB)
RATA-RATA
(%) (%) (Kcal/Kg
3.3 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Februari CHANNEL PIT 22,40 16,87 4730
2021. Penelitian akan dilakukan di PT Kuansing Inti STOCKPILE 26,46 17,10 4427
Makmur, Desa Tanjung Belit, Kecamatan Jujuhan, SELISIH 4,06 0,23 -303
Kab. Bungo, Provinsi Jambi.

Tabel 4. Selisih Antara Sample 300 LOWER Channel Pit


4. Hasil dan Pembahasan dengan Stockpile
4.1 Sample Channel Pit dan Stockpile (ROM
Sampling) TM Ash GCV
SAMPLE
(ARB) (ADB) (ARB)
RATA-RATA
(%) (%) (Kcal/Kg
Hasil dari uji laboratorium batubara dari kedua
sample ini bertujuan untuk menganalisa apakah terdapat CHANNEL PIT 27,29 16,04 5216
perubahan kualitas ketika batubara di coal getting dan STOCKPILE 28,99 16,86 4173
diangkut ke stockpile.
SELISIH 1,70 0,82 -174

Tabel 1. Data Kualitas Batubara 300 CR3 Channel Pit dan


Stockpile 4.2 Analisis perubahan kualitas dari channel pit
Stockpile Channel pit sampai ke stockpile
SAMPLE GCV
TM Ash TM Ash GCV Analisa perubahan pada nilai parameter Total
(ARB)
(ARB (ADB (ARB (ADB (ARB)
(Kcal/K
) (%) ) (%)
g
) (%) ) (%) (Kcal/Kg moisture (TM), Ash, dan Calori pada batubara seam 300
SEAM 300 CR3 UHS, ULS, CR3, dan LOWER. Perubahan ini disebabkan
27,46 15,20 4489 22,31 14,75 4638
LOT 01 oleh beberapa faktor yang ada di lapangan yang bisa kita
SEAM 300 CR3
LOT 02
27,37 16,50 4398 23,04 16,51 4797 amati secara langsung di lapangan atau lokasi
SEAM 300 CR3
25,14 20,93 4291 22,54 18,06 4679
penambangan, faktor tersebut dapat kita uraikan sebagai
LOT 03
berikut :
SEAM 300 CR3
26,20 15,96 4530 22,54 18,06 4679
LOT 04
SEAM 300 CR3
26,15 16,90 4428 21,58 16,95 4860
a. Total Moisture (TM)
LOT 05
Rata-rata 26,46 17,10 4427 22,40 16,87 4730
1. Kenaikan ini diakibatkan oleh air limpasan yang
mengalir dari front loading OB dan terdapatnya
Tabel 2. Data Kualitas Batubara 300 Lower Channel Pit air tanah yang dialiri pada saluran yang dibuat
dan Stockpile pada sub-bench. Saluran air pada sub-bench tidak
Stockpile Channel Pit
dapat mengalirkan air secara maksimal sehingga
SAMPLE GCV GCV
TM Ash
(ARB)
TM Ash
(ARB) terjadi limpasan air ke front coal getting.
(ARB (ADB (ARB (ADB
(Kcal/K (Kcal/K
) (%) ) (%) ) (%) ) (%)
g g
SEAM 300 LOWER
29,35 15,90 4237 27,10 14,99 4413
LOT 01
SEAM 300 LOWER
31,34 13,49 4123 27,62 14,25 4441
LOT 02
SEAM 300 LOWER
26,41 20,36 4172 26,82 18,28 4246
LOT 03
SEAM 300 LOWER
26,95 20,52 4161 26,21 18,93 4248
LOT 04
SEAM 300 LOWER
30,89 14,05 4175 28,70 13,78 4387
LOT 05
Rata-rata 28,99 16,86 4173 27,29 16,04 5216 Gambar 1. Air limpasan di front coal getting

2. Cuaca yang tidak menentu/cuaca yang sering


berubah-ubah dapat mempengaruhi kualitas
batubara. Ketika cuaca yang kurang baik seperti

71
turunnya hujan dapat meningkatkan kandungan
air pada batubara yang akan ditambang.
3. Penambangan pada Side wall barat dekat dengan
Sump dan elevasi pada seam 300 berada di bawah
permukaan air sump. Hal ini akan menyulitkan
untuk mengalirkan air limpasan ke Sump dan di
butuhkan alat support seperti dragflow.

Gambar 4. Terbawanya Material Floor Ke Stockpile.

2. Terangkutnya dirty coal ketika melakukan


aktifitas loading dan hauling pada malam hari.

