Kelbin Kebidanan
Kelbin Kebidanan
OLEH :
Preseptor
Menyetujui, Mengetahui,
Prodi Kebidanan Program Diploma Tiga STIKes Mitra Husada Medan
Ka.Prodi Ketua,
Siska Suci Triana Ginting, S.S.T., M.Kes Dr. Siti Nurmawan Sinaga, S.K.M., M.Kes
NIDN. 01-2407-8601 NIDN. 01-1810-7402
HALAMAN PENGESAHAN
Preseptor Mentor
Mengetahui,
Menyetujui,
STIKes Mitra Husada Medan
Program Diploma Tiga Kebidanan
Ketua
Ka.Prodi,
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dimana
Usia 1 Tahun Dengan Imunisasi Tidak Lengkap Di Dusun I Desa Bangun Rejo
kelompok. Berkenaan dengan pembuatan laporan ini untuk memenuhi syarat dalam
melakukan praktek kebidanan komunitas, dan juga sebagai syarat tanda telah lulus
Penulis pada hal ini sangat berterimakasih banyak terhadap kelompok yang
sudah memberikan bantuan yang patut secara etika ataupun materi, yang mana
dengan bantuan tersebut laporan ini dapat tertanggulangi. Dan tidak lupa bertimbun
Ketua pengurus STIKes Mitra Husada Medan yaitu Drs. Imran Saputra
2. Edy Yusuf, I.P.,M.Si. yang mana beliau ialah Camat di Kecamatan Tanjung
4. Jemalemna Sembiring, Amd.Keb, berupa Mentor dan juga Bidan Desa yang
turut membantu, membimbing, serta memberikan saran agar tugas ini bisa
5. Siska Suci Triana Ginting, SST., Ketua Prodi Kebidanan Program Diploma
6. Dr. Rosmani Sinaga, S.E., M.M. dan Eva Ratna Dewi ., SST.,M.K.M.
berupa Preseptor dalam aktivitas ini dan yang telah banyak memberikan
7. Semua Staff Dosen STIKes Mitra Husada Medan yang telah mendukung
8. Orang tua dan keluarga tercinta yang sudah mendoakan, mendukung, serta
10. Kepada Ibu selaku induk semang posko 7, yang telah mengarahkan, serta
11. Semua sahabat angkatan XII STIKes Mitra Husada Medan, kepada tingkat
Sadar bahwa Laporan Keluarga Binaan ini jauh dari kata sempurna
sekiranya dapat membuat laporan ini menjadi lebih sempurna lagi. Penulis
berharap Laporan PBL ini bisa berguna untuk banyak orang yang
DAFTAR ISI
LEMBAR SAMPUL...........................................................................
LEMBAR PENGESEHAN................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN (INFORMEND CONSENT )............
KATA PENGANTAR........................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................1
1.2 Batasan Masalah..................................................................5
1.3 Tujuan..................................................................................5
1.3.1 Tujuan Umum.......................................................5
1.3.2 Tujuan Khusus......................................................5
1.4 Sasaran................................................................................6
1.5 Manfaat...............................................................................6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................8
2.1 Konsep Keluarga...........................................................................8
2.1.1 Pengertian Keluarga...................................................8
2.1.2 Struktur Keluarga.......................................................9
2.1.3 Ciri-ciri Keluarga.......................................................11
2.1.4 Bentuk Keluarga.........................................................11
2.1.5 Peran Keluarga...........................................................12
2.1.6 Fungsi Keluarga.........................................................13
2.1.7 Tugas Keluarga..........................................................15
2.1.8 Tahap-Tahap Keluarga..............................................16
2.2 Imunisasi..............................................................................17
2.2.1 Defenisi Imunisasi ..............................................................17
2.2.2 Tujuan Imunisasi.......................................................18
