0% found this document useful (0 votes)
83 views12 pages

Mardaleni Dan Selvia Sutriana

This study examined the effects of applying bamboo shoot extract and superior plant hormone fertilizer on the growth and yield of mung beans. It found that: 1) The combination of 4.5 ml/l bamboo shoot extract and 6 cc/l superior plant hormone fertilizer significantly improved shoot height and number of pods per plant. 2) Individually, 4.5 ml/l bamboo shoot extract significantly increased plant height, harvest age, and weight of 100 seeds. 3) Individually, 6 cc/l superior plant hormone fertilizer significantly increased plant height, flowering age, and pod weight per plant. The best treatment was found to be a combination of 4.5 ml/

Uploaded by

Mega
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
83 views12 pages

Mardaleni Dan Selvia Sutriana

This study examined the effects of applying bamboo shoot extract and superior plant hormone fertilizer on the growth and yield of mung beans. It found that: 1) The combination of 4.5 ml/l bamboo shoot extract and 6 cc/l superior plant hormone fertilizer significantly improved shoot height and number of pods per plant. 2) Individually, 4.5 ml/l bamboo shoot extract significantly increased plant height, harvest age, and weight of 100 seeds. 3) Individually, 6 cc/l superior plant hormone fertilizer significantly increased plant height, flowering age, and pod weight per plant. The best treatment was found to be a combination of 4.5 ml/

Uploaded by

Mega
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 12

Jurnal Dinamika Pertanian Volume XXIX Nomor 1 April 2014 (45 - 56) P: ISSN 0215-2525

E: ISSN 2549-7960

PEMBERIAN EKSTRAK REBUNG DAN PUPUK HORMON TANAMAN UNGGUL


TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI
KACANG HIJAU (Vigna radiata L)

Application Bamboo Shoot Extract and Superior Plant Hormone on


Growth and Yield Mung Bean

Mardaleni dan Selvia Sutriana


Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau Jl. Kaharuddin Nasution No.113 Pekanbaru 28284
Telp: 0761-674681; Fax: 0761-674681
Email: [email protected] [email protected]
[Diterima Oktober 2013, Disetujui Februari 2014]

ABSTRACT
The objective of this research was to know the effect of giving bamboo shot extract and
superior plant hormone fertilizer on growth and yield of mung bean. The research was conducted at
the experimental farm Faculty of Agriculture Riau Islamic University Pekanbaru. The research was
arranged using a completely randomized design with two factorials. The first factor used bamboo
shoot dosage (R) with four level treatment: without extract (R0), 1,5 ml/l water (R1), 3,5 ml/l water
(R2), and 4,5 ml/l water (R3), and the second factor used superior plant hormone plant doses (H)
with four level treatment: without hormone (H0), 2 cc/l water (H1), 4 cc/l water (H2), and 6 cc/l
water (H3). The parameter observed consisted of pant height, flower age, harvest age, pod number
per plot, pod weight per plot, and weight of 100 seeds. Data analyzed by using statistic and BNJ test
at the 5% significance level. Interactionally, the application of bamboo shot extract and superior plant
hormone fertilizer showed a significant effect on shoot height and number of pod per plant with the
best treatment 4.5 ml/l water of shoot extract and 6 cc/l water of pant hormone. Individually, the
application of bamboo shot extract affected significantly on height plant, harvest age, and weight of
100 seeds with the best dosage of 4.5 ml/l water and the application of superior plant hormone
fertilizer influenced significantly on pant height, flower age, and pod weight per plant with the best
dosage of 6 cc/l water.
Keywords: Bamboo shoot extract, Superior plant hormone, Growth, Yield, Mung bean

ABSTRAK
Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak rebung dan pupuk
hormon tanaman unggul terhadap pertumbuhan dan produksi kacang hijau. Penelitian dilaksanakan
di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau, Pekanbaru. Rancangan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 2 faktorial. Faktor pertama
adalah Pemberian Dosis Ekstrak Rebung (R) dengan 4 taraf perlakuan yaitu R0: Tanpa Pemberian,
R1: 1,5 ml/l air, R2: 3,5 ml/l air, R3: 4,5 ml/l air dan faktor kedua yaitu Pemberian Dosis Pupuk
Hormon Tanaman Unggul (H) dengan 4 taraf perlakuan yaitu H0: tanpa pemberian, H1: 2 cc/l air,
H2: 4 cc/l air, H3: 6 cc/l air. Parameter Penelitian yaitu tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen,
jumlah polong per plot, berat polong per plot, dan berat 100 biji. Data pengamatan dianalisa secara
statistik dan uji lanjut BNJ taraf 5%. Hasil penelitian secara interaksi menunjukkan bahwa
berpengaruh terhadap tinggi tunas dan jumlah polong per tanaman dengan perlakuan terbaik R3H3
(4,5 ml/l air ekstrak rebung dan 6 cc/l air hormon tanaman unggul). Secara tunggal, pemberian
ekstrak rebung berpengaruh terhadap tinggi tanaman, umur panen dengan, berat kering 100 biji
dengan dosis terbaik 4,5 ml/ l air dan pemberian hormon tanaman unggul berpengaruh terhadap
tinggi tanaman, umur berbunga, berat polong per tanaman dengan dosis terbaik 6 cc/l air.
Kata kunci: Ekstrak rebung, Hormone tanaman unggul, Pertumbuhan, Produksi, Kacang hijau,

