Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 230-236, Agustus 2016 Destama Rendy S. et. al.
PENGARUH PENAMBAHAN FEED ADITIF DALAM RANSUM DENGAN DOSIS YANG
BERBEDA TERHADAP BOBOT TELUR DAN NILAI HAUGH UNIT (HU)
TELUR AYAM RAS
The Effect of Using Feed Additive on ration with Different Doses for Egg Weight and Haugh Unit
Value of Layer Egg
Destama Rendy Saputraa, Tintin Kurtinib, dan Erwantob
a
The Student of Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture Lampung University
b
The Lecture of Department of Animal Husbandry Faculty of Agriculture Lampung University
Departement of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture Lampung University
Soemantri Bojonegoro No. 1 Gedung Meneng Bandar Lampung 35145
e-mail : rendysaputra733@ymail.com
ABSTRACT
This research aims to 1) study the effect of using feed additive on ration for egg weight and haugh
unit (HU) value; 2) study optimum doses of feed additive in ration layer. This research was conducted in
May - June 2016 at layer farm in Sumber Sari, Tamansari village of Gedong Tataan, Pesawaran,
Analysis Laboratory Polytechnic of Lampung, Laboratory of Nutrition and Food livestock, and
Laboratory Production and Reproduction of Livestock Animal Husbandry Department, Faculty of
Agriculture, University of Lampung. This research used completely randomized design with 4 treatments
of feed additives doses (0; 0.15; 0.25; and 0.35%) added on feed with 5 replications. Each replications
using four layer. The data were analyzed using ANOVA analysis with 5% significance level. Significantly
different results was further tested by orthogonal polynomials. The result can be conclude that 1)
Addition of feed additives with a doses of 0; 0.15; 0.25; 0.35% on feed influence insignificantly (P> 0.05)
to the egg weight, but it influenced significantly (P<0.05) in the Haugh unit value (HU). 2) The optimum
dose addition of feed additives in the ration was 0.24% on the value of Haugh units of eggs.
Keywords: Feed Additive, Egg Weight, Haugh Unit Value, Layer
PENDAHULUAN (haugh unit). Banyak hal yang dapat
Kebutuhan produk makanan bergizi terutama memengaruhi kualitas telur, antara lain
produk makanan asal hewani saat ini terus strain ayam, umur ayam, ransum, stress,
mengalami peningkatan, salah satunya adalah dan penyakit yang ada pada ayam. Ransum
telur. Telur merupakan pangan yang bergizi dan yang kurang baik akan menghasilkan
merupakan salah satu sumber penghasil protein kualitas telur menjadi rendah. Seperti
hewani yang dibutuhkan oleh tubuh.Kebutuhan misalnya pada ayam petelur fase produksi
telur yang terus mengalami peningkatan ini seiring kedua biasanya terjadi penurunan kualitas
dengan meningkatnya kesadaran masyarakat telur maka dapat ditambahkan bahan aditif
terhadap pentingnya protein hewani bagi tubuh. berupa premix sebagai nutrient tambahan
Saat ini industri peternakan ayam petelur yang dapat digunakan untuk meningkatkan
(layer) merupakan salah satu penyumbang kualitas nutrient yang ada pada ransum.
kebutuhan telur nasional. Akan tetapi, Mineral yang terkandung dalam premix
peningkatan produksi telur harus diimbangi diharapkan mampu meningkatkan kualitas
dengan kualitasnya. Kualitas telur menjadi salah kerabang telur, sedangkan asam amino dan
satu faktor yang harus diperhatikan dalam usaha vitamin yang terdapat dalam premix
budidaya ayam petelur karena akan menghasilkan diharapkan juga dapat meningkatkan
keuntungan, baik bagi peternak maupun kualitas internal telur.
konsumen. Kualitas telur yang baik dapat Nutrien dalam ransum yang dapat
menguntungkan bagi peternak karena dapat memengaruhi kualitas telur, antara lain
meningkatkan nilai jual, sedangkan bagi konsumen protein, mineral, dan vitamin.
