UJIAN AKHIR SEMESTER
DESIGN THINKING
Proposal Paparan Kasus dan Solusi
di SMP 15 Bandung
Disusun oleh:
Siti Nurhamidah
2315092
PPG PRAJABATAN GELOMBANG 2 TAHUN 2023
PRODI BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2024
A. Deskripsi permasalahan spesifik yang ingin dipecahkan
Saat kami menjalankan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri
15 Bandung, terdapat isu-isu yang muncul. Isu-isu tersebut termasuk (1)
Kemampuan siswa dalam berbicara masih rendah, (2) kasus perundungan
(bullying) (3) Kurangnya motivasi belajar. Saya akan menguraikan masalah-
masalah ini sebagai dasar pemahaman untuk kasus-kasus yang saya temui di
SMP Negeri 15 Bandung.
1. Keterampilan Berbicara Masih Rendah
Kemampuan berbicara pada siswa hingga saat ini masih menjadi masalah.
Hal ini dibuktikan dengan hasil praktik pembelajaran diskusi di kelas IX,
ditemukan bahwa tingkat keterampilan siswa dalam berbicara di pertemuan
pertama masih rendah. Terdapat 7 dari 33 siswa yang bisa melakukan praktik
diskusi dalam waktu dua menit yang ditentukan. Dari hasil observasi
tersebut, terlihat bahwa mayoritas siswa mengalami kesulitan dalam
menyusun kalimat dengan baik dan mengungkapkan ide-ide mereka secara
jelas dan terstruktur. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih ada banyak
siswa yang perlu bantuan dan dukungan untuk meningkatkan kemampuan
berbicara mereka. Beberapa siswa tampak cemas dan tidak percaya diri saat
berbicara di depan teman-teman sekelas, yang mengindikasikan adanya
faktor psikologis yang turut berpengaruh. Selain itu, kurangnya latihan dan
kesempatan untuk berbicara dalam suasana formal juga menjadi kendala
bagi siswa dalam mengembangkan keterampilan berbicara mereka.
2. Kasus Perundungan (Bulliying)
Kasus bullying di sekolah menengah pertama (SMP) seringkali terjadi
dalam berbagai bentuk, seperti kekerasan fisik, verbal, dan psikologis.
Bullying ini bisa berdampak serius terhadap perkembangan emosional dan
sosial korban. Terdapat siswa yang terus-menerus ejek oleh teman
sekelasnya sehingga mengalami penurunan rasa percaya diri, merasa
terisolasi, bahkan berisiko mengalami gangguan mental seperti depresi atau
kecemasan. Hal ini awalnya digunakan sebagai bahan candaan namun lama
kelamaan korban merasa tidak nyaman dengan hal tersebut lantaran sering
menggunakan nama orang tua sebagai candaan.
3. Kurangnya Motivasi Belajar
Rendahnya motivasi belajar di kalangan siswa menjadi salah satu
tantangan besar dalam dunia pendidikan. Siswa yang kehilangan minat atau
semangat untuk belajar cenderung menunjukkan performa akademik yang
menurun, enggan terlibat dalam kegiatan kelas, dan seringkali mengalami
kesulitan dalam memahami materi pelajaran. Penyebab rendahnya motivasi
belajar bisa bermacam-macam, mulai dari kurangnya dukungan dari
lingkungan sekitar, metode pengajaran yang kurang menarik, hingga
tekanan akademik yang berlebihan. Ketika motivasi belajar rendah, siswa
mungkin merasa bahwa belajar adalah beban, bukan kesempatan untuk
berkembang.
B. Perumusan tujuan
Berdasarkan permasalahan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
permasalahan yang dialami siswa SMP Negeri 15 cukup beragam. Namun hal
yang menjadi masalah umumnya dihadapi siswa adalah masalah rendahnya
kemampuan berbicara sehingga perumusan tujuan dalam pembelajaran
selanjutnya yaitu:
1. Meningkatkan Kesejahteraan Emosional Siswa:
Tujuan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menangani masalah
emosional yang dialami siswa, seperti kecemasan, stres, atau
perundungan, melalui penyediaan layanan konseling, program
pendampingan, dan kegiatan yang mempromosikan kesehatan mental.
2. Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar:
Tujuan ini fokus pada peningkatan minat dan semangat belajar siswa
melalui penerapan metode pembelajaran yang inovatif, pemberian
penghargaan atas prestasi, dan penyediaan bimbingan belajar yang
sesuai dengan kebutuhan individual siswa.
3. Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman dan Inklusif:
Tujuan ini diarahkan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang
bebas dari diskriminasi, bullying, dan kekerasan dengan menerapkan
kebijakan anti-bullying yang tegas, serta membangun budaya inklusi
dan kerjasama antar siswa.
4. Meningkatkan Partisipasi Orang Tua dalam Proses Pendidikan:
Tujuan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara sekolah dan
orang tua dengan meningkatkan komunikasi, melibatkan orang tua
dalam kegiatan sekolah, serta memberikan edukasi kepada orang tua
tentang peran mereka dalam mendukung perkembangan akademik dan
sosial anak.
C. Deskripsi Solusi/ Inovasi
1. Kurangnya kemampuan berbicara
Melalui permasalahan tersebut, pendidik perlu memikirkan model
pembelajaran yang tepat untuk mengatasi hambatan yang dihadapi siswa
dalam proses belajar. Model pembelajaran yang dipilih harus mampu
memberikan solusi yang efektif, relevan, dan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan serta karakteristik siswa. Pendidik juga perlu
mempertimbangkan berbagai pendekatan, seperti pembelajaran berbasis
proyek, pembelajaran kolaboratif, atau penggunaan teknologi dalam
pembelajaran, untuk memastikan bahwa siswa dapat memahami materi
dengan lebih baik dan mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Dalam
hal ini peneliti akan meningkatakan kompetensi belajar siswa menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray untuk mengatasi
masalah siswa dalam berbicara.
Pembelajaran dengan menggunakan Two Stay Two Stray (TSTS)
bertujuan agar peserta didik dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab,
dan saling membantu memecahkan masalah dalam berkelompok. Dalam
belajar berkelompok itu sendiri akan kondusif bilamana terdapat
keberagaman aspek kemampuan akademik sehingga nantinya peserta didik
akan saling berbagi informasi dengan temannya dan dapat menyerap materi
bantuan temannya yang lebih menguasai. Adapun langkah-langkah Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray menurut Sintia
Sari:2010adalah sebagai berikut: 1. Pembagian kelompok. Pada langkah ini
guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang setiap kelompoknya
terdiri dari 4 sampai 5 siswa. 2. Pemberian tugas. Di langkah kedua ini guru
memberikan sub pokok bahasan tertentu atau tugas-tugas tertentu kepada
setiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota
kelompoknya masing- masing. 3. Diskusi: Siswa mengerjakan tugas. Pada
kegiatan ini siswa-siswa di dalam setiap kelompok bekerja sama untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. 4. Tinggal atau berpencar,
Setelah setiap kelompok selesai mengerjakan tugas yang diberikan maka
setiap kelompok menentukan 2 anggota yang akan stay (tinggal) dan 2
anggota yang akan stray (berpencar) ke kelompok lain
2. Perundungan (Bulliying)
Dihadapkan dengan masalah bullying, pendekatan yang diambil adalah
melalui sesi konseling individual dengan pelaku bullying untuk membantu
mereka menyadari bahwa perilaku tersebut tidak pantas dilakukan. Selain
itu, ada upaya kolaborasi dengan wali kelas untuk melakukan mediasi,
sehingga pelaku dan korban dapat memperbaiki hubungan mereka dalam
lingkungan pertemanan sekelas.
3. Motivasi Belajar Rendah
Mengatasi masalah rendahnya minat belajar pada siswa memerlukan
pendekatan yang holistik dan terarah, yang mencakup aspek psikologis,
sosial, dan akademis. Pendekatan ini melibatkan kerjasama antara guru,
orang tua, dan siswa itu sendiri untuk menciptakan lingkungan yang
mendukung, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan
dan minat individual siswa. Dengan demikian, kita tidak hanya fokus pada
peningkatan hasil akademis, tetapi juga pada upaya untuk membangkitkan
kembali rasa ingin tahu dan semangat belajar siswa, sehingga mereka dapat
mencapai potensi penuh mereka.