45
Dinamika Pertanian April 2014

PENDAHULUAN Selain pemberian pupuk Ekstrak Rebung,


Kacang hijau (Vigna radiata L) meru- pemberian pupuk Hormon Tanaman Unggul
pakan tanaman leguminosa yang tumbuh baik merupakan salah satu upaya yang tepat untuk
didaerah tropis. Tumbuhan yang termasuk suku meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman
polong-polongan ini memiliki banyak manfaat kacang hijau. Hal ini karena, selain mengan-
dalam kehidupan sehari-hari. Kandungan pro- dung unsur hara makro dan mikro lengkap, juga
teinnya cukup tinggi dan merupakan sumber mengandung hormon seperti auksin dalam ben-
mineral penting, antara lain kalsium dan fosfor tuk IAA 156.35 ppm, untuk memperbanyak
yang sangat diperlukan tubuh. Kacang hijau di akar dan mata akar, giberelin GA7 kandungan
Indonesia menempati urutan ketiga terpenting hormone 131.46 ppm, untuk meransang penga-
sebagai tanaman pangan, setelah kedelai dan wetan buah secara alami, giberelin GA3 kan-
kacang tanah. dungan hormone 98.37 ppm, untuk meransang
Kandungan gizi per 100 gram kacang bunga, Zeatin kandungan hormone 106.45 ppm,
hijau terdiri dari 345 kalori, 22 gr protein, 1,2 untuk mengurangi hara dan sitokinin / kinetin
gram lemak, 62,9 gr karbohidrat, 125 mg kandungan hormone 128.04 ppm untuk meran-
kalsium, 320 mg fosfor, 6,7 mg zat besi, 157 SI sang vegetatif/tubuh/batang secara ekstrim.
vitamin A, 0,64 mg vitamin B1, 6 mg vitamin C Hormon tanaman unggul organik lengkap juga
dan 10 gr air (Samekto, 2005). Biji kacang hijau mempunyai kandungan Nitrogen 63 ppm, P 6
sebagian besar dikonsumsi untuk bahan ppm, K 14 ppm, Na 0,22 ppm, Mg 0,21 ppm,
makanan, seperti tauge, bubur, tepung, pati dan Cu 0,05 ppm. (Sujimin, 2009).
minuman. Pada umumnya yang paling disukai Tujuan penelitian adalah untuk mengeta-
adalah tauge (kecambah). Meskipun demikian hui interaksi pemberian ekstrak rebung dan
kacang hijau dalam bentuk tepung juga banyak pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi
digunakan sebagai bahan makanan manusia kacang hijau, untuk mengetahui dosis ekstrak
maupun untuk pakan ternak. rebung yang sesuai untuk pertumbuhan dan
Kacang hijau tidak sulit dalam pemasaran produksi kacang hijau, dan untuk mengetahui
karena permintaan pasar terus meningkat dan dosis pupuk yang sesuai untuk pertumbuhan
harganya cukup tinggi. Namun, peningkatan dan produksi kacang hijau.
permintaan kacang hijau ini tidak diikuti oleh
perkembangan luas lahan tanamanya serta METODE PENELITIAN
peningkatan jumlah produksinya. Menurut Penelitian ini dilaksanakan di kebun
Badan Pusat Statistik Propinsi Riau (2010) percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam
produksi kacang hijau pada tahun 2007 adalah Riau Kota Pekanbaru.
1.739 ton, pada tahun 2008 menurun menjadi Bahan yang digunakan dalam penelitian
1.688 ton, kemudian pada tahun 2009 juga ini adalah benih kacang hijau, pupuk Urea, TSP,
mengalami penurunan yaitu menjadi 1.014 ton. KCL, ekstrak rebung (diperoleh dengan
Rendahnya produksi kacang hijau di Riau mengekstrak 3 kg rebung yang di beri 750 ml
disebabkan selain minat petani yang masih methanol dan diendapkan selama seminggu),
rendah juga dikarenakan harga pupuk yang pupuk hormon tanaman unggul, Curater 3G,
mahal yang memberatkan petani, karena biaya pupuk kandang ayam, Dhitane M-45 dan lain-
produksinya berkisar 8-20% dari total biaya lain.
budidaya tanaman. Karena itu perlu dicari Sedangkan alat yang digunakan dalam
alternatif pemakaian pupuk yang harganya praktikum ini adalah cangkul, meteran, plat
murah, seperti pupuk organik pembuatan perlakuan, cat minyak, paku, handsprayer,
ekstrak rebung yang harganya relatif lebih gembor, garpu, kamera, alat-alat tulis dan lain-
murah dan ramah lingkungan. Oleh karena itu lain.
perlu mengoptimalkan pemakaian pupuk cair Rancangan yang digunakan dalam peneli-
ekstrak rebung yang terbukti ramah lingkungan, tian ini adalah Rancangan Acak Lengkap
selain itu rebung juga bisa dijadikan sebagai dengan 2 faktorial. Faktor pertama adalah
sumber zat pengatur tumbuh karena rebung Pemberian Dosis Ekstrak Rebung (R) dengan 4
tersebut mengandung hormone GA3. taraf perlakuan yaitu R0: Tanpa Pemberian, R1:
1,5 ml/l air, R2: 3,5 ml/l air, R3: 4,5 ml/l air dan

46
Pemberian Ekstrak Rebung dan Hormon Tanaman Unggul Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau

faktor kedua yaitu Pemberian Dosis Pupuk Hormon tanaman unggul dengan konsentrasi 6
Hormon Tanaman Unggul (H) dengan 4 taraf cc/l air berfungsi memacu pertumbuhan vege-
perlakuan yaitu H0: tanpa pemberian, H1: 2 cc/l tatif tanaman kacang hijau, ini disebabkan unsur
air, H2: 4 cc/l air, H3: 6 cc/l air masing-masing GA3 yang terkandung dalam Ekstrak Rebung
terdiri dari 3 kali ulangan dan 6 tanaman sampel dan zat pengatur tumbuh IAA yang terkandung
per plot. dalam Pupuk yang dapat dimanfaatkan tanaman
Pelaksanaan penelitian yaitu persiapan dengan baik sehingga memacu pertumbuhan
lahan, penanaman, perlakuan, perawatan (pemu- vegetatif tinggi tanaman. Pada kombinasi
pukan, penyiraman, penanggulangan OPT) perlakuan R3H3 tinggi tanaman mencapai
Parameter Penelitian yaitu tinggi tanam- 59,33cm ini lebih baik dibandingkan deskripsi
an (cm), umur berbunga (hari), umur panen tanaman kacang hijau yang hanya mencapai
(hari), jumlah polong per plot (buah), berat 53cm. Tingginya tanaman kacang hijau pada
polong per plot (g), berat 100 biji (g) perlakuan R3H3 ini disebabkan GA3 yang
terkandung dalam Ekstrak Rebung dimanfaat-
HASIL DAN PEMBAHASAN kan tanaman untuk perkembangan akar tanam-
Tinggi Tanaman an, jika akar berkembang dengan baik secara
Data hasil pengamatan terhadap tinggi otomatis proses penyerapan unsur hara yang
tanaman setelah dianalisis sidik ragam dibutuhkan tanaman dapat berjalan dengan baik.
menunjukkan bahwa perlakuan pemberian Zat pengatur tumbuh IAA yang terkandung
Ekstrak Rebung dan Pupuk baik secara dalam pupuk yang diberikan melalui daun
interaksi maupun secara tunggal memberi tanaman dapat diserap oleh tanaman dengan
pengaruhnyata terhadap pengamatan tinggi baik karena kondisi tanmaman yang sehat dan
tanaman. Rerata hasil pengamatan terhadap faktor iklim yang mendukung proses fisiologis
tinggi tanaman disajikan pada Tabel 1. tanaman. Dengan pemberian ekstrak rebung
Data pada Tabel 1 memperlihatkan bahwa dengan dosis 4,5 ml/l air dan konsentrasi pupuk
secara interaksi pemberian Ekstrak Rebung dan 6 cc/l air dapat meningkatkan tinggi tanaman
Pupuk Hormon tanaman unggul memberikan kacang hijau.
pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, Pemupukan bertujuan untuk memelihara
dimana tinggi tanaman tertinggi terdapat pada dan memperbaiki kesuburan tanah. Setiap tana-
kombinasi perlakuan R3H3 (4,5 ml/l air ekstrak man membutuhkan sejumlah zat hara untuk
rebung dan pupuk hormon tanaman unggul 6 pertumbuhannya. Zat hara yang dibutuhkan
cc/l air), tidak berbeda nyata dengan kombinasi tanaman yaitu zat hara makro dan mikro. Begitu
perlakuan R3H2 (4,5 ml/l air ekstrak rebung juga dengan tanaman kacang hijau juga mem-
dan pupuk 4 cc/I air dan R3H1 (4,5 ml/l air butuhkan unsur hara dalam pertumbuhannya.
ekstrak rebung dan pupuk hormon tanaman Unsur hara P dibutuhkan oleh tanaman untuk
unggul 2 cc/l air) tetapi berbeda nyata dengan mempercepat tumbuhnya tanaman melalui rang-
semua kombinasi perlakuan lainnya, sedangkan sangan pembentukan akar. Hal ini sesuai dengan
tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan pendapat Mardianis (2002) yang mengemuka-
kontrol (R0H0). kan bahwa pupuk yang mengandung hormon
Kombinasi Perlakuan R3H3 yaitu Ekstrak dapat merangsang pembentukan akar, memper-
Rebung dengan dosis 4,5 ml/l air dan Pupuk cepat tumbuhnya tanaman, menstimulir pem-

Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dengan Pemberian Perlakuan Ekstrak Rebung dan Pupuk Hormon
Tanaman Unggul.
Ekstrak Rebung Pupuk (cc/l air) Rerata
(ml/l air) 0 (H0) 2 (H1) 4 (H2) 6 (H3)
0 (R0) 46,00 b 46,33 b 46,66 b 47,00 b 46,50 b
1,5 (R1) 46,83 b 47,23 b 47,33 b 47,66 b 47,26 b
3,5 (R2) 48,00 b 48,26 b 48,33 b 48,66 b 48,31 ab
4,5 (R3) 48,00 b 55,33 a 56,00 a 59,33 a 54,66 a
Rerata 47,20 b 49,29 ab 49,58 ab 50,66 a
KK= 4,53 BNJ R / H= 2,47 BNJ RH= 6,22
Angka-angka pada baris yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut Beda Nyata Jujur
(BNJ) pada taraf 5%
47
Dinamika Pertanian April 2014

bungaan dan pembentukan buah serta memper- bahwa dengan pemberian GA3 yang sesuai
cepat panen. Rinsema (1983) mengemukakan berguna untuk merangsang pertumbuhan akar.
tanaman yang kekurangan unsur hara akan penyusunan lemak dan protein. Untuk men-
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan ta- dapatkan efisiensi pemupukan yang optimal,
naman dan batangnya menjadi kerdil, pupuk harus diberikan dalam jumlah yang
pembentukan biji terhambat. cukup sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Pemberian zat pengatur tumbuh IAA Pemberian pupuk secara tunggal memper-
melalui pupuk juga mempunyai paranan yang lihatkan pengaruh yang nyata terhadap penga-
sangat penting dalam proses pertumbuhan dan matan tinggi tanaman kacang hijau dimana
perkembangan tanaman. Penggunaan zat penga- perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan
tur tumbuh harus disesuaikan dengan kebutuhan pemberian pupuk pada konsentrasi 6 cc/lltr air
tanaman, zat pengatur tumbuh tanaman adalah (H3) kemudian diikuti perlakuan pemberian
senyawa organik yang bukan hara yang dalam pupuk pada konsentrasi 4 cc/l air, perlakuan
jumlah tepat dapat mendukung proses fisiologis pemberian 2 cc/l air dan perlakuan kontrol.
tanaman. Anty (1987) melaporkan bahwa pupuk Dimana perlakuan H3 tidak berbeda nyata
mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat dengan perlakuan H2 tetapi berbeda nyata
digunakan sebagai pengatur tumbuh diantaranya dengan perlakuan H1 dan Kontrol, sedangkan
adalah IAA. Lebih lanjut dijelaskan bahwa perlakuan H2 dan H1 tidak berbeda nyata
pupuk juga memberikan pengaruh positif ter- dengan H0.
hadap pertumbuhan vegetatif tanaman, dimana Tinggi tanaman tertinggi pada tanaman
pupuk dapat memperbaiki struktur tanah yang kacang hijau dengan pemberian pupuk terdapat
rusak serta meningkatkan kesuburan tanah pada perlakuan H3 yaitu 50,66 cm kemudian
dalam aplikasinya. diikuti oleh perlakuan H2 yaitu 49,58 cm,
Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan H1 yaitu 49,29 cm, dan perlakuan H0
secara tunggal pemberian ekstrak rebung yaitu 47,20 cm. Tingginya tanaman pada
memberikan pengaruh yang nyata terhadap perlakuan H3 disebabkan karena pemberian
tinggi tanaman, dimana perlakuan terbaik perlakuan pupuk 6 cc/l air telah mencukupi
terdapat pada perlakuan R3 (4,5 ml/l air) untuk memenuhi kebutuhan tanaman, zat
kemudian diikuti oleh perlakuan R2 (3,5 ml/l pengatur tumbuh IAA yang terdapat pada pupuk
air), perlakuan R1 (1,5 ml/l air) dan perlakuan pada konsentrasi 6 cc/l air merupakan konsen-
kontrol (R0). Dimana perlakuan R3 tidak trasi yang tepat, sehingga proses fisiologis
berbeda nyata dengan perlakuan R2, tetapi tanaman berjalan dengan baik. Auksin meng-
berbeda nyata dengan perlakuan R1 dan kontrol, inisiasi pemanjangan sel dengan cara mem-
sedangkan R2, R1 dan R0 tidak berbeda nyata pengaruhi pengendoran /pelenturan dinding sel,
sesamanya. sehingga dapat memacu pertumbuhan batang
Tinggi tanaman tertinggi pada tanaman tanaman sehingga mengakibatkan tinggi tanam-
kacang hijau dengan perlakuan pemberian an. Dalam pertumbuhan dan perkem-bangan
ekstrak rebung terdapat pada perlakuan R3 yaitu tanaman sangat banyak membutuhkan unsur
54,66 cm, kemudian diikuti oleh perlakuan R2 hara, terutama unsur hara N, P dan K. Urin sapi
yaitu 48,31 cm, perlakuan R1 yaitu 47,26 cm selain mengandung ZPT juga mengandung
dan perlakuan R0 yaitu 46,50 cm. Tinggi unsur hara yang diperlukan tanaman walaupun
tanaman tertinggi pada perlakuan R3 karena jumlahnya sedikit. Diantara unsur N, P, dan K,
pemberian ekstrak rebung dengan dosis 4,5 pupuk juga memiliki Hara Makro/ Mikro: C-
mL/I air telah mencukupi kebutuhan tanaman Organik, N, P, K, Na, Mg, Cu, Fe, Mn, Zn, Co,
akan unsur hara, dimana unsur GA3 yang ada Cd, Pb, serta 17 Asam Amino: Asam Aspartat,
dapat dimanfaatkan oleh tanaman pada pertum- Asam Glutamat, Serin, Glisin, Histidin, Arginin,
buhan awal yaitu dalam proses pembentukan Threonin, Alanin, Prolin, Tirosin, Valin,
akar dengan terpenuhinya unsur hara maka Methionin, Sistin, Isoleusin, Leusin, Phenilala-
dapat membentuk akar yang lebih banyak nin, Lisinini. Sehingga sangat membantu dalam
sehingga tanaman dapat lebih banyak menyerap memenuhi kebutuhan unsur K yang dibutuhkan
unsur hara dengan demikian akan memacu tanaman. Unsur kalium dimanfaatkan oleh
pertumbuhan titik tumbuh tanaman. Lingga tanaman untuk penyerapan bahan dan tenaga
(1998) dalam Berianata (2008) mengemukakan yang dihasilkan dari proses fotosintesis. Maka

48
Pemberian Ekstrak Rebung dan Hormon Tanaman Unggul Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau

Tabel 2. Rerata Umur Berbunga dengan Perlakuan Ekstrak Rebung dan Pupuk Hormon Tanaman
Unggul.
Pupuk (cc/l air)
Ekstrak Rebung (ml/l air) Rerata
0 (H0) 2 (H1) 4 (H2) 6 (H3)
0 (R0) 40,33 39,33 38,00 39,33 39,25
1,5 (R1) 40,40 38,16 40,00 36,16 38,68
3,5 (R2) 39,23 39,76 37,00 37,33 38,33
4,5 (R3) 39,33 36,33 34,00 38,00 36,91
Rerata 39,82 b 38,40 ab 37,25 a 37,70 ab
KK= 5,85 BNJ H= 2,48
Angka-angka pada baris yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut BNJ pada taraf 5 %.