3. Kondisi area front dan jalan tambang berdebu


ketika dilalui oleh unit yang bekerja. Debu ini
dapat mempengaruhi kualitas batubara ketika
Gambar 2. Penambangan Pada Side Wall Barat sampai di stockpile. Hal dikarenakan oleh jeda
4. Sistem drainase yang kurang berfungsi dengan untuk penyiraman kembali dilakuakn dengan
baik sehingga air tidak dapat langsung mengalir waktu yang cukup lama dan water filling yg jauh.
menuju Sump. Terutama pada penambangan di
side wall barat.

Gambar 5. Debu di Jalan Tambang


Gambar 3. Drainase side wall barat arah block
central 4. Kondisi unit yang bekerja di lokasi coal getting
b. Ash content dalam keadaan tidak bersih yang dapat
menyebabkan batubara yang telah bersih
1. Pada hasil analisis perbandingan kualitas terkontaminasi oleh pengotor yang terbawa pada
batubara dari front ke stockpile pada seam 300 unit.
CR3 dan 300 Lower terdapat perbedaan
kandungan Ash yang di akibatkan terdapatnya
parting berupa material roof (cleaning tidak
bersih) dan material floor (terjadinya overcut)
yang terangkut ke stockpile.

Gambar 6. Pengotor pada unit

72
c. Calori (GCV arb) a. Total Moisture (TM)

Nilai calori pada batubara merupakan panas yang 1. Cuaca dan iklim yang berubah-ubah dapat
dihasilkan akibat pembakaran batubara, nilai ini mempengaruhi terhadap kandungan air total pada
dipengaruhi oleh parameter-parameter kualitas batubara. Pengaruh cuaca dan iklim merupakan
batubara lainnya, seperti total moistur dan ash content pengaruh yang tidak dapat dihindari dalam
yang terdapat didalam batubara (Farisnayan, I.S, dkk. melakukan kegiatan industry pertambangan.
2020). Pada analisis perbandingan ini niali kalori pada Cuaca yang sering hujan akan menyebabkan
batubara seam 300 CR3 dan 300 Lower di PT KIM kandungan moisture pada batubara meningkat,
mengalami penurunan akibat naiknya kandungan air terutama pada batubara yang memiliki ukuran
total. Untuk 300 CR3 dan 300 Lower penurunan nilai butir kecil dan telah tertumpuk lama.
calori (GCV arb) diakibatkan oleh naiknya
kandungan air total dan diiringi dengan naiknya 2. Sistem drainage yang kurang baik dan tidak
kandungan abu batubara sehingga penurunan terhadap dilakukannya perawatan dapat menyebabkan air
nilai calori (GCV arb) cukup banyak limpasan atau air hujan akan tergenang di dalam
stockpile dan tidak dapat dialirkan keluar.
4.3 Sample coal delivery (superintending) dan
buyer

Hasil dari uji laboratorium untuk sample coal delivery


digunakan oleh perusahaan tambang PT KIM sebagai data
pembanding dari hasil uji laboratorium dari pihak buyer.
Apakah telah sesuai dengan permintaan atau tidak.

Tabel 5. Selisih Antara Sample Rata-rata Coal Delivery


(Superintending) dengan Sample Buyer
TM Ash GCV Gambar 7. Drainase yang kurang baik di Stockpile
SAMPLE
(ARB) (ADB) (ARB)
3. Melakukan aktifitas loading pada tumpukan yang
RATA-RATA basah setelah hujan tanpa memberi waktu jeda
% % Kkal/Kg
beberapa saat setelah hujan reda.
COAL
25.83 14.23 4,735 4. Dump Truck yang membawa batubara tidak
DELIVERY
melakukan test dump setelah hujan yang dapat
BUYER 27.36 14.66 4,645 menampung air dalam vessel unit tersebut.

SELISIH 1.53 0.43 -90 b. Ash Content

Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya


perubahan pada Ash batubara ketika di kirim ke
4.4 Analisis perubahan kualitas dari stockpile buyer, yaitu sebagai berikut :
sampai ke Buyer
1. Tumpukan batubara yang siap dikirim tidak
Analisa perubahan pada nilai parameter Total dilakukannya proses selektif atau tidak ter-
moisture (TM), Ash, dan Calori pada batubara seam 300 selektif secara keseluruhan ketika baru di tumpuk
ready to sell. Perubahan ini disebabkan oleh beberapa di stockpile.
faktor yang ada di lapangan yang bisa kita amati secara
langsung di lapangan atau lokasi penambangan, faktor
tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut :

73
c. Hasil material coal cleaning, fine coal dan dirty coal
sudah di loading ke tempat semestinya (disposal
area).
d. Melakukan penggalian batubara/coal getting
berdasarkan layer/sub-layer agar tidak terjadi
composite yang dapat mengakibatkan perbedaan
kualitas nantinya.
e. Operator yang bekerja benar-benar mengikuti
prosedur yang sudah ditentukan agar kualitas batubara
tetap terjaga dan tidak terjadi penyimpangan kualitas.
f. Pada saat melakukan penambangan dimalam hari,
Gambar 1. Tumpukan batubara ready to sell yang
cahaya penerangan harus benar-benar baik agar
masi terdapat parting kecil
operator yang melakukan penambangan dan
2. Aktivitas kegiatan penanganan batubara di pengawas yang bekerja dapat mengetahui batubara
stockpile dengan menggunakan peralatan besar yang ditambang terdapat pengotor atau tidak, apabila
seperti loader, excavator dan dump truck terdapat pengotor seberapa besar pengotor dibatubara
mengakibatkan terbentuknya fine coal. Fine coal yang ikut terangkut tersebut.
yang terbentuk dari kegiatan tersebut akan g. Daerah patahan atau yang terdapat sisipan di
mengakibatkan peningkatan nilai ash content usahakan dekerjakan pada siang hari.
pada batubara yang secara lansung akan h. Pembuatan saluran air agar tidak terjadinya
mengakibatkan penurunan nilai kalori batubara. penumpukan atau tergenangnya air di front coal
getting dan bila perlu tambahkan alat support seperti
c. Calori (GCV arb) drag flow untuk mempercepat mengeluarkan air dari
front loading batubara.
Ketika nilai calori pada batubara yang dikirim i. Pekerjaan yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah
mengalami penurunan, hal ini disebabkan terjadinya bagian elevasi terendah untuk mencegah batubara
peningkatan terhadap kandungan air dan abu pada kotor dikarenakan jatuhan material dan jatuhan air
batubara yang dikirim ke buyer. Faktor lain yang dari lapisan tanah penutup (OB) atau air
dapat menyebabkan penurunan kalori yaitu tidak limpasan/mata air.
seragamannya ukuran batubara sehingga saat
blanding tidak tercampur dengan rata (tidak 4.6 Upaya Pengendalian Batubara di Stockpile
homogen). Ketika dilakukan pengambilan sample PT Kuansing Inti Makmur
maka akan terjadi perbedaan antara pengambilan
Melakukan pengendalian di area stockpile agar
sample di PT KIM dan sample di buyer. Lama atau
kualitas batubara dapat terjaga dan dapat mengurangi
usia tumpukan juga dapat mempengaruhi terhadap
penalty yang diberikan oleh buyer, yaitu dengan cara
kalori batubara karena terlalu lamanya batubara itu
seperti berikut :
tertumpuk di stockpile.
a. Melakukan perawatan terhadap sistem drainase
4.5 Upaya Pengendalian batubara di front PT
Kuansing Inti Makmur stockpile untuk dapat mengaliri air ke luar area
stockpile
Melakukan pengendalian di area pit agar kualitas b. Melakukan selektif terhadap batubara yang terdapat
batubara dapat terjaga, yaitu dengan cara seperti berikut fosil/batu pack di dalam tumpukan agar tidak
: terangkut ke buyer
a. Menjelaskan mekanisme proses pengambilan batubara c. Jika terdapat parting atau material floor yang
sesuai dengan rencana pengambilan dan SOP kepada terangkut ke stockpile, beri tanda seperti bendera
pengawas dan operator. merah atau safety line agar tidak tercampur dengan
b. Memastikan bahwa batubara yang akan diloading tumpukan lain. Dan lakukan pemisahan material
telah bersih (coal cleaning) dan layak untuk pengotor dengan cara hand packing.
diproduksi dengan teknik coal cleaning yang benar.

