KAJIAN MODEL BISNIS KOPERASI EPTILU
DENGAN PENDEKATAN BUSINESS MODEL CANVAS
(Study Of The Eptilu Cooperative With The Business Model Canvas Approach)
Muhamad Ridwan1)
1,2,3)
Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Garut
1)
muhamadridwan120396@gmail.com
ABSTRACT
The Eptilu Cooperative is an agricultural cooperative with partnerships (closed
loop) that produces horticultural products with a particular business model. This
study aims to identify the current Eptilu Cooperative business model as well as
map and evaluate the Eptilu Cooperative business model into a business model
canvas. This research is a case study of an agricultural cooperative conducted in
August 2023 in the district of Cikajang, Garut Regency, West Java. The
population and sample in this study include owners, employees, and activities
that occur in the Eptilu Cooperative. Data collection is done by Focus Group
Discussion (FGD) with direct observation and conducting in-depth interviews
with respondents using a questionnaire guide. This research is focused on
mapping the current business model of the Eptilu Cooperative using an approach
The Business Model Canvas contains nine main elements in a business model
that include customer segment, value proposition channel, customer relationship,
revenue stream, key resources, key activities, key partnerships, and cost structure.
The research results show that the prototype business model canvas describes the
current Eptilu Cooperative business model.
Keyword(s): agricultural cooperative, closed loop, business model canvas
ABSTRAK
Koperasi Eptilu merupakan koperasi pertanian dengan kemitraan Closed
Loop yang memproduksi produk hortikultura bersifat sustainable
(berkelanjutan) dengan model bisnis tertentu. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi model bisnis Koperasi Eptilu saat ini, serta untuk
memetakan dan mengevaluasi model bisnis Koperasi Eptilu ke dalam
pendekatan Business Model Canvas. Penelitian ini merupakan studi kasus
pada sebuah koperasi pertanian, dilakukan pada bulan Agustus 2023 yang
berlokasi di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Populasi
dan sampel dalam penelitian ini meliputi pemilik, karyawan, maupun
aktivitas yang terjadi di Koperasi Eptilu. Pengambilan data dilakukan
1
secara Focus Group Discussion (FGD) dengan observasi secara langsung
dan melakukan wawancara mendalam terhadap responden dengan
panduan kuesioner. Penelitian ini difokuskan pada pemetaan model
bisnis Koperasi Eptilu saat ini dengan menggunakan pendekatan Business
Model Canvas, berisikan sembilan blok elemen utama dalam model bisnis
yang mencakup Customer Segment, Value Proposition Channel, Customer
Relationship, Revenue Stream, Key Resourcess, Key Activities, Key Partnership,
dan Cost Structure. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prototype Business
Model Canvas menggambarkan model bisnis Koperasi Eptilu saat ini.
Kata kunci: koperasi pertanian, closed loop, kanvas model bisnis
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kabupaten Garut merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat
yang hasil pertaniannya berupa komoditas Kentang, Tomat, Cabai besar,
Cabai Kecil, dan Kubis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan
komoditas tersebut menempati 44% dari luas lahan panen di Jawa barat
yakni sebesar 23.419 Hektar pada tahun 2018, dengan rincian yaitu 7.158
Hektar komoditas Kentang, 5.487 Hektar komoditas Kubis, 4.094 Hektar
komoditas Tomat dan 6.680 Hektar komoditas Cabai (BPS. 2021). Terkait
hasil produksi tanaman sayuran Jawa Barat, Kabupaten Garut menjadi
provinsi yang menyumbang hasil panen tertinggi untuk komoditas-
komoditas tersebut (Tabel 1).
Tabel 1. Produksi Komoditas Hortikultura Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Jawa Barat Tahun 2018
No Produksi Produksi
Produksi Produksi Produksi
Kabupaten/ Cabai Cabai
Kentang Kubis Tomat
Kota Besar Kecil
(kw) (kw) (kw)
(kw) (kw)
1 Garut 1.730.476 1.471.739 911.354 1.302.658 1.144.262
2 Bandung 857.834 917.671 496.546 685.457 618.774
3 Cianjur 910 122.452 365.500 588.600 305.728
4 Majalengka 36.005 35.172 130.489 211.566 39.130
Total
Produksi 2.655.359 2.804.483 2.740.374 4.054.526 2.684.480
Jawa Barat
Sumber : Badan Pusat Statistik (2021)
Potensi pengembangan pertanian hortikultura ini tidak terlepas dari
permasalahan, karena produk hortikultura cenderung cepat rusak
2
sehingga memerlukan suatu sistem dan wadah yang memadai sehingga
produk ini mendapatkan penanganan khusus untuk menjaga kualitasnya.