Tabel 3. Rerata Umur Panen Tanaman Kacang Hijau dengan Pemberian Perlakuan Ekstrak Rebung
dan Pupuk Hormon Tanaman Unggul.
Ekstrak Rebung Pupuk (cc/l air)
Rerata
(ml/l air) 0 (H0) 2 (H1) 4 (H2) 6 (H3)
0 (R0) 63,33 63,66 62,00 58,66 61,91 b
1,5 (R1) 62,66 63,00 61,00 58,33 61,25 b
2,5 (R2) 61,66 58,00 57,66 56,33 58,41 a
3,5 (R3) 61,33 56,00 55,66 55,00 57,00 a
Rerata 62,25 c 60,16 b 59,08 b 57,08 a
KK= 2,88 BNJ R / H= 1,90
Angka-angka pada baris yang diikuti huruf kecil yang samatidak berbeda nyata menurut uji lanjut BNJ path taraf 5 %.

tanpa unsur hara kalium yang cukup hasil pemberian ekstrak rebung berpengaruh nyata,
fotosintesis tidak dapat diserap oleh tanaman sedangkan pupuk tidak memberikan pengaruh
(Tampubolon, 1992). yang nyata terhadap umur berbunga tanaman
Tidak berbeda nyatanya perlakuan H2, kacang hijau. Rerata hasil pengamatan terhadap
H1 dan H0, disebabkan tanaman tidak menda- umur berbunga dapat dilihat pada Tabel 2.
patkan zat pengatur tumbuh IAA dan unsur hara Data pada Tabel 2 memperlihatkan bah-
yang terkandung dalam pupuk, sehingga per- wa pemberian pupuk secara tunggal memberi-
tumbuhan tanaman kurang maksimal. Tingggi kan pengaruh yang nyata terhadap umur
tanaman terendah terdapat pada tanaman berbunga. Dimana perlakuan terbaik terdapat
kontrol. Rendahnya hasil pada perlakuan H2 dan pada pemberian H2 (3,5 ml/l air) yaitu 37,25
H1 dikarenakan konsentrasi ini sesuai dengan hari, kemudian diikuti oleh perlakuan pemberian
teori yang menyatakan zat pengatur tumbuh H3 (4,5 ml/l air) yaitu 37,70 hari, perlakuan
tanaman adalah senyawa organik yang bukan pemberian H1 (1,5 ml/l air) yaitu 38,40 hari dan
hara yang dalam jumlah yang tepat dapat tanpa pemberian perlakuan (H0) yaitu 39,82
mendukung proses fisiologis tanaman, dalam hari. Dimana perlakuan H2 tidak berbeda nyata
jumlah sedikit tidak berpengaruh dan dalam dengan H3, H1 tetapi berbeda nyata dengan
jumlah yang berlebih dapat menghambat proses perlakuan H0 (perlakuan kontrol).
fisiologis tanaman, sehingga menghambat Umur berbunga tercepat pada perlakuan
pertambahan tinggi tanaman. H2 (4 cc/l air) yaitu 37,25 hari, lebih lama bila
dibandingkan dengan deskripsi tanaman yang
Umur Berbunga umur berbunganya hanya 33 hari. Ini dise-
Hasil pengamatanterhadap umur berbu- babkan intensitas cahaya yang kurang pada saat
nga pada tanaman kacang hijau setelah masa-masa peralihan dari fase vegetatif ke fase
dianalisis sidik ragam memperlihatkan bahwa generatif sehingga fase pertumbuhan vegetatif
secara interaksi pemberian ekstrak rebung dan menjadi lebih panjang. Dwidjoseputro (2001)
pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap umur mengemukaan bahwa pupuk mengandung zat
berbunga tanaman kacang hijau. Secara tunggal pengatur tumbuh IAA ini dikarenakan pupuk

49
Dinamika Pertanian April 2014

merupakan, pupuk organik yang dihasilkan dari pada pemberian perlakuan R3 (4,5 m/l air) yaitu
tumbuh-tumbuhan yang terdapat didalamnya 57,00 hari, kemudian diikuti oleh perlakuan
IAA, auksin serta beberapa ZPT lainnya. pemberian R2 (3,5 ml/l air) yaitu 58,41 hari,
Dengan demikian secara tidak langsung meng- perlakuan pemberian R1 (1,5 ml/l air) yaitu
gantikan fungsi hormon tumbuh sintesis yang 61,25 hari dan tanpa pemberian perlakuan (R0)
berasal dari IBA dan IAA. Anty (1987) yaitu 61,91 hari. Dimana perlakuan R3 tidak
melaporkan bahwa pupuk mengandung zat berbeda nyata dengan R2, namun berbeda nyata
perangsang tumbuh yang dapat digunakan dengan R1 dan perlakuan R0 (kontrol).
sebagai pengatur tumbuh diantaranya adalah Perlakuan yang menghasilkan umur panen
IAA. paling cepat pada perlakuan R3. Cepatnya umur
Sedangkan pemberian secara tunggal panen pada perlakuan R3 ini disebabkan
ekstrak rebung tidak memberikan pengaruh ketersediaan unsur hara bagi tanaman berada
yang nyata, ini diduga karena ekstrak rebung dalam keadaan seimbang sesuai dengan yang
tidak memberikan kebutuhan hara yang cukup dibutuhkan oleh tanaman sehingga pada
dalam pembungaan, melainkan hanya berperan perlakuan tersebut proses perkembangan
dalam pertumbuhan vegetatif tanaman kacang tanaman (generatif) yaitu pembentukan dan
hijau. Ini dipengaruhi unsur hara yang diberikan pematangan polong tanaman kacang hijau
ekstrak rebung pada tanaman yaitu berupa terjadi lebih cepat.
hormon GA3. Sesuai dengan manfaat giberelin Marwan (2002) mengemukakan bahwa
(GA3) menurut Dwijoseputro (1989) adalah unsur fosfor berperan untuk merangsang
menyebabkan tinggi tanaman menjadi tiga pertumbuhan akar, khusus untuk akar benih dan
sampai lima kali tingginya dibandingkan dengan tanaman muda, juga sebagai bahan mentah
yang normal. Air yang terkandung dalam rebung untuk pembentukan sejumlah protein,
berfungsi sebagai alat translokasi unsur-unsur membantu asimilasi dan pernapasan sekaligus
hara yang terdapat pada rebung dan merupakan mempercepat pembungaan dan pematangan biji.
nutrisi penting bagi tanaman yang disiram Marsono dan Paulus (2002) mengemukakan
dengan ekstrak rebung tersebut. Dugaan lain gejala kekuragan unsur hara fosfor pada
yaitu, unsur hara yang dihasilkan berupa P, K, tanaman yaitu daun berubah warna tua atau
dan Ca dari ekstrak rebung tidak memberikan tampak mengkilap kemerahan, cabang dan
kebutuhan yang cukup dalam proses batang berubah menjadi kuning dan buah kecil.
pembungaan pada tanaman kacang hijau. Unsur fosfat sangat diperlukan oleh tanaman
Karena saat pembungaan tanaman sangat pada saat pembentukan biji sehingga menjadi
membutuhkan unsur hara yang cukup agar bentuk yang sempurna, dan fosfor juga berguna
tercapainya pembungaan yang maksimal pada untuk mempercepat pemasakan pada buah.
tanaman. Dari data tabel pengamatan umur panen
diatas terlihat bahwa pemberian pupuk secara
Umur Panen tunggal memberikan pengaruh yang nyata
Hasil pengamatan terhadap umur panen terhadap umur panen tanaman kacang hijau,
pada tanaman kacang hijau setelah dianalisis dimana perlakuan terbaik terdapat pada
sidik ragam memperlihatkan bahwa secara perlakuan pemberian H3 (6 cc/l air), berbeda
interaksi pemberian ekstrak rebung dan pupuk nyata dengan perlakuan lainnya. Sedangkan
tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap perlakuan H2 dan H1 tidak berbeda nyata, tetapi
umur panen. Sedangkan secara tunggal berbeda nyata dengan perlakuan H0. Cepatnya
pemberian ekstrak rebung dan pupuk umur panen pada perlakuan H3 (6 cc/l air) yaitu
memberikan pengaruh yang nyata terhadap 57,45 hari, ini disebabkan zat pengatur tumbuh
pengamatan umur panen. Rerata hasil IAA yang terdapat pada pupuk dapat diserap
pengamatan terhadap umur panen dapat dilihat tanaman dengan baik karena konsentrasinya
pada Tabel 3. yang tepat, sehingga proses fisiologis tanaman
Data pada Tabel 3 menunjukkan bahwa berjalan dengan baik dan dapat mempercepat
pemberian ekstrak rebung secara tunggal proses pembentukan dan pematangan biji
memberikan pengaruh yang nyata terhadap polong kacang hijau.
umur panen. Dimana perlakuan terbaik terdapat

