0% found this document useful (0 votes)
394 views8 pages

ID Pengaruh Penggunaan Tepung Ulat Kandang PDF

Uploaded by

AristBreed
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
394 views8 pages

ID Pengaruh Penggunaan Tepung Ulat Kandang PDF

Uploaded by

AristBreed
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan 22 (3): 1 - 8

ISSN: 0852-3581
Fakultas Peternakan UB, http://jiip.ub.ac.id/

Pengaruh penggunaan tepung ulat kandang (Alphitobius diaperinus) dalam pakan terhadap
penampilan produksi ayam pedaging
H. Allama1, O. Sofyan2, E. Widodo2, dan H.S. Prayogi2
1
Mahasiswa fakultas peternakan Universitas Brawijaya Malang
2
Staf pengajar fakultas peternakan Universitas Brawijaya

Abstract: The objective of this research was to evaluate the effect of lesser mealworm meal in feed on
the performance of broiler. The materials used for this experiment were 100 Lohmann strain broiler
chicks with average body weigth 257.55 + 26.36 g. The treatments were P0 = basal feed, P1 = 0,5%
lesser mealworm meal, P2 = 1% lesser mealworm meal, and P3 = 1,5 % lesser mealworm meal and P4
= 2% lesser mealworm meal. The measured variables were feed consumption, body weight gain, feed
conversion, mortality and Income Over Feed Cost (IOFC). Data obtained in this study were analysed
by ANOVA Completely Randomized Design consisting of 5 treatments and 4 replications. Duncans
Multiple Range Test were used to analize the difference between the treatments.

The results of this research showed that the use of lesser mealworm meal as feed ingredient did not
significantly influenced (P > 0.05) feed consumption, weight gain, feed conversion, mortality and very
significantly influenced (P > 0.01) Income Over Feed Cost (IOFC). It can be concluded that the use of
lesser mealworm meal until level of 2 % as feed addition doesnt improve broiler production
performances.

Keywords : Lesser mealworm, and broiler

PENDAHULUAN dengan ulat hongkong Aguilar et al (2002)


Pakan merupakan unsur utama dari yaitu protein kasar 48 %, lemak kasar 40 %,
total biaya produksi dan merupakan salah satu kadar abu 3 % dan kandungan ekstrak non
faktor penentu keberhasilan dalam usaha nitrogen 8 %. Sedangkan kadar airnya
peternakan khususnya ayam, oleh karena itu, mencapai 57 %.
penggunaan bahan pakan alternative atau Dalam penggunaan bahan pakan
bahan pakan non konvensional perlu sekali alternative sebagai sumber pakan harus
diupayakan guna menekan biaya produksi. disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ternak
Indonesia merupakan negara tropis yang kaya tersebut agar diperoleh produksi yang optimal.
akan sumberdaya alam. Salah satu diantaranya Pemilihan bahan pakan yang tepat akan
adalah sumber bahan pakan non konvensional menghasilkan pakan yang berkualitas dan
dan tidak bersaing dengan kebutuhan pokok mampu memenuhi kebutuhan ayam pedaging.
manusia, yaitu ulat kandang yang tergolong Selain itu, bahan pakan tersebut tidak boleh
sebagai serangga yang hidup pada kotoran mengandung unsur-unsur yang menjadi
ayam petelur. Biota ini dapat digunakan pembatas dalam penggunaannya yang dapat
sebagai salah satu sumber protein bagi ternak mempengaruhi performa dari pertumbuhan
unggas. Berdasarkan studi literature, ternak maupun konsumen yang akan
didapatkan bahwa Ulat kandang memiliki mengkonsumsi hasil ternak tersebut.
kandungan nutrisi yang kurang lebih sama