Koperasi merupakan bagian dari struktur ekonomi, artinya
dalam seluruh kegiatannya bertujuan untuk tercapainya kehidupan
ekonomi yang sejahtera, baik bagi mereka yang menjadi anggota
perkumpulan itu sendiri maupun bagi masyarakat
sekitarnya (Mawarzani, S. 2020). Untuk itu, keberadaan koperasi harus
kuat, bukan hanya sistem namun kuat dalam hal sumber daya manusia.
Artinya, anggota dan pengelola koperasi harus memiliki kompetensi
manajemen maupun berbagai kompetensi lainnya yang diperlukan untuk
mengembangkan koperasi.
Koperasi pertanian adalah koperasi yang beranggotakan petani
pemilik atau pekerja pertanian yang mempunyai kepentingan dan
berkaitan dengan agribisnis. Koperasi pertanian ikut berkontribusi dalam
peningkatan kesejahteraan petani. Kesejahteraan yang dimaksud
adalah mampu memfasilitasi kegiatan usaha yakni, melalui pembelian
pupuk, pinjaman modal, benih, pestisida, alat pertanian. Selain itu,
koperasi juga dapat bertindak sebagai pemilik atau pemegang saham.
Koperasi merupakan jembatan antara petani dalam mengakses input
produksi, penyediaan modal, konsultasi dan memasarkan hasil pertanian
bagi anggota koperasi (Koib & Simamora, 2022).
Koperasi Eptilu merupakan salah satu koperasi yang bergerak di
bidang pertanian di Kabupaten Garut, secara prinsip memiliki kesamaan
dengan koperasi pertanian yang lain, perbedaannya yaitu terlibatnya
banyak pihak di dalam kegiatan-kegiatan koperasi. Koperasi Eptilu
melibatkan banyak pemangku kepentingan (multi-stakeholder) dan
dikembangkan dalam ekosistem yang berbasis digital, teknik budidaya
Good Agricultural Practices (GAP), sistem logistik yang baik serta jaminan
pasar/harga yang bersaing oleh off-taker. Khusus untuk pemasaran hasil
produksi petani, dibuat kontrak terpisah antara perwakilan petani (yang
disebut agregator dalam bentuk lembaga koperasi) dengan pihak off-taker
(Yanuar, R. 2022).
Koperasi Eptilu dihadapkan pada berbagai perubahan lingkungan,
seperti peningkatan persaingan, perubahan regulasi, dan permintaan
pasar yang berubah. Untuk menghadapi tantangan ini, koperasi Eptilu
perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap model bisnis yang sedang
dijalankan. Untuk penggambaran hasil yang sederhana namun
berpotensi, dapat memanfaatkan pendekatan analisis yang sistematis dan
terstruktur, seperti Business Model Canvas (BMC).
3
BMC ini merupakan alat analisis model bisnis dengan penyajian data
secara sederhana namun menyeluruh terhadap sembilan komponen
esensial pada bisnis (Jamira, dkk, 2021). Metode ini begitu populer dan
banyak digunakan dalam berbagai studi kasus penelitian, dengan
berbagai tujuan penerapan. Metode BMC dapat menjadi pendekatan dasar
untuk melahirkan ide bisnis, hingga mengujinya, sampai dengan
digunakan untuk menganalisis model bisnis dari usaha yang telah
berjalan.
Rumusan Masalah
Produksi hortikultura di Kabupaten Garut sangatlah tinggi, seperti
yang ditunjukkan pada data Produksi Komoditas Hortikultura di atas
(tabel 1), tingginya kontribusi produksi hortikultura di Kabupaten Garut,
secara tidak langsung mengharuskan petani untuk memiliki stabilitas
finansial demi menjamin kesejahteraan hidup. Oleh karena itu, petani
diharapkan dapat bekerjasama dengan koperasi untuk mencapai tujuan
tersebut. Dengan adanya koperasi, dapat membantu memfasilitasi seluruh
kebutuhan para petani.