kualitas telur yang baik dapat memberikan jaminan Meningkatkan zat nutrien dan menyamai
kandungan gizi dan keamanan bagi konsumen. kualitas ransum komersial dan juga untuk
Kualitas telur yang dapat dinilai meningkatkan kualitas ransum, biasanya
kualitasnya, antara lain bobot telur dan nilai HU pada ransum buatan ditambahkan suatu zat
230
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 230-236, Agustus 2016 Destama Rendy S. et. al.
yang bersifat aditif. Menurut Fathul dkk.(2013), Keterangan :
ransum aditif yaitu suatu substansi yang Hasil analisis Proksimat Laboratorium Nutrisi Dan
Makanan Ternak Jurusan Peternakan Fakultas
ditambahkan ke dalam ransum dalam jumlah yang Pertanian Universitas Lampung, 2016
relatif sedikit untuk meningkatkan nilai kandungan * : Hasil analisis Laboratorium Analisis Politeknik
zat makanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan Negeri Lampung, 2016
EM : energi metabolis (Hasil Perhitungan)
khusus. Macam-macam ransum aditif seperti
KA : kadar air
aditif konsentrat, aditif bahan suplemen dan PK : protein kasar
premix (aditif mineral). Premix SK : serat kasar
merupakan campuran dari beberapa mikro LK : lemak kasar
Ca : kalsium
inredient dengan bahan diluents (penyerta) dan
P : Phospor
penyajiannya dicampurkan ke dalam ransum.
Protein pada premix berbentuk asam amino yang Pada ransum perlakuan yang sudah
dicampur dengan mineral dan multivitamin. Saat ditambahkan premix maka terjadi
ini, premix banyak diproduksi secara komersial perubahan untuk seperti yang tertera pada
oleh perusahaan. Salah satu premix komersial yang Tabel 2.
juga digunakan dalam penelitian ini adalah
masamix yang diproduksi oleh PT. Mensana Tabel 2. Komposisi ransum setelah
Aneka Satwa. Menurut PT. Mensana Aneka ditambahkan premix
Satwa, masamix merupakan premix lengkap Ransum KA (%) Abu Ca (%) P (%)
mengandung kombinasi multivitamin, asam amino, (%)
dan trace mineral seimbang. Berdasarkan hal P1 11,9 11,8 2,21 0,74
P2 11,5 10,8 1,92 0,74
tersebut maka perlu dilakukan penelitian terhadap P3 10,7 11,4 1,23 0,75
penggunaan feed aditif dalam ransum terhadap Keterangan :
kualitas telur ayam ras. KA : Kadar Air
Ca : Kalsium
P : Phospor
MATERI DAN METODE
.
c. Feed aditif
Materi
Feed aditif yang digunakan adalah
a. Ayam dan Telur
premix dengan merk masamix dengan
Penelitian ini menggunakan 80 ekor ayam
kandungan asam amino, vitamin dan
ras petelur strain isa brown dari induk fase
mineral dengan kandungan sebagai berikut :
produksi kedua yang berumur 50 minggu dengan
rata – rata bobot tubuh 1,72 ± 0,15 kg dan
Tabel 3. Kandungan masamix
koefisien variasi sebesar 8,8%. Sampel telur yang
Bahan Jumlah (dalam 2,5 kg)
digunakan sebanyak 40 butir dengan masa simpan Vitamin A 5.000.000 IU
1 hari. Vitamin D3 1.000.000 IU
Vitamin E 7.500 IU
Vitamin K 1.530 mg
b. Ransum
Vitamin B1 800 mg
Ransum kontrol yang digunakan adalah Vitamin B2 3.000 mg
ransum yang terdiri dari jagung kuning (55,5%), Vitamin B6 800 mg
dedak padi (6%), meat bone meal (7,6%), bungkil Vitamin B12 10.000 mg
kedelai (24,4%) dan grit (6,5%). Pada ransum Vitamin C 5.000 mg
Ca-d- 5.000 mg
perlakuan ditambahkan ke dalam ransum kontrol Panthothenate
premix sebanyak 0%; 0,15; 0,25; dan 0,35%. Niacin 7.530 mg
Adapun kandungan nutrien ransum kontrol tertera Asam Folat 140 mg
pada Tabel 1 Choline 100.000 mg
chloride
DL – 100.000 mg
Tabel 1. Kandungan nutrien ransum kontrol (R0) Methionine
Parameter Kandungan Copper 2.200 mg
Cobalt 240 mg
EM (Kkal) 2777 Ferros 23.40 mg
Iodium 1.200 mg
KA (%) 12,46 Mangan 40.800 mg
PK (%) 17,5 Zinc 30.000 mg
LK (%) 6,8 Sumber : PT. Mensana Aneka Satwa, 2015
SK (%) 7,9
Abu (%) 10,01 Pelaksanaan Penelitian
Pembuatan ransum, persiapan
Ca* (%) 2,17
kandang, memilih 80 ekor ayam secara acak
P* (%) 0,727
231
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 230-236, Agustus 2016 Destama Rendy S. et. al.