2.2.3 Manfaat Imunisasi.....................................................18
2.2.4 Jenis –jenis Imunisasi................................................19
2.2.5 Jadwal pemberian Imunisasi......................................26
2.2.6 Faktor yang berkaitan dengan pengetahuan Ibu
Terhadap Imunisasi Dasar Lengkap ...................................27
2.3 Konsep Manajemen Asuhan Keluarga.................................38
2.3.1 Pengkajian Data.........................................................38
2.3.2 Intrepertasi Data.........................................................39
2.4 Prioritas Masalah...........................................................................42
BAB 3 TINJAUAN KASUS..............................................................60
3.1 Struktur Keluarga..............................................................60
3.1.1 Format Pengajuan...........................................................60
v
BAB 1
PENDAHULUAN
Imunisasi menjadi hal yang berguna dan memiliki pengaruh besar serta
Health Organization (WHO), hanya ada 5,7 juta bayi yang sudah mendapatkan
vaksin imunisasi sedangkan ada sekitar 14 juta bayi yang belum menerima dosis
menyebabkan angka kematian bayi mencapai 2-3 juta kematian setiap tahun akibat
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Adapun 10 negara yang seharusnya
Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah anak yang tidak
mendapatkan imunisasi lengkap cukup banyak. Hal ini membuat Indonesia harus
memfokuskan untuk mengatasi kendala mengenai penyakit yang bisa tertular dan
masyarakat yang meninggal dan kesakitan terhadap penyakit yang bisa menular
yakni memberikan pengimunan lengkap. Angka cakupan untuk IDL dinegara ini
hanya berkisar 57,9 %, 32,9 % untuk imunisasi tidak lengkap dan 9,2 % bagi yang
tidak diimunisasi angka tersebut diambil dari Data yang sudah diteliti pada tahun
2014 (GAIN UCI 2010-2014) yang terdapat pada Keputusan Menteri Kesehatan
yang berusia dibawah 1 tahun (0-11 bulan) mendapatkan imunisasi dasar lengkap
sehingga seluruh desa kelurahan mencapai UCI dengan target RPJMN yang
sebesar 93% untuk tercapainya Imunisasi Dasar Lengkap kepada bayi agar dapat
Masyarakat, 2019).
di Sumatera Utara yang memenuhi target Renstra ada sebanyak 22 kabupaten. Tiga
kabupaten/kota yang sudah dikatakan UCI dan mencapai angka 100% yaitu Medan,
cakupan UCI nya yaitu Gunung Sitoli (24,75%), Padang Lawas (26,32%) dan
disusul Kota Binjai yang terendah hanya (8,11%) (Sukriani & A’La, 2019).
ibu yang memiliki bayi namun menolak untuk membawa anaknya imunisasi yang
yang di wawancarai yang masing-masing memiliki bayi usia 1 tahun 3 bulan dan
rendah sehingga tidak memahami bahwa demam adalah salah satu gejala yang akan
8
ditimbulkan ketika selesai imunisasi, ini menyebabkan ibu tidak kembali untuk
membawa anaknya imunisasi. Selain itu juga karena tidak adanya dukungan
keluarga (suami tidak memperbolehkan), tradisi, orang tua sibuk dan ibu lupa akan
jadwal imunisasi.
maka Mahasiswa STIKes Mitra Husada Medan melaksanakan PBL di Desa Bangun
Berdasarkan latar belakang dan dari data-data yang disajikan diatas, maka
peneliti tertarik untuk memberikan asuhan pada Anak yang dituangkan dalam
bentuk KELBIN dengan Judul “ Asuhan Kebidanan Komunitas Pada An. A Usia 1
Tahun Dengan Imunisasi Tidak Lengkap Di Dusun I Desa Bangun Rejo Kec.
masalah yang berhubungan dengan kebidanan. Oleh karena itu, hanya satu KK yang
memiliki skor prioritas tertinggi yang dijadikan keluarga binaan. Adapun skema
Laporan Perpustakaan
Kelbin
Bimbingan
Perseptor atau
Mentor
1 Tn. A Merokok 1 -
komunitas dari 12 kk diperoleh satu masalah pada keluarga Tn. A dengan tidak
lengkapnya imunisasi pada An. A yang harus diatasi, sehingga ini menjadi
batasan masalah.