50
Pemberian Ekstrak Rebung dan Hormon Tanaman Unggul Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau

Tabel 4. Rerata Jumlah Polong Per Tanaman Pada Tanaman Kacang Hijau dengan Pemberian
Perlakuan Ekstrak Rebung dan Pupuk Hormon Tanaman Unggul.
Ekstrak Rebung Pupuk (cc/l air)
Rerata
(mL/I air) 0 (H0) 2 (H1) 4 (H2) 6 (H3)
0 (R0) 30,00 c 29,23 c 30,66 c 29,56 c 29,86 b
1,5 (R1) 30,80 c 30,70 c 30,26 c 29,93 c 30,42 b
2,5 (R2) 29,93 c 29,86 c 31,23 c 30,66 c 30,42 b
4,5 (R3) 35,33 b 39,00 a 39,26 a 40,00 a 38,40 a
Rerata 31,51 b 32,20 ab 32,85 a 32,54 ab
KK= 3,46 BNJ R / H= 1,24 BNJ RH= 3,12
Angka-angka pada baris yang diikuti huruf kecil yang samatidak berbeda nyata menurut uji lanjut BNJ pada taraf 5 %.

Dwidjoseputro (2001) mengemukaan konsentrasi yang tepat untuk proses


bahwa pupuk ini dapat diaplikasikan dan pertumbuhan generatif tanaman yaitu pada
menyuburkan semua jenis tanaman palawija, proses pembentukan dan pematangan biji
hortikultura, tanaman perkebunan dan tanaman polong tanaman kacang hijau. Pemberian pupuk
industri dalam upaya: Memacu pertumbuhan pada konsentrasi 4 cc/l air dan pemberian 2 cc/l
yang maksimal tetap terjaga melalui air juga mempercepat umur panen tanaman
keseimbangan perkembangan dari: 1) Daun : kacang hijau, namun tidak pada konsentrasi
Mempercepat pertumbuhan daun jadi lebat, yang tepat.
keras, padat, lebar, tebal, berisi, mengkilap. Pada perlakuan kontrol (H0) umur panen
Muncul warna asli dan tidak mudah rontok. 2) lebih lama, ini dikarenakan tanpa pemberian
Batang: Mempercepat perkembangan batang pupuk proses pertumbuhan generatif tanaman
dalam melakukan pembelahan sel, sehingga kacang hijau terlambat, ini akibat dari
cepat besar, kokoh dan berurat. 3) Bunga: kurangnya unsur hara dan zat pengatur tumbuh
Mempercepat keluarnya bunga, kuncup di setiap IAA yang dibutuhkan tanaman, sehingga proses
pori pembungaan dan tidak mudah gugur. 4) pembentukan dan pematangan biji polong
Buah : Mempercepat putik bunga jadi buah. kacang hijau terjadi lebih lama. Selain itu
Buah lebih padat, besar dan berisi buah semakin tanaman yang tidak diberikan pemupukan maka
lezat dan beraroma. 5) Akar: Mempercepat akan memperoleh unsur hara hanya dari tanah
pertumbuhan akar baru dan kokoh. 6) Tunas: yang tersedia.
Mempercepat keluarnya tunas-tunas dan anakan
baru pada setiap pori-pori. 7) Tanah: Jumlah Polong Per Tanaman
Memperbaiki struktur tanah yang rusak. 8) Hasil pengamatan terhadap jumlah polong
Meningkatkan kualitas rasa, tekstur dan aroma per tanaman pada tanaman kacang hijau setelah
buah. 9) Meningkatkan pertumbuhan umbi/ dianalisis sidik ragam memperlihatkan bahwa
buah menjadi lebih besar dan berbobot. secara interaksi pemberian ekstrak rebung dan
Selain mengandung zat pengatur tumbuh pupuk memberikan pengaruh yang nyata
IAA yang sangat dibutuhkan tanaman dalam terhadap jumlah polong per tanaman. Sedang-
proses pertumbuhan vegetatif dan generatif, kan secara tunggal pemberian ekstrak rebung
pupuk juga mengandung unsur hara yang dapat dan pupuk juga memberikan pengaruh yang
menambah unsur hara yang dibutuhkan nyata terhadap pengamatan jumlah polong per
tanaman, maka dari itu pemberian pupuk pada tanaman. Rerata hasil pengamatan jumlah
konsentrasi yang tepat dapat mempercepat umur polong per tanaman kacang hijau dapat dilihat
panen tanaman kacang hijau, karena pupuk pada Tabel 4.
mempercepat keluarnya bunga dan tidak mudah Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat
gugur. Penggunaan zat pengatur tumbuh harus dilihat bahwa secara interaksi pemberian ekstrak
disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, zat rebung dan pupuk memberikan pengaruh yang
pengatur tumbuh tanaman adalah senyawa nyata terhadap jumlah polong per tanaman,
organik yang bukan hara yang dalam jumlah jumlah polong terbanyak terdapat pada
tepat dapat mendukung proses fisiologis kombinasi perlakuan R3H3, tidak berbeda nyata
tanaman. Konsentrasi 6 cc/lltr air merupakan