yang selanjutnya ditimbang dimasukkan ke dalam
kandang serta memberikan kode pada masing- Nilai HU = 100 log (H+7,57 – 1,7 W0,37)
masing ayam tersebut. Memberi makan serta
minum ayam sesuai jadwal yang telah ditentukan. Keterangan :
Melakukan pengumpulan telur yang dilakukan HU = Haugh Unit
pada minggu ketiga dan sampel telur sebanyak H = Tinggi putih telur (mm)
50% serta memberikan tanda pada setiap telur W = Berat telur (g) ( Austic dan Nesheim,
tersebut. Menimbang telur dan memecah telur 1990)
sesuai dengan perlakuan serta menimbang bobot Analisis Data
telur dan menghitung nilai HU kemudian mencatat Data yang diperoleh dianalisis
data yang didapat. Adapun HU dihitung dengan menggunakan analisis ragam (Analisis of
rumus sebagai berikut : Variance/ANOVA) dan bila terdapat
perbedaan antar perlakuan diuji lanjut
menggunakan uji polinomial ortogonal pada
Nilai HU = 100 log (H+7,57 – 1,7 W0,37)
taraf 5% (Steel dan Torrie, 1991).
Keterangan : HASIL DAN PEMBAHASAN
HU = Haugh unit
H = Tinggi putih telur (mm) Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot
W = Berat telur (g)( Austic dan Nesheim, 1990) Telur Ayam Ras
Rata – rata bobot telur ayam ras selama
Metode penelitian berkisar antara 57,14 g sampai
Penelitian ini menggunakan Rancangan 61,41g (Tabel 4).
Acak lengkap dengan 4 perlakuan ransum (R0:
0% (tanpa feed aditif), R1: (penambahan feed Tabel 4. Rata – rata bobot telur ayam ras
aditif 0,15%), R2: (penambahan feed aditif Ulangan Perlakuan
0,25%) dan R3:(penambahan feed aditif P0 P1 P2 P3
0,35%).Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali
………….......g/butir………
dan setiap satuan percobaan terdiri dari 4 ekor 1 64.25 56.45 61.8 63.65
ayam, sehingga jumlah ayam yang digunakan 2 60.50 57.75 56.2 61.45
adalah 80 ekor. Telur yang digunakan dikoleksi 3 59.60 54.40 58.55 61.15
pada minggu ketiga dan pemeriksaan kualitas 4 61.05 66.10 54.70 56.50
5 61.65 58.45 54.45 60.00
telur dilakukan secara duplo, sehingga jumlah Jumlah 307.05 293.15 285.7 302.75
telur yang digunakan sebanyak 40 butir telur Rataan 61.41 58.63 57.14 60.55
dengan masa simpan 1 hari. Keterangan :
P0 : Ransum kontrol (tanpa penambahan feed aditif)
Peubah yang Diamati P1 : P0 + feed aditif 0,15%
P2 : P0 + feed aditif 0,25%
Peubah yang diamati adalah bobot telur dan P3 : P0 + feed aditif 0,35%
nilai Haugh Unit (HU) telur ayam ras
1. Bobot telur (g/butir) Hasil analisis ragam menunjukan
Bobot telur dilakukan dengan cara bahwa penambahan dosis feed aditif 0;
menimbang telur dengan menggunakan 0,15; 0,25 dan 0,35% dalam ransum tidak
timbangan analitik lalu melakukan pencatatan berbeda nyata (P>0,05) terhadap bobot telur
pada hasil yang didapat. ayam ras. Bobot telur yang tidak berbeda
nyata diduga disebabkan oleh penggunaan
2. Nilai Haught Unit (HU) dosis yang terlalu sedikit dan selisih
Menurut Austic dan Nesheim dkk.(1990), pemberian yang tidak terlalu jauh serta
nilai HU merupakan indeks dari tinggi putih telur konsumsi ransum yang tidak terlalu berbeda
kental terhadap berat telur. Perubahan kualitas masing – masing (95,2 g (P0); 98,4g (P1);
putih telur kental ini jalannya logaritmis dengan 96,2g (P2) dan 95,4g (P3)) menyebabkan
perubahan putih telur kental. bobot telur yang didapat relatif sama.