Koperasi Eptilu merupakan koperasi yang memiliki program
kemitraan Closed Loop yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
petani melalui pendampingan proses budidaya dan kepastian akses pasar.
Model kemitraan Closed Loop merupakan model jenis baru dalam
kemitraan Agribisnis hulu hingga hilir yang dikembangkan pada
ekosistem digital, dengan teknik budidaya GAP, sistem logistik dan
jaminan pasar yang baik, serta harga yang kompetitif bagi pembeli.
Besaran produksi hortikultura di Kabupaten Garut tentunya
menuntut pasar yang luas, hal ini pula berlaku menjadi salah satu
permasalahan yang dihadapi oleh Koperasi Eptilu yakni pemasaran.
Selain itu tantangan lainnya berupa persaingan usaha dengan pelaku
usaha produk yang sama dan lain dari daerah lain di dalam negeri untuk
memasarkan produknya. Permasalahan di atas sehingga dibutuhkan
sebuah model bisnis yang menggambarkan dasar pemikiran tentang
bagaimana organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai
(Osterwalder dan Pigneur, 2012).
Menyadari model bisnis yang dijalankan saat ini, perusahaan dapat
mengevaluasi model bisnis untuk perbaikan dan penyempurnaan model
bisnis di masa yang akan datang. Perbaikan model bisnis dapat mengisi
kesenjangan dengan menyediakan beberapa model bisnis alternatif yang
dapat diuraikan dalan bentuk program-program di masa mendatang
(Tian dan Martin, 2014). Metode pemetaan model bisnis yang cukup
4
popular adalah pemetaan model bisnis dengan pendekatan Business Model
Canvas. Menurut Osterwalder dan Pigneur (2019), Business Model Canvas
adalah alat untuk membantu pengusaha dalam memahami business plan
suatu perusahaan secara sederhana dan menyeluruh. Kemampuan
menjelaskan unsur-unsur inti dalam suatu perusahaan lebih mudah
dengan satu kanvas. Business Model Canvas diperlukan untuk
menggambarkan sebuah bisnis dengan menggunakan sembilan blok
elemen (Customer Segment, Value Proposition Channel, Customer Relationship,
Revenue Stream, Key Resourcess, Key Activities, Key Partnership, dan Cost
Structure).
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang akan dibahas
pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pemetaan model bisnis Koperasi Eptilu saat ini dengan
pendekatan Business Model Canvas?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah:
1. Mengetahui dan menganalisis model bisnis Koperasi Eptilu saat ini.
2. Memetakan dan mengevaluasi model bisnis Koperasi Eptilu ke
dalam pendekatan Business Model Canvas.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada pemetaan model bisnis Koperasi Eptilu
saat ini dengan menggunakan pendekatan Business Model Canvas. Model
bisnis ini ditampilkan dalam satu lembar kanvas yang berisikan pemetaan
Sembilan blok elemen utama dalam model bisnis yang mencakup
Customer Segment, Value Proposition Channel, Customer Relationship, Revenue
Stream, Key Resourcess, Key Activities, Key Partnership, dan Cost Structure.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Koperasi Eptilu yang berlokasi di Kec.
Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada bulan
Agustus 2023. Pemilihan koperasi dilakukan secara sengaja (purposive)
dengan pertimbangan bahwa Koperasi Eptilu merupakan salah satu
perusahaan yang memiliki program kemitraan Closed Loop.
Jenis dan Sumber Data
5
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder, informasi internal perusahaan yang mencakup produksi,
pemasaran dan manajemen perusahaan. Sumber data primer merupakan
referensi utama dalam penelitian ini dan diperoleh melalui wawancara
langsung kepada pihak koperasi dengan menggunakan alat bantu
kuesioner yang disesuaikan untuk menjawab masalah dari penelitian ini.
Sumber data sekunder didapat dari data pembukuan Koperasi Eptilu,
dokumen dari instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik, Dinas
Pertanian Jawa Barat, serta beberapa literatur dari penelitian terdahulu
yang relevan dengan penelitian ini.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode Focus Group Discussion (FGD) dengan observasi secara
langsung dan melakukan wawancara mendalam terhadap responden
dengan menggunakan panduan kuesioner. Responden yang dipilih yaitu
Manajer sekaligus pengelola Koperasi Eptilu dan karyawan sehingga
dapat mewakili keseluruhan objek penelitian yang merupakan bagian dari
perusahaan, serta mengetahui kondisi dari Koperasi Eptilu.