51
Dinamika Pertanian April 2014

dengan kombinasi perlakuan R3H2, R3H1, dap pertumbuhan vegetatif tanaman. Karena
namun berbeda nyata dengan semua kombinasi unsur hara yang komplit, juga dapat mencegah
perlakuan lainnya. datangnya berbagai hama tanaman sehingga
Jumlah polong terbanyak terdapat pada pupuk dapat berfungsi sebagai pengendalian
kombinasi perlakuan pemberian ekstrak rebung tanaman dari serangan hama (Phrimantoro,
4,5 ml/l air dan pupuk 6 cc/l air (R3H3) yaitu 1995). Dengan tidak adanya serangan hama,
40,00 buah, sedangkan jumlah polong terendah maka proses pembentukan polong dapat berjalan
terdapat pada kombinasi perlakuan tanpa dengan baik sehingga hasil yang didapatkan
pemberian ekstrak rebung dan pemberian 2 cc/l juga lebih baik.
air pupuk (R0H1). Secara tunggal pemberian ekstrak rebung
Jumlah polong terbanyak terdapat pada memberikan pengaruh yang nyata terhadap
perlakuan R3H3 yaitu 40,00 buah ini dikarena- jumlah polong per tanaman kacang hijau,
kan ekstrak rebung dengan dosis 4,5 mL/1 air dimana perlakuan terbaik terdapat pada
dan konsentrasi pupuk 6 cc/lltr air berfungsi perlakuan pemberian R3 (4,5 ml/l air) yaitu
sebagai pemacu pembentukan polong-polong 38,40 buah, kemudian diikuti oleh perlakuan
tanaman kacang hijau dikarenakan unsur fosfat pemberian ekstrak rebung 3,5 ml/l air yaitu
dan auksin yang dihasilkan dari kombinasi 30,42 buah, perlakuan pemberian ekstrak rebung
perlakuan dapat memacu pembentukan polong- 1,5 ml/l air yaitu 30,42 buah, dan jumlah polong
polong tanaman kacang hijau dan dapat terendah terdapat pada kontrol (R0) yaitu 29,86
mencegah kerontokan polong sebelum waktu- buah. Dimana perlakuan R3 berbeda nyata
nya sehingga jumlah polong yang didapatkan dengan perlakuan R2, R1, dan kontrol (R0), dan
jauh lebih banyak. perlakuan R2, R1, dan kontrol (R0) tidak
Pemupukan bertujuan untuk memelihara berbeda nyata sesamanya.
dan memperbaiki kesuburan tanah.Setiap Perlakuan pemberian ekstrak rebung 4,5
tanaman membutuhkan sejumlah zat hara untuk ml/l air (R3) menghasilkan jumlah polong
pertumbuhannya. Zat hara yang dibutuhkan terbanyak, hal ini disebabkan karena pada dosis
tanaman yaitu zat hara makro dan mikro. Begitu perlakuan ini unsur fosfor yang dibutuhkan
juga dengan tanaman kacang hijau juga tanaman sudah tercukupi. Dimana pada fase
membutuhkan unsur hara dalam pertumbuhan- pembentukan polong tanaman kacang hijau
nya, terutama unsur hara P dibutuhkan oleh sangat membutuhkan unsur fosfor, dengan
tanaman untuk mempercepat tumbuhnya terpenuhinya kebutuhan tanaman akan unsur
tanaman melalui rangsangan pembentukan akar. fosfor maka pembentukan polong dapat berjalan
Hal ini sesuai dengan pendapat Mardianis dengan sempurna. Suprapto (1993) mengemu-
(2002) yang mengemukakan bahwa pupuk kakan jika jumlah unsur hara fospat pada tanah
fosfor dibutuhkan tanaman untuk merangsang yang miskin hara P, penambahannya dilakukan
pembentukan akar, mempercepat tumbuhnya dengan cara menaburkan atau memendamkan
tanaman, menstimulir pembungaan dan pemben- pada lapisan olah maka hasilnya akan lebih
tukan polong atau buah serta mempercepat baik. Unsur P dibutuhkan tanaman kacang hijau
panen. Selain mengandung pupuk hara makro dari awal pertumbuhannya sampai panen, jadi
dan mikro lengkap seperti N, P, K, Na, Mg, Cu, kebutuhannya harus terpenuhi sepanjang hidup-
Fe, Mn, Zn, rahasia di balik janji perbaikan nya. Pemberian pada saat penanaman ini
tanaman dalam waktu 2 X 24 jam dari pupuk merupakan tindakan tepat untuk memenuhi
ini adalah adanya kandungan hormon yang kebutuhan hara P pada tanaman kacang hijau.
ditambahkan di dalam komposisinya seperti Secara tunggal perlakuan pemberian
GA3 98.37 (ppm 2), GA5 107.13 (ppm), GA7 pupuk juga berpengaruh nyata terhadap jumlah
(131.46 ppm), Auksin IAA (156.35 ppm), polong tanaman kacang hijau, dimana
Sitokinin Kinetin (128.04 ppm) dan Sitokinin pemberian pupuk dengan konsentrasi 4 cc/lltr
Zeatin (106.45 ppm). air (H2) tidak berbeda nyata dengan pemberian
Anty (1987) melaporkan bahwa pupuk perlakuan pupuk dengan konsentrasi 6 cc/l air
mengandung zat perangsang tumbuh yang dapat (H3) dan pemberian perlakuan 2 cc/l air (H1)
digunakan sebagai pengatur tumbuh diantaranya tetapi berbeda nyata dengan perlakuan kontrol
adalah IAA. Lebih lanjut dijelaskan bahwa (H0). Sedangkan perlakuan H3 dan H1 tidak
pupuk juga memberikan pengaruh positif terha- berbeda nyata dengan tanaman kontrol (H0)