Cara pengukuran haugh unit (HU) telur Konsumsi ransum yang tidak jauh berbeda
dilakukan dengan cara menimbang telur, menyebabkan nutrisi yang diterima oleh
mengukur tinggi putih telur kental dengn ayam seperti protein, asam amino vitamin,
mikrometer (mm), kemudian menghitung nilai mineral dan yang lainya relatif sama
HU rata – rata dari masing – masing telur yang sehingga menghasilkan telur dengan bobot
diperiksa (Kurtini dan Riyanti, 2011). Adapun yang relatif tidak berbeda.
rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
232
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 230-236, Agustus 2016 Destama Rendy S. et. al.
Konsumsi ransum menjadi salah satu hal mudah menyerap zat nutrisi yang ada pada
terpenting yang dapat memengaruhi bobot telur. ransum sehingga penggunaan feed aditif
Menurut Anggorodi (1995), besarnya telur lebih dapat dimanfaatkan secara maksimal.
dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk sifat
genetik, tingkat dewasa kelamin, umur, obat- Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai
obatan, dan makanan sehari-hari. Faktor makanan Haugh Unit (HU) Telur Ayam Ras
terpenting yang diketahui memengaruhi besar telur Rata – rata nilai haugh unit (HU) selama
adalah protein dan asam amino yang cukup dalam penelitian berkisar antara 82,97 sampai
ransum. Pada feed aditif yang ditambahkan ke 88,60 seperti yang tertera pada Tabel 3.
dalam ransum memiliki kandungan asam amino
seperti DL - metionin sehingga dapat Tabel 5. Rata – rata nilai Haugh Unit (HU)
memengaruhi metabolisme dan juga meningkatkan telur ayam ras
kualitas ransum yang diberikan pada ayam (Tabel Ulangan Perlakuan
3). P0 P1 P2 P3
1 85,66 90.90 88.38 87.89
Penambahan feed aditif memberikan hasil 2 81,71 87.77 86.76 85.24
yang tidak berpengaruh nyata kemungkinan juga 3 83,61 89.83 92.97 87.40
disebabkan oleh tingkat level pemberian dosis 4 83,17 86.66 87.05 90.07
yang selisihnya tidak terlalu jauh (0; 0,15; 0,25 dan 5 82,99 87.86 85.03 86.85
Jumlah 417,14 443.01 440.189 437.444
0,35 %) mengakibatkan kandungan zat – zat
Rataan 83,428 88.60 88.04 87.48
nutrien tambahan yang ada dalam ransum seperti Keterangan :
vitamin, mineral, dan asam amino yang terkandung P0 : Ransum kontrol (tanpa penambahan feed aditif)
didalamnya memiliki jumlah yang tidak jauh P1 : P0 + feed aditif 0,15%
berbeda. Hasil penelitian dari Dewansyah (2010) P2 : P0 + feed aditif 0,25%
P3 : P0 + feed aditif 0,35%
menunjukan bahwa penambahan suplementasi
vitamin A pada ransum burung puyuh hingga
Hasil analisis ragam menunjukkan
4.500 IU juga tidak memberikan pengaruh nyata
bahwa perlakuan penambahan dosis feed
terhadap bobot telur puyuh.