1
J. Ilmu-ilmu peternakan 22 (3):1 - 8

Pemanfaatan potensi ulat kandang Materi Penelitian


sebagai pakan unggas memang belum Pada penelitian ini digunakan ayam
dilakukan oleh peternak, namun bagi pecinta pedaging Strain Lohmann Platinum produksi
burung ulat kandang sangat digemari karena PT. Wonokoyo Group umur 10 hari sebanyak
memiliki kandungan protein yang tinggi dan 100 ekor yang tidak dibedakan jenis
kandungan lemak yang lebih rendah dibanding kelaminnya (UnSex). Rata-rata berat ayam
ulat hongkong, selain itu harganya juga lebih 257,55 26,36 g/ekor dengan koefisien
murah. Oleh karena itu, penelitian ini keragaman 9,82 %. Kandang yang digunakan
dilakukan untuk melihat pengaruh penggunaan adalah kandang litter sebanyak 20 petak
tepung ulat kandang (Alphitobius diaperinus) dengan ukuran tiap petak panjang x lebar x
dalam pakan terhadap penampilan produksi tinggi adalah (70 x 70 x 60) cm tiap-tiap petak
ayam pedaging yang meliputi konsumsi pakan, kandang diisi 5 ekor ayam.
pertambahan bobot badan, konversi pakan,
Pakan basal ayam pedaging selama
mortalitas dan IOFC (Income Over Feed Cost).
penelitian adalah BR1 dari PT. Wonokoyo
Group sedangkan pakan perlakuan yang
MATERI DAN METODE
digunakan adalah tepung ulat kandang atau
TUK. Sebelum pakan perlakuan diberikan,
Waktu dan Lokasi Penelitian
ayam menjalani masa adaptasi terhadap pakan
Penelitian ini dilaksanakan mulai
selama 10 hari. Data Kandungan zat makanan
tanggal 9 April sampai 7 Mei 2012 di Kandang
masing-masing bahan pakan dapat dilihat di
Bapak Mian, Desa Ngijo, Kecamatan
Tabel 1. Sedangkan Kandungan zat makanan
Karangploso, Kabupaten Malang. Analisis
pakan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 2.
proksimat pakan ulat kandang dan pakan
dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan
Makanan ternak, Fakultas Peternakan,
Universitas Brawijaya, Malang.

Tabel 1. Kandungan nutrient pada bahan pakan


Bahan Pakan
Nutrient TUK(1) BR1(2)
PK (%) 41,66 22
LK (%) 20,56 7
SK (%) 17,09 5
Ca (%) - 1
P (%) - 0,8
ME (Kkal/Kg) 2903,74* 3100
Keterangan :*) Berdasarkan perhitungan 70 % dari GE (Gross Energy) (Patrick Schable, 2004).
Sumber : 1. Hasil analisa di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.
2. Label Konsentrat Ayam pedaging produksi Wonokoyo.

2
J. Ilmu-ilmu peternakan 22 (3):1 - 8

Tabel 2. Kandungan nutrient pakan perlakuan


Pakan perlakuan
Nutrient P0 P1 P2 P3 P4
Abu (%) 7,50 7,54 7,58 7,61 7,65
PK (%) 23,40 23,52 23,63 23,75 23,87
LK (%) 6,40 6,43 6,46 6,50 6,53
SK (%) 3,14 3,16 3,17 3,19 3,20
ME (Kkal/Kg) 3144,90 3160,62 3176 3192 3208
Keterangan : Hasil Perhitungan Berdasarkan Data Analisis Proksimat Bahan Baku Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN


Data rata-rata konsumsi pakan, pakan, dan IOFC (Income Over Feed Cost)
pertambahan bobot badan (PBB), konversi Selama 25 hari dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pengaruh perlakuan terhadap penampilan produksi ayam pedaging yang meliputi konsumsi
pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan dan IOFC (Income Over Feed Cost).

Variabel yang diamati


Perlakuan Konsumsi Pakan (g/ekor) PBB Konversi Pakan IOFC
(g/ekor) (Rupiah)

P0 2950,12 95,49 1205,17 61,06 2,44 0,05 3534 879c

P1 3012,73 45,08 1216,85 35,97 2,47 0,04 2352 322b

P2 3025,26 66,43 1235,17 54,18 2,47 0,12 1553 621a

P3 3018,98 99,47 1280,67 56,81 2,35 0,08 655 1139a

P4 3026,73 76,04 1306,66 65,95 2,31 0,07 206 375a


Keterangan : Superskrip (a-b) yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh sangat nyata (P > 0,01).

Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi perlakuan kontrol. Rataan konsumsi terendah


Pakan (2950,12 95,49 g/ekor/hari) pada perlakuan
Hasil analisis statistik menunjukkan tanpa penggunaan TUK atau P0. Sedangkan
bahwa penggunaan TUK dalam pakan ayam rataan konsumsi tertinggi (3026,73 76,04
pedaging berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) g/ekor/hari) adalah pada perlakuan P4 yaitu
terhadap konsumsi pakan. Hal ini didukung perlakuan dengan penggunaan 2 % TUK. Hal
oleh perhitungan konsumsi energi dan protein ini menunjukkan bahwa penggunaan TUK
yang tidak berbeda pula (Tabel 3). memberikan dampak positif terhadap
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa peningkatan konsumsi ayam.
penggunaan tepung ulat kandang (TUK) dalam
pakan ayam pedaging menunjukkan konsumsi
pakan yang lebih tinggi dibandingkan dengan

Tabel 4. Data kandungan energi pakan, kandungan protein, konsumsi energi dan konsumsi protein.