1.3 Tujuan
imunisasi.
kebidanan
kebidanan
asuhan kebidanan.
1.4 Sasaran
Serdang
pembinaan agar bisa dijadikan pengetahuan dan pasokan berarti dalam kesuksesan
periset sehingga keluarga binaan mendapatkan Asuhan Kebidanan yang tepat serta
Keluarga binaan yang telah dilaksanakan ini semoga bisa menjadi tambahan
Keluarga binaan yang sudah dilakukan ini agar kiranya bisa memberikan
memberikan penyuluhan .
melakukan imunisasi lengkap sebagai salah satu cara untuk menghambat dari
gangguan penyakit yang bisa menular dengan memvaksinasi orang agar fisiknya
yakni untuk membangun ketahanan tubuh agar tidak gampang terkena virus yang
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-
dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang
terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan
Indonesia, 2018).
keluarganya.
Dari hasil analisa (Rahman et al., 2019) keluarga sebagai unit yang perlu
dirawat, boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tetapi
14
suatu keluarga.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah dua orang atau lebih
yang disatukan oleh ikatan perkawinan, kelahiran, adopsi dan boleh jadi tidak
diikat oleh hubungan darah dan hukum yang tinggal di suatu tempat di bawah
terhadap anak.
b. Referent power (seseorang yang ditiru) dalam hal ini orang tua adalah
diterima).
d. Struktur yang kaku, yaitu suka melawan dan bergantun pada peraturan.
Mac Iver dan Charles Horton Page, adapun karakter tertentu itu yakni :
membersarkannya.
1. Keluarga dengan orang tua tunggal satu orang sebagai kepala keluarga,
Keluarga terbagi menjadi 3 hal ini menurut Harfan dan Hunt antara lain:
1. Peran Ayah
Menjadi ayah untuk anak dan suami untuk sang istri. Ayahnya, berperan
menghadirkan rasa aman serta perlindungan sebagai kelompok rakyat dan juga
kepala keluarga.
2. Peran Ibu
Sebagai istri dari suami dan ibu bagi anaknya suami. adapun ayah atau
pengasuh anak-anaknya.
3. Peran Anak
Anak melaksanakan perunahan psikologi sesuai tingkat perkembangan baik
perhimpunan 2 orang atau lebih yang akan tinggal bersama dalam emosional,
komitmen dan setiap orangnya memiliki tugas yang adalah anggota keluarga.
Adapun pendapat lain mengenai keluarga ialah persatuan 2 atau lebih individu yang
komponen paling kecil dari rakyat yang termasuk berupa istri suami dan
anaknya.
itu terjadi sebab dari kecil anak berkembangan dan bertumbuh di area
keluarga atau famili. Sebab dari situlah tugas kedua orang tua sangat amat
2. Selain itu ada pendapat dari Ariani mengenai fungsi keluarga atau famili ialah
dilihat dari ukuran bagaimana famili tadi bekerja sebagai anggota dan
bagaimana juga interaksi keluarga satu sama lain. Kegiatan ini mencontohkan
Famili adalah unit dasar untuk membentuk karakter dan kepribadian individu.
Terdapat 8 fungsi keluarga yang harus dipenuhi untuk menjaga keutuhan dan
kesejahteraan keluarga.
anak.
19
kebutuhan keseharian.
Ketujuh fungsi merupakan fungsi secara umum yang harus dipenuhi oleh
Menurut (Limoy & Yuniantinii, 2020) Pada dasarnya tugas keluarga ada
masing-masing.