aditif dalam ransum memberikan pengaruh
Menurut North dan Bell (1990), ukuran
yang nyata(P<0,05) dan terhadap rata – rata
telur terdiri dari ukuran kecil yaitu dengan
nilai HU telur ayam ras. Hasil uji
bobot telur kurang dari 47,2 g, ukuran medium
polinomial ortogonal menunjukan hasil
dengan bobot telur 47,2-54,2 g, ukuran besar
persamaan regresi dengan kurva kuadratik.
dengan bobot telur 54,4-61,4 g dan ukuran jumbo
Persamaan tersebut adalah
dengan bobot telur lebih dari 61,5 g. Pada umur
Y=83.54+45.00x–98,17x2 dengan nilai
25-30 minggu, ayam banyak menghasilkan telur
R2=0,52 dan nilai r = 0,72. Hasil
dengan ukuran medium. Berdasarkan pernyataan
perhitungan lebih lanjut dari persamaan
North dan Bell (1990) dapat diartikan bahwa rata –
regresi diperoleh dosis pemberian feed
rata bobot telur yang dihasilkan selama penelitian
aditif yang optimum yaitu sebesar 0,23%.
termasuk ke dalam ukuran besar yaitu sekitar 54,4
Gambar hubungan antara dosis feed aditif
– 61,4 g. Hal ini berkaitan dengan umur ayam
dengan nilai HU dapat dilihat pada Gambar
yang sudah dalam masa produksi kedua dimana
1.
pada fase tersebut ukuran telur menjadi lebih
besar.
Berdasarkan Tabel 4, hasil yang didapat y = 83.54+45.00x – 98,17 x2
R2 = 0,52
menunjukkan bahwa pengaruh antar perlakuan r = 0,72
tidak begitu berbeda, sehingga jika dilihat dari sisi
ekonomi tidak dilakukannya penambahan feed
aditif disarankan karena dapat menekan biaya
ransum dimana pengeluaran untuk biaya ransum HU
dapat lebih ditekan.
Hasil dari penambahan feed aditif dengan
dosis 0% menunjukkan hasil yang cenderung lebih
baik daripada perlakuan lainnya diduga disebabkan Dosis feed aditif
oleh kemampuan ayam dalam memanfaatkan zat
yang terkandung dalam feed aditif terbatas Gambar 1. Hubungan antara tingkat dosis
sehingga dosis yang tinggi tidak dapat feed aditif (%) yang
dimanfaatkan secara optimal oleh ayam dimana zat ditambahkan dalam ransum
nutrien yang diberikan menjadi terbuang. Berbeda terhadap nilai haugh unit (HU)
dengan dosis yang rendah dimana ayam lebih telur ayam ras
233
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 230-236, Agustus 2016 Destama Rendy S. et. al.
Nilai koefisien determinasi menunjukkan penelitian ini nilai HU yang didapat
angka (R2 =0,52) yang berarti bahwa 52% nilai HU tergolong sangat baik diduga karena adanya
dipengaruhi oleh penambahan feed aditif dengan kandungan asam amino yang tinggi dalam
dosis 0,15; 0,25 dan 0,35% sedangkan sisanya feed aditif sehingga menyebabkan
48% dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor lain yang kandungan protein pada albumen menjadi
dapat memengaruhi nilai HU yakni konsumsi semakin baik dan nilai HU yang diperoleh
ransum dan kondisi ayam itu sendiri. Nilai (r = juga semakin tinggi. Kandungan albumen
0,72) berarti bahwa hubungan antara dosis feed yang baik erat kaitannya pada penelitian ini.
aditif dengan HU memiliki keeratan hubungan Adapun rata – rata kandungan albumen
sebesar 72%. berturut – turut yaitu 7,06 mm (P0); 7,79
Konsumsi ransum yang pada penelitian mm (P1); 7,63 mm(P2); 7,69 mm (P3).