3
J. Ilmu-ilmu peternakan 22 (3):1 - 8

Kandungan Konsumsi Energi


Perlaku Protein (%) (Kkal/ekor/hari) Konsumsi Protein
an Kandungan Energi Pakan (g/ekor/hari)
(Kkal/kg)
P0 3144,897 23,4 371,11 27,61
P1 3160,62 23,52 380,88 28,34
P2 3176,00 23,63 384,33 28,59
P3 3192,00 23,75 385,46 28,68
P4 3208,00 23,87 388,39 28,90

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa sesuai dengan pendapat NRC (1994), bahwa
konsumsi pakan yang relatif sama antara imbangan energi di dalam zat makanan dalam
perlakuan ini disebabkan penambahan TUK pakan akan mempengaruhi konsumsi pakan.
didalam pakan sampai 2 % tidak Menurut Anggorodi (1995) kandungan protein
mempengaruhi kandungan energi dan protein dalam pakan harus diimbangi dengan energi
di dalam pakan. Berdasarkan hasil perhitungan yang cukup. Imbangan energi dan protein
dan analisis proksimat, menunjukkan bahwa dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan
imbangan energi dan protein pada masing protein minimum, sebab kekurangan energi
masing pakan perlakuan relatif sama. Seperti akan merubah protein menjadi energi. Faktor
diketahui bahwa imbangan protein dan energi faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan
sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumsi adalah energi pakan, serat kasar, kerapatan
pakan, karena energi dalam pakan adalah salah jenis atau kepadatan pakan dan lemak kasar
satu faktor pembatas konsumsi. Pernyataan ini (Parakkasi, 1990).

Pengaruh Perlakuan Terhadap menunjukkan bahwa penggunaan TUK


Pertambahan Bobot Badan. memberikan dampak positif terhadap PBB.
Hasil analisis statistik menunjukkan Faktor utama yang mempengaruhi
bahwa penggunaan TUK memberikan pertambahan bobot badan adalah kandunngan
perbedaan yang tidak nyata (P > 0,05) terhadap zat makanan dalam pakan terutama kandungan
PBB. Hasil penelitian yang memberikan efek energi dan protein. Scott et al (1982)
tidak berbeda nyata ini didukung oleh hasil menyatakan keseimbangan zat-zat makanan
rataan konsumsi pakan yang tidak memberikan terutama protein dan energi sangat penting
perbedaan nyata, sehingga tidak berpengaruh karena nyata memepengaruhi kecepatan
terhadap pertambahan bobot badan. pertambahan bobot badan. Anggorodi (1994),
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa P4 menyatakan bahwa berat badan ayam akan
dengan penggunaan TUK 2 % menunjukkan ditentukan oleh jumlah konsumsi pakan
pertambahan bobot badan (PBB) tertinggi dengan kandungan energi dan protein yang
yaitu 1306,66 65,95 g/ekor sedangkan rataan seimbang.
PBB terendah 1205 61,06 g/ekor yaitu P0
dengan 0 % penggunaan TUK. Hal ini