74
d. Melakukan perawatan terhadap lantai stockpile agar getting menuju stockpile/ROM dan dari stockpile (coal
tidak terjadinya undulasi atau cekungan yang dapat delivery) menuju buyer. Dari uaraian pembahasan
menampung air didapatkan beberapa poin yang dapat dijadikan sebagai
e. Melakukan penyiraman di area sekitar stockpile yang kesimpulan, yaitu :
dilalui oleh unit kerja untuk mengantisipasi
a. Berdasarkan hasil analisis kualitas batubara terdapat
terkontaminasinya tumpukan oleh debu.
perubahan ketika batubara diangkut menuju stockpile
f. Untuk tumpukan di luar coal storage, sebaiknya
dari front coal getting dengan perubahan kualitas
menggunakan terpal pada tumpukan agar tidak
yang paling tinggi yaitu pada seam 300 CR3 (TM = -
terkontaminasi oleh debu, air atau pengotor lainnya
4,06%, ASH = -0,23%, GCV = 303 Kkal/Kg) dan
g. Untuk manajemen tumpukan sebaiknya menggunakan
seam 300 LOWER (TM = -1,70%, ASH = -0,82%,
metode FIFO agar tumpukan tidak terlalu lama dan
GCV = 174 Kkal/Kg). Dan hasil analisis perubahan
dapat menjaga tumpukan dari penurunan kualitas
kualitas batubara ketika di angkut dari stockpile
batubara
menuju buyer terdapat perubahan ketika batubara
h. Memastikan unit yang bekerja bersih dan tidak
tersebut sampai di buyer dengan nilai perubahan
membawa pengotor yang dapat mempengaruhi
sebesar TM = -1,64%, ASH = -0,32%, GCV = 92
kualitas batubara.
Kkal/Kg.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan
4.7 Upaya Pengendalian Batubara yang Akan di
Kirim ke Buyer (IKPP) kualitas batubara pada masing-masing tempat tersebut
adalah : Kondisi sampling basah atau kering (banyak
a. Ketika akan melakukan loading batubara pada fine coal), Kegiatan penambangan, Ukuran batubara
tumpukan yang tidak diberi terpal atau tidak yang tidak seragam, sistem drainage kurang baik, dan
ditempatkan pada coal storage, sebaiknya untuk Penanganan di stockpile.
aktifitas loading setelah hujan diberi jeda waktu
selama 3 jam agar tidak mengandung kadar air yang 5.2 Saran
Setelah dilakukan pengamatan di lapangan,
cukup tinggi.
pengolahan data dan analisis mengenai perubahan kualitas
b. Untuk unit yang akan mengangkut batubara sebelum batubara yang dilakukan, maka penulis memberi saran
memasuki stockpile harus melakukan test dump untuk yaitu :
memastikan tidak adanya pengotor dan air pada
vessel. a. Menempatkan drag flow ketika melakukan
c. Jika vessel unit masi terdapat material pengotor yang penambangan seam 300 dekat side wall barat, drag
menempel dan tidak dapat dikeluarkan dengan cara flow telah stanby di lokasi untuk mengantisipasi
test dump, maka unit tersebut di pisahkan dan penumpukan air di daerah coal getting karena
dilakukan pencucian terhadap vessel. kegiatan penambangan berada pada elevasi rendah
d. Memasang terpal pada veseel unit setelah diisi dengan dan dekat dengan sump.
batubara untuk menjaga batubara tidak tumpah dan b. Sebaiknya aktifitas cleaning batubara dilakukan pada
tidak terkontaminasi dari air dan pengotor yang dapat siang hari agar kegiatan tersebut dapat dikerjakan
mempengaruhi kualitas batubara. dengan semaksimal mungkin dan tidak meninggalkan
e. Memastikan terpal yang terpaang apakah layak material pengotor. Jika tidak memungkinkan untuk
digunakan atau tidak. melakukan cleaning pada siang hari, maka pengawas
f. Memberi segel pada bagian pengikat terpal dan pada shift siang membuat job pending yang jelas
mencantumkan kode batubara pada delivery order untuk kegiatan cleaning pada malam hari kepada
(DO). pengawas shift malam dan menambah penerangan
agar cleaning batubara terlaksana dengan optimal.
c. Pada tumpukan batubara di stockpile harus dilakukan
5. Penutup
penanganan yang tepat agar tidak terjadinya
5.1 Kesimpulan
perubahan kualitas yang dapat menyebabkan penalty
Dari pembahasan pada penelitian ini bahwa hasil
terhadap perusahaan tambang. Penerapan metode