52
Pemberian Ekstrak Rebung dan Hormon Tanaman Unggul Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau

Jumlah polong per tanaman terbaik pada perlakuan H1 dan H0. Diduga tidak berbeda
perlakuan H2 yaitu 32,85 buah, kemudian nyatanya perlakuan H2, H1 dan H0 karena pada
diikuti oleh perlakuan H3 yaitu 32,54 buah, H1 perlakuan ini tidak memberikan kebutuhan
yaitu 32,20 buah, dan kontrol (H0) yaitu 31,51 unsur hara yang optimal pada proses perkem-
buah. Tingginya jumlah polong per tanaman bangan biji pada polong, sehingga memberikan
pada perlakuan H2 ini disebabkan pupuk pada berat polong yang realtif lebih ringan
konsentrasi 4 cc/l air sudah tepat, zat pengatur dibandingkan perlakuan H3.
tumbuh yang ada pada pupuk dapat dimanfaat- Berat polong per tanaman tertinggi
kan tanaman kacang hijau dengan baik, sehing- terdapat pada perlakuan H3 yaitu 35,43 g,
ga proses fisiologis tanaman berjalan dengan kernudian diikuti oleh perlakuan H2 yaitu 34,08
baik yang mengakibatkan cabang-cabang primer g, H1 yaitu 33,68 g dan perlakuan kontrol (H0)
pada tanaman lebih banyak. Dengan pemberian yaitu 33,55 g. Beratnya polong per tanaman
pupuk pada tanaman, akan memberikan pada perlakuan H3 dikarenakan oleh
pertumbuhan tanaman yang maksimal. Selain seimbangnya unsur hara fospat yang diberikan
itu pupuk juga dapat memperbaiki struktur tanah pupuk , dimana pada dosis tersebut unsur fosfat
yang rusak akibat penggunaan lahan secara terus cukup tersedia dan mampu memenuhi
menerus. kebutuhan unsur hara tanaman, unsur fosfat ini
membantu dalam proses pengisian polong
Berat Polong Per Tanaman sehingga polong terisi dengan sempurna. Hal ini
Hasil pengamatan terhadap berat polong sesuai dengan pendapat Rinsema (1983)
per tanaman setelah dilakukan analisis sidik mengemukakan bahwa fosfat sangat penting
ragam memperlihatkan bahwa secara interaksi dalam pertumbuhan dan menentukan hasil
pemberian perlakuan ekstrak rebung dan pupuk tanaman, karena peran utama fosfat adalah
tidak memberikan pengaruh yang nyata. sebagai pembangun nukleo protein yang
Sedangkan secara tunggal perlakuan pemberian terdapat pada tanaman.
ekstrak rebung juga tidak memberikan pengaruh Supardi (1992) yang mengemukakan
yang nyata, tetapi pemberian secara tunggal bahwa unsur P dapat merangsang pengisian biji,
pupuk memberikan pengaruh yang nyata pada saat fase pertumbuhan generatif fosfat
terhadap pengamatan berat polong pertanaman dibutuhkan tanaman untuk sintesis protein dan
per tanaman. Rerata hasil pengamatan berat proses enzimatik. Dengan demikian bila
polong per tanaman dapat dilihat pada Tabel 5. pengisian biji berjalan dengan optimal maka biji
Data pada Tabel 5 memperlihatkan bahwa yang dihasilkan akan lebih bernas. Rendahnya
pemberian pupuk secara tunggal memberikan persentase polong bemas pada perlakuan H3
pengaruh nyata terhadap berat polong per disebabkan karena belum mencukupinya unsur
tanaman, dimana berat polong tertinggi terdapat fosfor yang diberikan dengan kebutuhan tana-
pada perlakuan pemberian pupuk 6 cc/1ltr air man, sehingga pembentukan biji pada polong
(H3), dimana perlakuan H3 tidak berbeda nyata tidak berjalan dengan sempurna.
dengan perlakuan H2, tetapi berbeda nyata Marwan (2002) mengemukakan bahwa
dengan perlakuan H1 dan H0. Sedangkan unsur fosfor pada tanaman berperan untuk
perlakuan H2 tidak berbeda nyata dengan merangsang pertumbuhan akar, sebagai bahan

Tabel 5. Rerata Berat Polong Per Tanaman dengan Pemberian Perlakuan Ekstrak Rebung dan Pupuk
Hormon Tanaman Unggul (g).
Ekstrak Rebung Pupuk (cc/l air)
Rerata
(ml/I air) 0 (H0) 2 (H1) 4 (H2) 6 (H3)
0 (R0) 33,66 32,93 34,00 33,66 33,56
1,5 (R1) 33,40 33,33 34,02 33,91 33,66
2,5 (R2) 33,46 34,37 34,10 36,14 34,52
3,5 (R3) 33,66 34,09 34,22 38,03 35,00
Rerata 33,55 b 33,68 b 34,08 ab 35,43 a
KK= 4,03 BNJ H= 1,52
Angka-angka pada baris yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut BNJ pada taraf 5%.

53
Dinamika Pertanian April 2014

mentah untuk pembentukan sejumlah protein, kan sistem perakaran yang banyak dan besar.
membantu asimilasi, pemasakan biji dan buah. Meningkatkan kemampuan mengikat air
Sutedjo dan Sapoetra (1987) mengemukakan sehingga tanaman lebih tahan dimusim kemarau
defisiensi unsur fosfor pada tanaman akan yang lama. Melindungi tanaman dari serangan
menghambat sistem perakaran, daun dan batang penyakit dan tanaman lebih sehat dan segar.
sehingga pembentukan buah jelek dan merugi- Menunjang tercapainya C/N ratio yang opti-
kan hasil biji-bijian. Pada perlakuan H2 dan H1 mum. Mutu hasil pertanian menjadi lebih baik.
berat polong per tanaman cenderung menurun,
hal ini disebabkan karena unsur hara yang Berat kering 100 Biji
dibutuhkan oleh tanaman tersebut kekurangan Hasil pengamatan terhadap berat kering
dosis bagi tanaman namun belum sampai pada 100 biji setelah dilakukan analisis sidik ragam
tahap menghambat pembentukan polong bernas. memperlihatkan bahwa secara interakasi
Sedangkan rendahnya berat polong per pemberian ekstrak rebung dan pupuk tidak
tanaman pada perlakuan H0 hal ini karena berpengaruh nyata terhadap berat kering 100
disebabkan pada perlakuan tersebut tidak biji, akan tetapi secara tunggal pemberian
adanya pemberian pupuk, sehingga unsur hara ekstrak rebung dan pupuk berpengaruh nyata
tidak tersedia dan tidak dapat memenuhi sesuai terhadap berat kering 100 biji. Rerata
dengan yang dibutuhkan oleh tanaman, sehingga pengamatan berat kering 100 biji dapat dilihat
tanaman kekurangan unsur hara. Maka proses pada Tabel 6.
metabolisme dalam tubuh tanaman tidak Berdasarkan data pada Tabel 6 dapat
berjalan dengan sempurna dengan demikian dilihat bahwa pemberian ekstrak rebung secara
akan mempengaruhi pertumbuhan dan tunggal memberikan pengaruh yang nyata
perkembangan tanarnan yang akibatnya jumlah terhadap berat kering 100 biji kacang hijau,
polong bernas pertanaman juga akan rendah. dimana perlakuan terbaik terdapat pada
Pupuk mengandung 11 unsur hara essen- perlakuan pemberian ekstrak rebung 1,5 ml/l air
sial tanaman dan mikroorganisme tanah, (R1), diikuti oleh perlakuan pemberian ekstrak
mengefektifkan pemanfaatan unsur hara tanah rebung 2,5 ml/l air (R2), perlakuan pemberian
untuk pertumbuhan, mampu memperbaiki sifat ekstrak rebung 3,5 ml/l air (R3) dan perlakuan
fisik tanah, menyuburkannya serta memacu tanpa pemberian ekstrak rebung (R0). Dimana
pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman perlakuan R1 tidak berbeda nyata dengan
(akar, tunas, bunga dan tandan buah), memacu perlakuan R2, akan tetapi berbeda nyata dengan
perkembangan tanaman secara optimal dan perlakuan R3 dan R0. Perlakuan R2, R3 dan R0
mengandung unsur makro dan mikro terlengkap tidak berbeda nyata sesamanya.
yang amat dibutuhkan oleh tanah serta beberapa Perbedaan berat 100 biji pada masing-
mineral, asam amino, dilengkapi mikroba masing perlakuan memperlihatkan bahwa unsur
probiotik zat pengatur tumbuh alami. P sangat berperan penting pada berat biji.
Berikut beberapa kegunaan pupuk: Sehingga pada perlakuan R1 (1,5 ml/l air)
menyuburkan tanah, memperbaiki struktur mampu menghasilkan berat kering 100 biji
tanah. Mempercepat pertumbuhan tanaman dan terberat, karena pada perlakuan ini unsur posfat
meningkatkan produksi. Mengefisienkan pemu- yang terkandung dalam ekstrak rebung
pukan dan menekan biaya produksi. Meningkat- membantu proses pembentukan biji dalam
Tabel 6. Rerata Berat Kering 100 Biji dengan Pemberian Perlakuan Ekstrak Rebung dan Pupuk
Hormon Tanaman Unggul.
Ekstrak Rebung Pupuk (cc/l air)
Rerata
(ml/l air) 0 (H0) 2 (H1) 4 (H2) 6 (H3)
0 (R0) 5,03 5,06 5,10 5,13 5,08 b
1,5 (R1) 5,16 5,20 5,90 5,26 5,38 a
2,5 (R2) 5,03 5,04 5,37 5,04 5,12 ab
3,5 (R3) 5,05 5,05 5,05 5,06 5,05 b
Rerata 5,07 b 5,09 ab 5,35 a 5,12 ab
KK= 4,58 BNJ R / H= 0,26
Angka-angka pada baris yang diikuti huruf kecil yang sama tidak berbeda nyata menurut uji lanjut BNJ pada taraf 5%.