4
J. Ilmu-ilmu peternakan 22 (3):1 - 8

Pengaruh Perlakuan Terhadap Konversi makanan merupakan sumber asam amino bagi
Pakan ternak. Sebagian asam amino memang dapat
Hasil analisis statistik menunjukkan disintesis sendiri oleh tubuh, akan tetapi asam
bahwa penggunaan TUK dalam pakan amino seperti arginin, metionin, triptofan, lisin,
memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P > histidin, leusin, isoleusin, valin dan fenalalanin
0,05) terhadap konversi pakan. Konversi pakan kehadirannya dalam ransum mutlak
merupakan perbandingan antara jumlah pakan diperlukan, karena unggas tidak dapat
yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot mensintesisnya. Card dan Nesheim (1997)
badan. menyatakan bahwa faktorfaktor yang
Hubungan antara konsumsi pakan mempengaruhi konversi pakan adalah
dan pertambahan berat badan ditentukan kandungan energi pakan, kecukupan zat
oleh konversi pakan. Berdasarkan Tabel 3 makanan dalam pakan, suhu lingkungan dan
dapat dilihat bahwa konversi pakan tertinggi kondisi kesehatan. Menurut Lacy (2000)
(2,47 0,04 dan 2,47 0,12 g/ekor) pada P1 semakin rendah angka konversi pakan berarti
dan P2 atau perlakuan dengan penggunaan 0,5 kualitas pakan semakin baik.
dan 1 % TUK. Sedangkan konversi pakan
Pengaruh Perlakuan Terhadap Mortalitas
terendah (2,31 0,07 g/ekor) adalah P4 yaitu
Mortalitas atau angka kematian yaitu
perlakuan dengan penggunaan TUK 2 %. Nilai
angka yang menunjukkan jumlah ayam yang
konversi pakan yang rendah menunjukkan
mati selama pemeliharaan. Angka mortalitas
efisiensi penggunaan pakan lebih baik. Hal ini
pada penelitian ini menunjukkan angka sebesar
berarti semakin efisien ayam mengkonsumsi
0 %. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
pakan untuk produksi daging. Jika
pakan perlakuan memiliki kualitas yang sama
dibandingkan dengan nilai standar FCR maka
dengan pakan kontrol sehingga tidak berbeda
nilai konversi pakan masih belum baik karena
pengaruhnya terhadap mortalitas. Blakely dan
angka konversi yang baik adalah di bawah 2.
Bade (1998) bahwa angka mortalitas yang baik
Ayam pedaging yang mempunyai nilai
untuk ayam pedaging adalah kurang dari 5%.
konversi pakan 2,3 berarti untuk membentuk 1
Protein memiliki fungsi yang sangat vital bagi
kg bobot badan diperlukan pakan sebesar 2,3
unggas, diantaranya : a) untuk memperbaiki
kg.
jaringan yang rusak; b) pertumbuhan jaringan
Hasil penelitian ini mengindikasikan
yang baru; c) untuk pertumbuhan bulu serta; d)
bahwa pemberian TUK sebesar 2 %
pensuplai asam amino (Wahju, 1997). Tingkat
memberikan pengaruh baik terhadap konversi
pemberian protein dari batasan yang
pakan. Hal ini dikarenakan pada level
ditentukan dalam pakan, akan menyebabkan
penggantian 2 % (P4) memiliki kandungan
kurang efisiennya nilai pakan tersebut. Wahju
protein tertinggi mengingat protein adalah zat
(1997) menambahkan defisiensi protein atau
makanan yang tidak bisa digantikan
asam amino yang ringan akan menyebabkan
karbohidrat maupun lemak. Protein dalam

5
J. Ilmu-ilmu peternakan 22 (3):1 - 8

pertumbuhan tidak optimal. Sebaliknya, kalau tertinggi diperoleh P0 yaitu Rp. 3534 879
berat akan menyebabkan kehilangan berat sedangkan yang terendah adalah P4 yaitu Rp.
badan, bulu rontok disertai kehilangan 206 375.
jaringan-jaringan tubuh dan penurunan bobot
badan. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat
Pengaruh Perlakuan Terhadap IOFC
disimpulkan bahwa penggunaan tepung ulat
(Income Over Feed Cost)
kandang (Alphitobius diaperinus) dalam
Hasil analisis statistik menunjukkan
pakan tidak dapat memperbaiki penampilan
bahwa penggunaan tepung ulat kandang dalam
produksi ayam pedaging yang meliputi
pakan menunjukkan perbedaan yang sangat
konsumsi pakan, pertambahan bobot badan,
nyata (P > 0,01) terhadap IOFC, dimana P0
konversi pakan, namun dengan penggunaan
berbeda sangat nyata dengan P1, P2, P3 dan P4,
yang makin tinggi dapat mempengaruhi IOFC
sedang P1 berbeda sangat nyata dengan P0, P2,
(Income Over Feed Cost).
P3 dan P4. Rataan pengaruh perlakuan terhadap
Income Over Feed Cost dapat dilihat pada DAFTAR PUSTAKA
Tabel 3. IOFC merupakan pendapatan kotor
Abrams, M. and H. Bemstein. 1989. More
yang dihitung dengan cara mengurangi
Future Stuff Over 250 Inventions
pendapatan dari hasil penjualan ayam hidup That Will Change Your Life by 2001.
Penguin Books.
dengan total biaya yang dikeluarkan untuk
pakan selama periode penelitian. Hasil Aguilar-Miranda, E.D., Lopez MG., C.
Escamilla-Santana and APB de la
penelitian menunjukkan bahwa IOFC yang
Rosa. 2002. Characteristics of maize
paling baik dicapai pada pakan perlakuan P0 flour tortilla supplemented with
ground Tenerbrio molitor Larvae. J.
yang merupakan pakan dengan penambahan
Agric. Food Chem., 50 (1): 192-195.
TUK 0 %.
Ahira. 2011. Budidaya ayam pedaging.
Berbeda sangat nyatanya IOFC antara http://www.anneahira.com/ayam-
pakan perlakuan disebabkan adanya selisih ayam pedaging.htm. Diakses tanggal
4 september 2012.
yang semakin besar atau kecil pada penjualan
ayam dengan biaya pakan yang harus Amrullah, I.B. 2003. Nutrisi Ayam pedaging.
Penerbit Lembaga Satu Gunungbudi,
dikeluarkan selama periode pemeliharaan. Bogor.
Menurut Prawirokusumo (1994) IOFC
Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak
dipengaruhi oleh besarnya pendapatan dan Unggas. Gadjah Mada University
biaya pakan yang dikeluarkan selama Press. Yogyakarta.
penelitian. Harga rata-rata pakan ayam Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak
pedaging yaitu P0 (Rp. 4800 per kg); P1 (Rp. Umum. Gamedia Pustaka Utama.
Jakarta.
5175 per kg); P2 (Rp. 5550 per kg); P3 (Rp.
5925 per kg); P4 (Rp. 6300 per kg). Nilai IOFC