analisis perbandingan kualitas batubara dengan parameter
FIFO merupakan salah satu penanganan agar batubara
Total Moisture, Ash Content, dan Gross Calorific Value
(GCV arb) terdapat perubahan kualitas baik dari front coal
75
di stockpile tidak tertumpuk terlalu lama yang dapat [9]. Nur, Z., Oktavia, M., & Desmawita, D. (2020).
mempengaruhi kualitas batubara itu sendiri. Analisis Kualitas Batubara Di Pit Dan Stockpile
d. Untuk mitra transporter harus menekankan kepada Dengan Metoda Analisis Proksimat Di Pt. Surya
Anugrah Sejahtera Kecamatan Rantau Pandan
driver unit untuk mengikuti aturan yang berlaku demi
Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Jurnal Mine
menjaga kualitas batubara yang akan dikirim Magazine, 1(2).
nantinya. Dan ketika terpal penutup vessel sudah tidak
baik atau rusak sebaiknya diganti dengan terpal yang [10]. Putri, I. P., Pitulima, J., & Mardiah, M. (2019).
baik untuk mencegah peningkatan moisture dan ash Evaluasi Kualitas Batubara dari Front
Penambangan Hingga Stockpile di Pit 1 Banko
pada batubara yang dikirim.
Barat PT Bukit Asam Tbk Tanjung Enim.
MINERAL, 4(1), 1-7.
Daftar Pustaka : [11]. Sugianto, F. I., Wijaya, R. A. E., & Putra, B. P.
(2020). Quality Control Batubara Dari Channel-
[1]. Anriani, T., Mukiat, M., & Handayani, H. E. Pit Menuju Stockpile Pt. Kuasing Inti Makmur.
(2014). Analisis Perbandingan Kualitas Batubara Mining Insight, 1(01), 43-52.
Te-67 Di Front Penambangan Dan Stockpile Di
Tambang Air Laya PT. Bukit Asam (Persero), [12]. Sukandarrumidi. 2006. Batubara Dan
Tbk. Tanjung Enim Sumatera Selatan. Jurnal Pemanfaatannya, (Pengantar Teknologi Batubara
Ilmu Teknik, 2(2). Menuju Lingkungan Bersih), Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
[2]. Arif, I. I. (2014). Batubara Indonesia. Gramedia
Pustaka Utama. [13]. Wiliansyah, J. (2017). Analisis Kualitas Batubara
dari Front Penambangan Hingga Gerbong dan
[3]. ASTM, D., Test, W. A., Test, C. S., & Test, A. R. Upaya Pemenuhan Kualitas Batubara di Stockpile
(1950). American society for testing and pada Area Pit Suban Tambang Air Laya (TAL)
materials (ASTM). American Association of PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Unit
State Highway and Transportation Officials- Penambangan Tanjung Enim, Sumatera Selatan
AASHTO Standards, United States. (Doctoral dissertation, Universitas Negeri
[4]. Darling, P. (Ed.). (2011). SME mining Padang).
engineering handbook (Vol. 1). SME. [14]. Yenni, F. R., & Prabowo, H. (2021).
[5]. Fadhili, M. A., & Ansosry, A. (2019). Analisis Management Pengendalian Kualitas Batubara
Pengaruh Perubahan Nilai Total Moisture, Ash Berdasarkan Parameter Kualitas Batubara Mulai
Content dan Total Sulphur Terhadap Nilai Kalori Dari Front Sampai Ke Stockpile Di PT. Budi
Batubara Bb-50 Di Tambang Banko Barat Pt. Gema Gempita, Merapi Timur, Lahat, Sumatera
Bukit Asam, Tbk. Tanjung Enim Sumatera Selatan. Bina Tambang, 6(1), 110-120.
Selatan. Bina Tambang, 4(3), 54-64. [15]. Yusra, R. A., & Prabowo, H. (2021). Optimasi
[6]. Freidina, E. V., Botvinnik, A. A., & Dvornikova, Pencampuran Batubara Dengan Menggunakan
A. N. (2008). Coal quality control in the context Metode Trial And Error Untuk Memenuhi
of international standards ISO 9000-2000. Standard Batubara PLTU Sawahlunto Studi
Journal of mining science, 44(6), 585-599. Kasus Pt Cahaya Bumi Perdana. Bina Tambang,
6(1), 100-109.
[7]. Hermanto, H., & Sujiman, S. (2019). Manajemen
Kegiatan Penumpukan Batubara Pada Stockpile [16]. Setiawan, I.F., & Prabowo, H. (2021). Analisis
di PT. Alamjaya Bara Pratama Kabupaten Kutai Pengaruh Pemberian Cangkang Kemiri Terhadap
Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Nilai Parameter Batubara di CV. Bara Mitra
Geologi Pertambangan (JGP), 25(2). Kencana, Sawahlunto. Bina Tambang, 6(1), 14-
23
[8]. Nasional–SNI, B. S. (1997). Klasifikasi
Sumberdaya dan Cadangan Batubara.

76

You might also like