ini berada dibawah konsumsi normal Pada penelitian ini nilai HU yang
menyebabkan penggunaan ransum kurang didapat tergolong sangat tinggi (kualitas
maksimal. Akan tetapi, karena adanya tambahan AA). Hal tersebut karena adanya senyawa
senyawa sepeti vitamin, asam amino, dan mineral tambahan seperti asam amino, vitamin, dan
yang terdapat dalam feed aditif diduga mineral yang ada pada feed aditif. Vitamin
mengakibatkan metabolisme dan penyerapan yang terdapat pada feed aditif antara lain
nutrisi ransum menjadi optimal sehingga nilai HU adalah vitamin A, D, E, K, B1, B2, B6,
yang dihasilkan cukup baik. Hal tersebut karena B12, vitamin C, niacin, asam folat dan
senyawa tambahan yang ada pada feed aditif dapat cholin chloride yang membantu
membantu dalam mengoptimalkan metabolisme memaksimalkan proses metabolisme
pada tubuh ayam. menyebababkan metabolisme ayam menjadi
Titik optimum yang berada pada dosis optimal sehingga didapatkan nilai HU yang
0,23% dengan pola kuadratik diduga karena sangat tinggi. .
keterbatasan ayam dalam memanfaatkan feed aditif Menurut Anggarodi (1995),
yang terdapat dalam ransum. Nilai HU optimum vitamin A secara umum berfungsi sebagai
pada dosis 0,23% dan kembali menurun diduga katalis metabolisme, proses pertumbuhan,
karena keterbatasan ayam dalam memanfaatkan saluran reproduksi serta penglihatan.
feed aditif dimana kandungan feed aditif terdapat Vitamin D bermanfaat untuk metabolisme
vitamin yang akan terbuang jika terlalu banyak kalsium dan fosfor dalam pembentukan
diberikan, sedangkan mineral yang terkandung kerangka normal, membentuk paruh dan
pada feed aditif justru dapat menjadi racun jika cakar yang keras serta kerabang telur yang
terlalu banyak dikonsumsi karena mineral sendiri kuat. Vitamin E bermanfaat untuk
merupakan bahan anorganik yang bersifat toksik meningkatkan fertilitas, pertumbuhan
jika terlalu banyak dikonsumsi oleh ternak . embrio normal dan sebagai antioksidan.
Seperti yang dikemukakan Pesti dkk. Vitamin K berfungsi dalam pembentukan
(2005) bahwa pemberian metionin perlu protrombin yang nantinya digunakan untuk
memperhatikan tingkat protein, bentuk fisik pengaturan proses pembekuan darah.
dan palatabilitas bahan pakan. Selain itu, karena Vitamin B1 berfungsi untuk membantu
metionin diketahui sebagai asam amino yang proses metabolisme karbohidrat dan energi
bersifat racun bila berlebihan, sehingga dalam tubuh. Vitamin B2 berfungsi dalam
pemberiannya harus diperhatikan dengan baik. metabolisme karbohidrat, asam amino, dan
Kelebihan pemberiannya akan berakibat buruk asam lemak. Vitamin B3 atau lebih dikenal
pada penambahan berat badan. Terjadinya sebagai niasin berfungsi dalam metabolisme
penurunan selera makan atau penurunan laju karbohidrat, protein, dan lemak menjadi
pertumbuhan dapat disebabkan oleh antagonisme energi. Vitamin B6 atau piridoxin berfungsi
asam-asam amino, walaupun efek buruknya untuk metabolisme protein dan lemak
dapat dikoreksi dengan asam amino pembatas dalam tubuh. Vitamin B9 atau yang lebih
(metionin, lysine, dan triptophan). sering disebut sebagai asam folat berfungsi
Nilai HU ditentukan berdasarkan keadaan untuk metabolisme karbohidrat. Vitamin
putih telur, yaitu korelasi antara bobot telur dan B12 atau sering disebut sebagai
tinggi putih telur. Menurut Stadelman dan Cotteril cyanocobalamin berfungsi untuk
(1995), nilai HU dipengaruhi oleh kandungan metabolisme karbohidrat dan lemak dalam
ovomucin yang terdapat pada putih telur. Putih tubuh. Vitamin C ini berfungsi untuk
telur yang semakin tinggi, maka nilai HU yang metabolisme sel dan sebagai anti oksidan.
diperoleh semakin tinggi. Putih telur yang Kolin sendiri mempunyai peranan
mengandung ovomucin lebih sedikit maka akan penting sebagai donor grup metil untuk
lebih cepat mencair (Mountney, 1976). Pada prosestransmetilasi dalam tubuh (Loestet
234
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 230-236, Agustus 2016 Destama Rendy S. et. al.