Tahap ini adalah tahap dimana manusia hidup serupa sekawan binatang
keturunan tanpa ada ikatan, pada tahapan ini kehidupan manusia sama dengan
kehidupan binatang yang hidup berkelompok (Muchlisa & Abdi Putri Bausad,
2022).
perkawinan dengan yang lain tanpa ada ikatan keluarga dan menghasilkan
keturunan tanpa ada terjadi ikatan keluarga seperti penelitian (Prayogo et al., 2018):
A. Tahap matriarkat
Pada tahap ini lambat laun manusia semakin sadar akan hubungan ibu
dan anak, tetapi anak belum mengenal ayahnya melainkan hanya masih
mengenal ibunya. Dalam keluarga inti, ibulah yang menjadi kepala keluarga
dan yang mewarisi garis keturunan. Pada tahapan ini disebut tahapan
21
matriarkat. Pada tahapan ini perkawinan ibu dan anak dihindari sehingga
B. Tahap patriarkat
Pada tahap ini ayah yang menjadi kepala keluarga serta ayah yang
terjadi karena laki-laki merasa tidak puas dengan situasi keadaan sosial yang
C. Tahap parental
Pada tahapan yang terakhir, patriarkat lambat laun hilang dan berubah
tingkat terakhir ini perkawinan tidak selalu dari luar kelompok (eksogami)
tetapi juga dari dalam kelompok yang sama (endogami). Hal ini menjadikan
2.2 Imunisasi
Imunisasi ialah suatu kegiatan agar tubuh individu tersebut tahan dari
Ada salah satu cara yang ampuh untuk menghalangi penyakit agar tidak
negara kita ini imunisasi dilakukan dari anak lahir dan terus berlanjut sesuai
jadwalnya. Ada 2 jenis imunisasi rutin lengkap yaitu imunisasi dasar dan lanjutan
Imunisasi ialah kegiatan yang ampuh dalam pencegahan penyakit yang bisa
menular, selain itu hal ini dapat merendahkan nilai kematian dan kesakitan terhadap
bayi & balita. Usaha terampuh untuk masyarakat agar terhalang dari penyakit yang
dalam memberikan bakteri dari patogen yang bertujuan untuk menstimulasi daya
tahan tubuh sehingga tubuh bisa kebal bila terpapar penyakit, jika terkena penyakit
pun cuma mendapatkan gejala yang ringan saja (Rahman et al., 2019).
oleh pemerintah dengan menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit
bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin akan
menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. Hal ini mendorong penyiapan keluarga
1. Hepatitis B
2. Polio
penyakit polio.
3. BCG
imunisasi BCG ialah salah satu vaksin yang diperlukan untuk menghalangi
penyakit tersebut.
4. DPT
penyakit difteri.
5. HIB
pneumonia.
24
6. Campak
7. MMR
Ialah vaksin gabungan yang bertujuan untuk menjaga anak dari penyakit
tertentu misal rubella, gondongan & campak. 3 keadaan ini bisa memicu
8. PCV
Streptococcus pneumonia.
9. Rotavirus
10. Influenza
11. Tipes
Tindakan agar melindungi anak dari penyakit tipes yang penyebabnya dari
12. Hepatitis A
13. Varisela
Hal ini dilakukan supaya penyakit cacar air tidak terkena kepada anak.
Adapun gangguan kesehatan ini terjadi akibat dari virus yang bernama
Varicella zoster.
14. HPV
Merupakan salah satu penyakit yang bisa menyebar hanya karna gigitan
rambut. Ganggu ini terjadi sebab terdapat infeksi virus terhadap otak.Maka
16. Dengue
17. COVID-19
kepada anak yang berusia 6 sampai 11 tahun (Sukriani & A’La, 2019).
lengkap terbagi 2 yakni imunisasi dasar & lanjutan, adapun jadwal imunisasi
Imunisasi dasar
• Usia 2 bulan: hepatitis B dosis 2, polio dosis 1 , DTP dosis 1, Hib dosis 1,
• Usia 3 bulan: hepatitis B dosis 2, polio dosis 2, DTP dosis 2, Hib dosis 2,
rotavirus dosis 2
• Usia 4 bulan: hepatitis B dosis 3, polio dosis 3, DTP dosis 3, Hib dosis 3,
rotavirus dosis 3
Imunisasi lanjutan
• Usia 12–24 bulan: PCV, varisela, hepatitis B, polio, DTP, Hib, MR/MMR,
hepatitis A
dasar lengkap
1. Umur Ibu
lebih tua, sebab ibu yang baru saja mempunyai anak & umurnya juga lebih
muda umunya dapat memberi perhatian kesehatan yang lebih terhadap buah
2017).