54
Pemberian Ekstrak Rebung dan Hormon Tanaman Unggul Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Hijau

polong, biji yang dihasilkan lebih besar konsentrasi 4 cc/l air (H2), kemudian diikuti
sehingga lebih berat. Berat 100 biji mencapai dengan perlakuan dengan konsentrasi 6 cc/lltr
5,38 g lebih baik bila dibandingkan dengan air (H3), pemberian perlakuan dengan konsen-
perlakuan lainnya tetapi lebih rendah di trasi 2 cc/l air (H1), dan berat biji kering
bandingkan deskripsinya yang mencapai 6,30 g. terendah pada perlakuan (H0).
Pada perlakuan R2 (2,5 m/l air) menghasilkan Berat 100 biji terberat terdapat pada
berat kering 100 biji yang kurang baik, ini perlakuan H2 yaitu 5,35 g, kemudian diikuti
dikarenakan pemberian yang berlebihan tidak dengan perlakuan H3 yaitu 5,12 g, perlakuan H1
dapat diserap tanaman dengan baik. Pada 5,09 g dan berat terendah pada perlakuan
perlakuan R3 dan R0 menghasilkan berat kering kontrol (H0) yaitu 5,07 g. Dimana perlakuan H2
biji yang lebih rendah dibandingkan dengan dan H1, H3 tidak berbeda nyata sesamanya,
perlakuan R1 dan R2, ini dikarenakan pada akan tetapi berbeda nyata dengan perlakuan H0.
perlakuan R3 unsur fosfat yang diberikan terlalu Perlakuan H3,H1 dan H0 tidak berbeda nyata
banyak sehingga tidak dapat diserap tanaman, sesamanya.
begitu juga dengan perlakuan kontrol tanpa Tingginya berat kering biji pada perla-
pemberian ekstrak rebung unsur fosfat yang kuan H2 dikarenakan konsentrasi yang diberi-
diperlukan tanaman tidak terpenuhi sehingga kan sudah tepat, sehingga zat pengatur tumbuh
proses metabolisme pada tubuh tanaman tidak yang terkandung dalam pupuk dapat dimanfaat-
berjalan dengan sempurna, akibatnya berat biji kan tanaman dalam proses fisiologisnya
kering yang dihasilkan tanaman kacang hijau sehingga menghasilkan biji yang bernas. Sesuai
rendah. dengan fungsinya zat pengatur tumbuh meru-
Supardi (1992) mengemukakan bahwa pakan senyawa organik yang bukan hara yang
pemberian pupuk fosfor pada tanaman dapat apabila dalam konsentrasi yang tepat dapat
merangsang pengisian biji. Anonimus (1991) membantu proses fisiologis tanaman.
mengemukakan bahwa pemberian fosfor pada
tanaman juga dapat mempengaruhi berat kering DAFTAR PUSTAKA
biji, bobot biji dan kualitas hasil. Pada fase Badan Pusat Statistik. 2010. Riau Dalam Angka.
generatif fosfat dibutuhkan tanaman untuk Produksi Tanaman Pangan Menurut Jenis
sintesis protein dan proses enzimatik. Dengan Tanaman. Online pada: http://riau.bps.-
demikian bila pengisian biji berjalan dengan go.id/attachments/Tabel%206.1.5, Diak-
optimal maka biji yang dihasilkan akan lebih ses tanggal 05 Maret 2012.
bernas, sehingga akan menghasilkan bobot biji Marzuki, R. dan H. S. Soeprapto. 2004.
tanaman yang lebih optimal. Terlihat pada Bertanam Kacang Hijau. Penebar
perlakuan R1 (1,5 ml/l air) merupakan Swadaya. Jakarta.
perlakuan terbaik, sehingga berat kering biji Novizan. 2005. Petunjuk Pemupukan yang
yang dihasilkan lebih baik di bandingkan Efektif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
dengan perlakuan lainnya yaitu rata-rata 5,38 g. Prihmantoro, H. 2006. Memupuk Tanaman
Fosfat diserap tanaman dalam bentuk Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta.
P2O5 yang berperan dalam fase vegetatif dan Purwono dan Purnamawati. 2007. Budidaya 8
generatif, terutama pada saat pembentukan biji. Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar
Hakim dkk dalam Merigo (2006) mengemu- Swadaya. Jakarta.
kakan bahwa unsur P dijumpai dalam jumlah Rukmana, R. 2004. Kacang Hijau Budidaya dan
yang banyak di dalam biji, unsur P berperan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.
dalam transfer energi dan sel didalam proses Salahuddin. 2004. Kajian Fermentasi Cangkuk
hidup tanaman dalam proses tumbuh dan kem- dari Daging Sapi dan Rebung Bambu
bang tanaman, unsur P menyebabkan lancarnya Betung (Dendrocalamus asper). Tesis
proses metabolisme, fotosintesis, asimilasi, dan Program Pascasarjana. Institut Pertanian
respirasi kesemua proses fisiologis ini berguna Bogor, Bogor.
dalam menentukan kualitas dan kuantitas biji. Samekto, R. 2006. Pupuk Kompos. Citra Aji
Data pada Tabel 6 juga memperlihatkan Parama. Yogyakarta.
bahwa perlakuan pemberian pupuk secara Soeprapto, H. S. 2000. Bertanam Kacang Hijau.
tunggal juga berpengaruh nyata terhadap berat Penebar Swadaya. Jakarta.
kering 100 biji. Dimana pemberian terbaik pada

55
Dinamika Pertanian April 2014

Soetasad dan Sri muryanti. 1996. Budidaya Tino dan Supriyanto. 2009. Pengaruh Dosis
Terung Lokal dan Terung Jepang. Ekstrak Kasar Rebung Bambu Betung
Penebar Swadaya. Jakarta. (Denrocalamus Asper Becker ex Heyne)
Sukirno. 1983. Bercocok Tanam Kacang Hijau. Terhadap Pertumbuhan Semaian Sengon
Dinas Pertanian Rakyat Propinsi Jawa (Paraserianthes (L) Nielsen). Fakultas
Tengah, Semarang. Kehutanan Institute Pertanian Bogor,
Bogor.

56

You might also like