Metode Pengolahan Data
Metode pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisis kualitatif dengan metode studi kasus di Koperasi Eptilu
dengan menggunakan analisis pendekatan Business Model Canvas (BMC).
Analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkesinambungan
pada setiap blok elemen dalam business model canvas. Selanjutnya data
hasil analisis kualitatif tersebut disajikan kedalam bentuk pemetaan sesuai
dengan pendekatan business model canvas yang akan dievaluasi
sebelumnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menghasilkan satu alternatif model bisnis bagi
perusahaan. Alternatif prototype model bisnis dirancang berdasarkan
analisis pendekatan Business Model Canvas. Berikut adalah beberapa ide
yang mendasari pembentukan prototype model bisnis bagi Koperasi Eptilu:
1. Penambahan value propositions yang ditawarkan oleh perusahaan.
2. Pengklasifikasian customer segments dengan lebih detail.
3. Pengoptimalan penggunaan teknologi informasi dalam aktivitas
pemasaran perusahaan.
6
Business Model Canvas (BMC) memperlihatkan bagaimana elemen-
elemen tersebut saling berhubungan dalam menciptakan dan menangkap
nilai yang diberikan oleh perusahaan dengan sehingga dapat dilakukan
perencanaan strategi bisnis yang baik secara berkelanjutan dengan
memanfaatkan teknik visualisasi untuk menggambarkan faktor-faktor
yang dibutuhkan dalam mendesain model bisnis sehingga dapat
mempermudah pemahaman dan diskusi mengenai model bisnis antara
semua stakeholder dalam membuat strategi alternatif. Business Model
Canvas (BMC), merupakan sebuah Tools yang dapat digunakan untuk
memetakan suatu bisnis dengan sembilan petak untuk mengetahui
permasalahan dengan mudah dan dapat memberikan solusi bagi
perusahaan tentang apa aktivitas kunci dari suatu kegiatan usaha seperti
Customer Segments, merupakan berbagai kelompok orang atau organisasi
yang ingin dijangkau dan dilayani oleh organisasi bisnis. Value
Propositions, merupakan gabungan antara produk dan layanan yang dapat
menciptakan sebuah nilai untuk segmen pelanggan tertentu. Channels,
merupakan cara bagaimana sebuah organisasi bisnis dalam
berkomunikasi dan menjangkau segmen pelanggannya untuk
menyampaikan proposi nilai dari sebuah produk yang ingin ditawarkan,
yang terdiri dari komunikasi, distribusi, serta penjualan yang digunakan
sebagai penghubung antara organisasi dengan pelanggan. Customer
Relationships, merupakan hubungan yang ingin dijalin oleh sebuah
7
organisasi bisnis dengan segmen pelanggan. Revenue Streams, merupakan
arus pendapatan uang tunai yang dihasilkan oleh organisasi bisnis dari
setiap segmen pelanggan, bahwa biaya harus dikurangkan dari
pendapatan agar dapat menghasilkan pendapatan. Key Activities,
merupakan hal-hal terpenting yang harus dilakukan oleh organisasi bisnis
agar model bisnisnya dapat berfungsi dengan baik. Key Resources,
merupakan penjelasan mengenai aset-aset terpenting yang dibutuhkan
untuk membuat model bisnis agar dapat berfungsi dengan baik. Key
Partnerships, merupakan jaringan pemasok dan mitra yang membuat
model bisnis sebuah organisasi bisnis dapat berfungsi dengan baik. Cost
Structure, menggambarkan tentang aktivitas keuangan mengenai seluruh
biaya yang dikeluarkan oleh organisasi bisnis dalam mengoperasikan
model bisnis (Osterwalder & Pigneur, 2020).
Berikut ini adalah penjelasan dari sembilan blok elemen pada
model bisnis yang diterapkan oleh Koperasi Eptilu saat ini dan
pemetaannya kedalam Business Model Canvas:
Customer Segments
Target segmen pelanggan dari Koperasi Eptilu adalah semua kelas
ekonomi di masyarakat. Koperasi Eptilu melayani segmen pelanggan di
Kabupaten Garut dan segmen pelanggan dari luar Kabupaten Garut.