6
J. Ilmu-ilmu peternakan 22 (3):1 - 8

Anggorodi, R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak df/article.pdf. Diakses selasa 17 Juli


Unggas.Penerbit PT Gramedia 2012.
Pustaka Utama. Jakarta.
Hardjosubroto, W. dan J.M. Astuti. 1994. Buku
Anonymous. 2003. Single Cell Protein. Pintar Peternakan. PT Gramedia
http://www.fao.Org/ag/aga/agap/frg/ Widiasarana Indonesia : Jakarta
AFRIS/DATA/ 734.htm. Diakses
tanggal 12 Mei 2012. Ismail, 2011. PakanUnggas.
http://rismanismail2.wordpress.
Anonymous. 2008a. Alphitobius Diaperinus com/2011/08/05/ pakan-unggas/.
Taxonomy. Diakses, tanggal 12 Mei 2012.
www.gwannon.com/species/
Alphitobius-diaperinus. Di akses 17 Jull, M.A. 1982. Poultry Husbandry. Third
Juli 2012. Edition. Mc. Graw Hill Piblishing
Co.Ltd. New Delhi.
_________. 2008b . Asam Amino. http://www.
naturalnusantara. co. id. Diakses 6 Kesumawati. 2011. Alphitobius diaperinus.
Oktober 2012. http:// upikke.staff.ipb.ac.id/files/
2011/08/ Alphitobius-diaperinus.pdf.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Diakses, 12 Mei 2012.
Peternakan. Cetakan Keempat.
Gadjah Mada Press. Yogyakarta. Kompiang, I.P. dan Matoudang. 1988. Protein
Rendah pada Pakan Ayam Petelur.
Card, L.E. and M.C. Nesheim. 1997. Poultry Dalam Proseding Seminar
Production. 11th Ed. Lea and Febiger. Peternakan dan Forum Peternakan
Philadelphia. Unggas dan Aneka Ternak. Badan
Penelitian dan Pengembangan
Dierenfeld E.S. 1993. Insect and the feeding of Peternakan, Bogor.
zoo animal. The Food Insect
Newsletter6 (3): 1, 10-11. Lacy and L.R. Vest. 2000. Improving feed
conversion in ayam pedaging : A.
Departemen Pertanian. 2011. Perkembangan guide for growers. http://www.ces.
Populasi Ayam Broiler di Indonesia uga.edu/pubcd.c:793-w.html. Diakses
dari Tahun 2001-2008. Jakarta: 4 september 2012.
Departemen Pertanian.
Lambkin, T.A. 2005. Baseline responses of
Elliston, P., A. Macleod and L. Shimmel. adult Alphitobhius diaperinus
2001. Meal worm/mealworms (Coleoptera: Tenebrionidae) to
(Tenerbio). http://www.iwrc- cyfluthrin and detection of strong
online.org/rehab/mealworms.htm. resistence in fiesld populations in
Diakses, senin 1 Oktober 2012. eastern Australia.
http://forensicentomology.tamu.edu/p
Ensminger, K. 1991. Animal Science. 11th df/ article.pdf. Diakses, selasa 17 Juli
Edition. Interstate Publisher. USA. 2012.