dkk., 2003) yang dapat mensintesis asam amino penelitian adalah 27,67o C masih dalam
metionin melalui produk degradasinya yaitu kisaran normal, sedangkan nilai HU yang
betain. Betain merupakan asam amino (trimetil- didapat masih sangat baik meskipun ayam
glisin) intermediet dalam proses katabolisme kolin sudah tua diduga karena adanya asam
(Fernandez dkk., 2002). Berdasarkan hal tersebut amino dan senyawa lain yang ditambahkan
maka dengan adanya vitamin pada feed aditif dalam bentuk feed aditif.
dengan sumbangan yang cukup besar terutama Nilai HU yang didapat lebih besar dari
pada vitamin A dan D3 yaitu sebesar 5.000.000 72 yang artinya telur masih dalam kondisi
dan 1000.000 IU dalam 2,5 kg feed aditif maka sangat baik yaitu masuk kedalam kategori
kualitas ransum dapat meningkat dan AA. Feed aditif yang ditambahkan dalam
menghasilkan metabolism nutrien yang baik pada ransum mengandung asam amino yang
ayam. berperan dalam pembentukan protein
Asam amino yang ditambahkan memiliki albumen yang dapat memengaruhi nilai HU
peranan cukup besar. Asam amino seperti DL – sehingga pada perlakuan kontrol dimana
methionin sendiri memiliki kandungan sebesar tidak diberi penambahan feed aditif
100.000 mg dalam 2,5 kg feed aditif sehingga memiliki hasil rata – rata paling rendah jika
sumbangannya cukup besar terutama pada tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
dan kualitas albumen telur dimana albumen Pada perlakuan yang tidak ditambahan feed
memiliki kandungan yang berasal dari protein, aditif memiliki hasil yang lebih rendah jika
sedangkan protein sendiri tersusun dari asam - dibandingkan dengan perlakuan lain diduga
asam amino sehingga pada penelitian ini nilai HU karena kebutuhan nutrisi ransum kurang
yang didapat sangat baik yang disebabkan salah meskipun nilai HU nya masih tergolong
satunya oleh kualitas albumen yang sangat baik. sangat baik. Hal tersebut karena telur masih
Metionin sendiri adalah asam amino mengandung dalam kondisi segar. Sedangkan pada
sulfur dan essensial (undispensable) bagi manusia bobot telur tidak berpngaruh karena yang
dan ternak monogastrik sehingga metionin menentukan bobot telur bukan hanya
harus tersedia di dalam ransum ternak (Schutte berdasarkan kandungan putih telur
dkk., 1997) melainkan ada pengaruh kandungan lain
Pada feed aditif juga terdapat kandungan dan juga tebal kerabang itu sendiri.
beberapa jenis mineral seperti Zn, yodium,
mangan, kalsium, ferros, cobalt dan copper yang SIMPULAN
tentunya memberikan peranan tersendiri bagi
ayam. Dalam feed aditif kandugan Zn cukup besar 1. Penambahan feed aditif dengan dosis (0;
yaitu sebesar 30.000 mg. Penelitian akhir-akhir ini 0,15; 0,25; 0,35%) dalam ransum
memperkirakan bahwa seng mempunyai peranan memberikan pengaruh yang tidak nyata
dalam metabolisme prostaglandin atau proses- (P>0,05) terhadap bobot telur, tetapi
proses yang diperantarai oleh prostaglandin berpengaruh nyata (P<0,05) pada nilai
(Aminuddin, 1984). Pengaruh mangan juga sangat haugh unit telur ayam ras.
besar karena memiliki kandungan sebesar 40.800
mg/ 2,5 kg feed aditif. Mangan terdapat dalam 2. Penambahan feed aditif menunjukkan
konsentrasi tinggi dalam mitokondria dan dosis optimum sebesar 0,23% pada nilai
berfungsi sebagai faktor penting untuk pengaktifan haugh unit telur ayam ras.