Segmen pelanggan Koperasi Eptilu dari luar Kabupaten Garut, terbagi ke
dalam dua pasar mitra, diantaranya Pasar Induk (Pasar Rawu Serang
Banten, Pasar Tanah Tinggi Tangerang, Pasar Keramat Jati Jakarta, Pasar
Cibitung Bekasi, Pasar Caringin Bandung) dan Pasar Premium (Eden
Farm, Tani Hub, Segari, Paskomnas).
Value Propositions
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh
peneliti, berikut adalah beberapa Value Propositions yang dimiliki oleh
Koperasi Eptilu yaitu:
a. Kualitas sayuran hasil produksi anggota petani koperasi Eptilu
sudah mendapat sertifikasi prima 3 yang menyatakan produk ini aman
dikonsumsi dengan level residu pestisida dibawah ambang batas, segar &
berkualitas.
b. Koperasi Eptilu memberikan pelayanan yang terbaik bagi
konsumen, karena koperasi Eptilu menjembatani atau memberikan solusi
atas kendala yang dihadapi petani, sehingga produk yang dihasilkan
dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
8
c. Memiliki brand atau merek sendiri yaitu Eptilu “Fresh From Farm”
(segar dari kebun). Kepemilikan brand atau merek Eptilu “Fresh From
Farm” membawa nilai tambah berupa kepercayaan konsumen, karena
produk Eptilu sendiri telah tersertifikasi prima 3 yang menjamin produk
berkualitas dan aman untuk dikonsumsi.
d. Memberikan kemudahan bagi Pasar untuk memesan produk
dengan menggunakan media online by WhatsApp untuk melakukan
pemesanan.
e. Pembayaran bisa dilakukan melalui via transfer & cash.
f. Koperasi Eptilu berkomitmen menjamin kepastian pasar, harga dan
pembayaran kepada anggota petani mitra.
g. Koperasi Eptilu menjamin kontinuitas dan kualitas terhadap
pelanggan pasar.
Channels
Saluran pemasaran yang digunakan oleh Koperasi Eptilu dalam
mendistribusikan produknya menggunakan tiga saluran pemasaran,
diantaranya:
1. Direct selling, melalui saluran ini perusahaan menjual langsung
produk hortikultura kepada konsumen akhir.
2. Pasar mitra, melalui saluran ini perusahaan menjual produk
hortikultura kepada konsumen akhir melalui perantara (pasar
mitra). Koperasi Eptilu akan mensuplai produk kepada pasar
untuk dijual kepada konsumen akhir.
Customer Relationships
Dalam menjalin hubungan yang baik dengan pelanggan, koperasi
Eptilu melakukan komunikasi secara langsung dengan pelanggan,
terbuka dalam menerima kritik dan saran, serta menjaga kualitas produk
yang dijual agar pelanggan selalu merasa puas. Selain itu, Koperasi Eptilu
juga memberikan layanan jasa antar (delivery) produk pesanan dalam
lingkup Kabupaten Garut dan sekitarnya dengan tetap menjaga komitmen
kerjasama.
Revenue Streams
Sumber pendapatan berasal dari penjualan tiap masing-masing
produk hortikultura yang dijualnya. Pendapatan Koperasi Eptilu berasal
dari penjualan produk hortikultura seperti tomat, cabai, kentang, kubis,
wortel, labu siam, sawi putih, bawang merah. Untuk total pendapatan
penjualan produk hortikultura selama satu tahun terakhir yaitu pada
9
tahun 2022 ± sebesar Rp. 2.112.506.200,00 dan Koperasi Eptilu
memperoleh keuntungan ± sebesar 10% per tahun 2022 sebesar Rp.
211.250.620,00.
Key Activities
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, Key Activities dari
Koperasi Eptilu sebagai berikut:
a. Aktivitas produksi dimulai dari pembelian produk hortikultura
dari petani mitra, lalu dilakukan sortir dan grading yang bertujuan untuk
memisahkan dan mengelompokkan hasil panen sesuai dengan kualitas
yang telah ditentukan Eptilu sehingga dilakukan pengemasan menjadi
produk hortikultura yang siap jual dan siap untuk didistribusikan ke
pasar mitra. Sedangkan, untuk pesanan online dilakukan dengan cara
pemesanan terlebih dahulu atau system pre-order.
b. Untuk kegiatan promosi, Koperasi Eptilu menggunakan promosi
Word of Mouth yaitu dari mulut ke mulut.
c. Untuk permasalahan yang dihadapi pelanggan terkait dengan
produk disampaikan kepada pemilik, selanjutnya akan dicarikan solusi
terkait masalah tersebut.