Fadilah, R. 2004. Ayam pedaging Komersial. Loftin, K. and R. Corder. 2010. Biology and
Agromedia Pustaka. Jakarta. Management of the Lesser
Mealworm in Poultry Operations.
Tomberlin J. K., Richman D. and Myers H. D. http://www.uaex.edu/Other_Areas/pu
2008. Susceptibility of Alphitobius blications /PDF/FSA-7081.pdf.
diaperinus (Coleoptera: Diakses, 17 Juli 2012.
Tenebrionidae) from Ayam pedaging
Facilities in Texas to Four North, M.O and D.D. Bell. 1990. Commercial
Insecticides. Chicken Production Manual. 4th Ed.
http://forensicentomology.tamu.edu/p

7
J. Ilmu-ilmu peternakan 22 (3):1 - 8

The Avi Publishing Company Inc. Scott, M.L., Nesheim and Yaoung. 1992.
Wesport Connecticut. New York. Nutritional of The Chicken. M.L Scott
and associates, Ithaca. New York.
National Research Council. 1994. Nutrient
Requirement of Poultry. Ninth Schaible, P.J. 2004. Poultry Feed and
Revised Edition. Natural Academy Nutrition. Departement of Poultry
Press. Washington DC. Series, Michigan State University East
Lansing, Michigan. 198 198.
Parakkasi, A. 1990. Ilmu Gizi Makanan
Ternak Monogastrik. Angkasa, Siregar, E. 2002. Pengaruh pemberian tepung
Bandung. buah tanjung (mimusops elengi L)
dalam pakan terhadap performans
Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi kelinci lokal imur 8-16 minggu.
Komperatif. BPFE. Yogyakarta. Skripsi jurusan peternakan fakultas
pertanian USU, medan.
Ramos-Elorduy J. and J.M.P Moreno. 1990. http://repository.usu.ac.id/bitstream/
Contenido caloric de algunos 123456789/7632/1/ 09E00551.pdf.
insectos comerribles de Mexico Diakses, selasa 4 september 2012.
(caloric content of some adible
insects of Mexico). Stell, R.G. dan J.H. Torrie. 1992. Prinsip dan
Prosedur Statistik, Suatu Pendekatan
Rizal dan Yose. 2006. Ilmu Zat makanan Biometri. PT. Gramedia. Jakarta.
Unggas. Danalas University Press.
Padang. Tillman, A.D., H. Hari, R. Soedomo, P.
Soeharto dan L. Soekanto. 1989.
Rezende, S.R.F., F.A Curvello, M.E Fraga, Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah
R.C.S Reis and A.M.C Castilho. Mada University Press. Yogyakarta.
2008. Control of the Alphitobius
Diaperinus (Panzer) (Coleoptera: Togatorop, H.M., Basya dan Soemarni. 1997.
Tenebrionidae) with Performance Ayam Pedaging Periode
Entomopathogenic Fungi. Finisher dengan Pemeliharaan Lantai
www.scielo.br/pdf/rbca/v11n2/08.pdf Litter dan Lantai Kawat. Bul. LPP.
. Diakses, selasa 4 september. 19 : 18719.

Rose, SP. 1997. Principle of Poulty Science. Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Gajah
CAB. International, New York Mada University Press. Yogyakarta.

Saefulhadjar, S.D. 2005. Penentuan Kebutuhan Wiradisastra, M.D. 1986. Efektivitas


Protein dan Energi Untuk keseimbangan energi dan asam
Pertumbuhan Ulat Tepung. amino dan efisiensi absorpsi dalam
https://repository.ipb.ac.id/bitstream/ memenuhi persyaratan kecepatan
handle/123456789/ 8001 tumbuh ayam pedaging. Disertasi.
/2005dsa.pdf. Diakses, senin 16 Juli. Fakultas Pasca Sarjana. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Sarwono. 2000. Beternak Ayam Buras. http://repository.usu.ac.id/bitstream/
Penebar Swadaya. Jakarta. 123456789/7632/1/ 09E00551.pdf.
Diakses, selasa 4 september 2012.

You might also like