glikosiltransferase yang berperan sebagai sintesis
oligosakarida, glikoprotein, dan proteoglikan. DAFTAR PUSTAKA
Mangan diperlukan untuk aktivitas superoksida
dismutase. Salah satu akibat defisiensi mangan Aminuddin, 1984. Ilmu Nutrisi dan Bahan
adalah ketidak normalan kerangka (Scott, 1982). Makanan Ternak. Sumber
Kandungan mineral lain seperti kalsium, copper, Swadaya. Jakarta.
cobalt, ferros dan iodium memiliki kandungan Anggorodi, H. R. 1995. Nutrisi Aneka
yang sangat rendah dalam feed aditif dirasa belum Ternak Unggas. PT. Gramedia
memberikan pengaruh yang cukup dalam Pustaka Utama. Jakarta.
meningkatkan kualitas ransum itu sendiri. Austic, R. E. and M. C. Nesheim. 1990.
Haugh unit dipengaruhi umur ayam dan Poultry Production. 13th Ed. Lea
genotipnya, musim, kandungan nutrisi pakan, lama and Febiger, Philadelphia.
dan suhu selama penyimpanan. Umur ayam yang Card LE, and Nesheim MC. 1972. Poultry
meningkat dan suhu lingkungan di atas 30°C Production.11th Edit. Phildelphia:
menyebabkan penurunan nilai HU (Williams, Lea and Febiger.
1992). Pada penelitian ini suhu rata – rata saat
235
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 230-236, Agustus 2016 Destama Rendy S. et. al.
Dewansyah, A. 2010. Efek Suplementasi Vitamin Press.Yogyakarta.
A dalam ransum terhadap produksi dan William, K.C. 1992. Some factors affecting
kualitas telur burung puyuh. Skripsi. albumen quality with particular
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas reference to Haugh unit score.
Maret. Surakarta. World's Poultry Science Journal 48
Fathul,F.,Tantalo,S.,Liman,danPurwaningsih,N.20 : 5-16.
13.Pengetahuan Pakan Dan Formulasi Yuwanta, T. 2010. Telur dan Kualitas
Ransum. Universitas Lampung. Bandar Telur. UGM Press, Yogyakarta.
Lampung.
Fernandez-Figares, I., D. Wray-Cahen, N.C.Steele,
R.G. Campbell, D.D. Hall, E.Virtanes &,
T.J. Caperna.2002. Effect ofdietary betain
on nutrient utilization andpertitioning in
the young growing feed-restricted pig. J.
Animal. Sci. 80: 421-428.
Isa brown management guide. 2015. A Hendrix
genetics company.
Kurtini, T. dan Rr. Riyanti. 2011. Ilmu Produksi
Ternak Unggas. Penuntun Praktikum.
Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Loest, C. A., E. C. Titgemeyer., G. St-Jeans., D.C.
Van Metre &, J. S.
Smith.2003.Methionine as a methyl group
donor ingrowing cattle. J. Anim. Sci. 80:
2197-2206.
Mountney, G. J. 1976. Poultry Products
Technology. 2nd. Publishing Company.
INC. Westport
North, M. O. and D. D. Bell. 1990.
Commercial Chicken Prodution
th
Manual. 4 Edition. Chapman and Hall,
New York.
Pesti, G. M., R. I. Bakalli, J. P. Driver, A. Atencio,
and E. H.Foster. 2005. Poultry Nutrition
and Feeding. The University of Georgia.
Department of Poultry Science, Athens
Georgia.
Perusahaan Terbuka. Mensana Aneka Satwa. 2015.
Daftar Produk – Produk Obat Hewan.
Jakarta
Schutte, J.B., J. De jong, W, Smink, and M. Pack.
1997. Replacement value of betaine for
DL-methionine in male broiler chicks. J.
Poultry Sci. 76: 321-325.
Scott, M. L., M. C. Nesheinm and R. J. Young.
rd
1982. Nutrient of The Chicken. 3
Edition. M. L. Scott and, Associates,
Itacha, New York.
Stadelman, W. J. and O. J. Cotteril. 1995. Egg
Science and Technology. 4th Ed. Food
Products Press. An Imprint of the
Haworth Press, Inc., New York.
Steel, R.D. dan J.H. Torrie. 1991. Prinsip dan
Prosedur Statistiska. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta
Wahju, J, 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan
ke-5. Gadjah Mada University
236