Key Resources
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh
peneliti, didapatkan data sebagai berikut:
a. Sumber Daya Fisik, yang dimiliki oleh Koperasi Eptilu adalah
gudang, Green House, Solar Dryer, kendaraan traktor, mobil truk, sepeda
motor, serta alat mesin lainnya.
b. Sumber Daya Finansial, sebagai modal yang diperlukan dalam
menjalankan kegiatan usaha berasal dari pinjaman bank dan keuntungan
dari hasil penjualan produk hortikultura. Untuk pengelolaan keuangan
diatur sendiri oleh pemilik dari Koperasi Eptilu dengan mencatat aliran
dana masuk dan aliran dana yang dikeluarkan selama kegiatan
operasional berjalan.
c. Sumber Daya Intelektual, meliputi merek dagang, pengetahuan
dan keterampilan yang dilindungi, paten dan hak cipta.
d. Sumber Daya Manusia, yang dimiliki saat ini terdiri dari tenaga
kerja tetap sebanyak 40 orang dan tenaga kerja tidak tetap sebanyak 10
orang. Struktur tenaga kerja Koperasi Eptilu terbagi menjadi tiga bagian
yaitu, struktur kelompok tani sebanyak 8 tenaga kerja dan struktur kebun
produksi Eptilu sebanyak 23 tenaga kerja.
10
Key Partnerships
Koperasi Eptilu memiliki beberapa partners, yang terdiri dari
perbankan (BRI) sebagai kerjasama permodalan, perusahaan bibit/benih
(East West Seed Indonesia), perusahaan pupuk (PT Pupuk Kujang),
perusahaan pestisida (Syngenta), mitra pasar seperti Pasar Induk terbagi
menjadi (Pasar Rawu Serang Banten, Pasar Tanah Tinggi Tangerang,
Pasar Keramat Jati Jakarta, Pasar Cibitung Bekasi, Pasar Caringin
Bandung) dan Pasar Premium terbagi menjadi (Eden Farm, Tani Hub,
Segari, Paskomnas).
Cost Structure
Biaya yang ditanggung oleh Koperasi Eptilu dibedakan menjadi
biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap meliputi biaya listrik, air, gaji
karyawan tetap, maintenance peralatan dan mesin produksi. Sedangkan,
biaya variable meliputi biaya pembelian produk hortikultura, biaya
pengiriman, serta biaya gaji karyawan lepas.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini,
menunjukkan bahwa saat ini Koperasi Eptilu dalam kegiatan bisnis sehari-
harinya telah menerapkan sebuah konsep model bisnis yang telah memenuhi
syarat ketentuan dari kesembilan elemen (Customer Segment, Value Proposition
Channel, Customer Relationship, Revenue Stream, Key Resourcess, Key Activities, Key
Partnership, dan Cost Structure) yang ada di dalam konsep Business Model Canvas).
Saran
Berdasarkan simpulan dari penelitian ini, maka peneliti menyarankan
perusahaan untuk melakukan penelitian lanjutan yang memerlukan analisis
pengembangan Koperasi Eptilu untuk langkah strategis di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
(DJPEN) Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (ID). 2011. Rumput
Laut dan Produk Turunannya. Jakarta: Kementerian Perdagangan Republik
Indonesia. (DJP2HP) Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil
11
Perikanan (ID) 2014. Statistik Kerapu-Rumput Laut-Nila. Jakarta
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Amalia R. 2009. Strategi Pengembangan Usaha Jus Buah Pada Winner Perkasa
Indonesia Unggul, Kota Depok, Jawa Barat. (skripsi). Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
ASTRULI. 2014. Roadmap Industri Rumput Laut Indonesia. Bahan Presentasi
Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI)
Biki, A., & Juniawaty, R. (2022). Analisis Pengembangan Bisnis melalui
Pendekatan Business Model Canvas pada Pabrik Tahu Mbah Ran
(Tukiran). FOCUS, 3(2), 136-145.
Bismala, L., Andriany, D., Siregar, G., Arda, M., Manurung, Y. H., Damanik, W.
S., ... & Wahyu, A. (2023). Pelatihan Penyusunan Bisnis Plan dan Business
Model Canvas Sebagai Upaya Peningkatan Kompetensi Pengelola Koperasi
Cagar Jaga Nusantara, Langkat. Darmabakti: Jurnal Pengabdian dan
Pemberdayaan Masyarakat, 4(1), 57-63.
Boedianto LP, Harjanti D. 2015. Strategi Pengembangan Bisnis Pada Depot
Selaris Dengan Pendekatan Business Model Canvas. AGORA (internet).
(diunduh pada 2015 Desember 161: 3(2):292-301. Tersedia pada
hitp:/studentjournal.petra.ac.id/index.php/manajemen-bisnis/issue/view/162.
Concon. 2013. Pendekatan Pembangunan Industri Rumput Laut Pada Sentral
Produksi Budidaya. Jakarta: DJBP KKP.
Hikmah. 2015. Strategi Pengembangan Oa Pengolahan Komoditas Rumput Laut
E. Cotonii Untuk Peningkatan Nilai Tambah di Sentra Kawasan
Indusirialisasi. Jurnal Kebijakan Sosek KP. 5(1):27-36
Jackson A, Harjanti D. 2015. Evaluasi dan Perancangan Model Bisnis pada Kaisar
Organizer Dengan Business Model Canvas. AGORA (internet). Idiunduh
pada 2016 April 21 32):302-305. Tersedia
http:/studentjournal.petra.ac.iphp/manajemenbisnis/issue/view/1 62.
Liu S. 2015. Business Characteristics and Business Model Classification in Urban
Agriculture (tesis). Wageningen (NL): Wageningen University and
Research Centre.
Maddinsyah, A., Hidayat, D., Juhaeri, J., Susanto, D., & Sunarsi, D. (2020).
Desain Formulasi Dan Implementasi Bisnis Strategik Dengan Pendekatan
Business Model Canvas (BMC) Terintegrasi Kerangka Integrated
Performance Management System (IPMS) Pada Koperasi Asperindo.
Inovasi, 7 (2). Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen E-ISSN, 2598, 4950.
Mahdi, A. F., & Baga, L. M. (2018, July). Business Model Canvas Perusahaan
Pengolah Rumput Laut. In Forum Agribisnis: Agribusiness Forum (Vol. 8,
No. 1, pp. 1-16).
Osterwalder A, Pigneur Y. 2012. Business Model Generation. Jakarta (ID): PT
Elex Media Komputindo.
Permana DJ. 2013. Analisis Peluang Bisnis Media Cetak Melalui Pendekatan
Bisnis Model Canvas Untuk Menentukan Strategi Bisnis Baru. FE
(internet). (diunduh pada 2015 Desember 16): 6(4):309-319. Tersedia pada :
http:/journalIppmunindra.ac.id/index.php/FaktorExacta/issue/view/39
Pusdatin KKP) Pusat Data dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan
(ID). 2013. Produksi Perikanan Budidaya 2013. Jakarta: Kementerian
Kelautan dan Perikanan.
12
Rangkuti F. 2000. Analisis SWOT Teknis membedah Kasus Bisnis, Jakarta (ID):
Penerbit Gramedia.
Ravi DZ. 2014. Pengembangan Bisnis Mochi Ice Cream dengan Business Model
Canyas (Studi Kasus Pada Mochi Premium Mochi Ice Cream). (skripsi).
Bandung (ID): Manajemen Bisnis Telkom University.
Sudariastuty E. 2011. Penyuluhan Perikanan: Pengolahan Rumput Laut. Jakarta
(ID): Panebar Swadaya.
Tian X, Martin B. 2014. Business models for higher education: an Australian
perspeetive. Journal of Management Development 33 (10): 932-948.
Tim PPM Manajemen. 2012. Business Model Canvas: Penerapan di Indonesia.
Jakarta(ID): PPM
Tjiptono F, Gregorius C. 2012. Pemasaran Strategik. “Yogyakarta (ID): Andi
Offset.
Wallin J, Chirumalla K, Thompson A. 2013. Developing PSS Concepts from
Traditional Product Sales Situation: The Use of Business Model Canvas.
Springer: Verlag Berlin Heidelberg.
13