Menurut riset dari (Limoy & Yuniantinii, 2020) yakni dari responden
yang 114 sejumlah (61,8 %) ibu yang berusia di bawah umur 30 tahun jauh
di atas 30-40 tahun tadi yang bernilai (34%) & (1,4%) saja ibu yang berumur
lebih dari 50 tahun ke atas yang membawa buah hatinya untuk imunisasi
lengkap. Sebab itu usia ibu adalah salah satu penyebab yang penting dalam
2020) salah satu penyebab tidak lengkapnya imunisasi dasar anak lebih
berakibat terhadap ibu yang berusia di atas 30 tahun daripada yang berumur
Dari keterangan diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa usia adalah
suatu karakter individu yang berkaitan dengan sifat pada dirinya sendiri &
sifat dalam menunjukkan waktu & tempat. Hanya saja pendapat ini tidak
sama dengan riset rahmawati dan umbul pada tahun 2016 yang
lengkap atau tidaknya imunisasi & adapun hasil dari test statistik juga
2. Pendidikan ibu
Hal yang penting untuk menetapkan tingkah laku orang tua juga adalah
tua maka akan sedikit informasi yang didapatkannya, maka dari itu apabila
informal seperti dari internet radio, membaca koran majalah, televisi, dan
akan makin baik juga perilakunya, oleh sebab itu pengetahuan tentang
ketimbang ibu yang memiliki pengetahuan tinggi, pendapat ini juga selaras
dengan riset yang telah dilakukan akan mempunyai kemungkinan 0,670 kali
3. Pekerjaan Ibu
paling minimal dengan terus menerus tanpa henti didalam satu minggu itu
menolong dalam satu usaha), adapun di dalam KBBI yang dimaksud dengan
minggu agar bisa mendapatkan keuntungan & gaji (Sugiharti et al., 2019).
30
tidak bekerja daripada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan dan hal
Hasil riset dari (Tiani et al., 2017) menyatakan bahwa adanya keterlibatan
imunisasi dengan pekerjaan. Ibu yang tidak bekerja ataupun ibu yang
bekerja memiliki peluang yang sama agar bisa mendapatkan info mengenai
imunisasi dasar baik dari surat kabar,TV, radio, petugas kesehatan & media
dibandingkan ibu yang kerja yang kemungkinan 0,739 kali lebih banyak
normal sesuai indeks antropometri berat tubuh menurut usia, dari tahun
KMS dan KIA, sebab semakin sering ibu membawa KMS ketika ke
pelayanan kesehatan maka makin baik juga sikap ibu balita kepada
kepemilikan KMS atau buku kia merupakan buku yang berisi catatan
imunisasi yang akan diberikan terhadap balita karena dengan buku ini ibu
akan mengetahui jenis imunisasi serta jadwal yang sudah diberikan ataupun
Untuk Balita).
5. Penolong Persalinan
pada waktu sebelum hamil waktu hamil dan bersalin dan waktu di mana
Adapun usaha yang dilaksanakan agar bisa mengurangi risiko itu dengan
kepada kontak pertama imunisasi HB, ibu yang melahirkan akan lebih
memiliki risiko 2,8 kali jika tidak dibantu oleh anggota kesehatan daripada
cara pelaksanaan atau pemberian, hal yang bisa terjadi setelah imunisasi dan
Adapun prasarana & sarana yang wajib ada yaitu tempat pelayanan
vaksinasi seperti lemari es standar, vaccine carrier , freeze tag, ADS yaitu
suntik sekali penggunaan saja saat melakukan imunisasi, safety box, cold
chain berguna menjaga mutu vaksin dari pabriknya hingga pada objek
cara melakukan pemantauan serta pemeliharaan suhu vaksin karena hal itu
sangat berguna untuk mengetahui dengan cepat vaksin tersebut masih baik
digunakan atau malah sebaliknya, hasil riset kepada 379 klinik yang
yang memantau suhu vaksin dengan rutin dua kali dalam sehari (Dinengsih
dihindari disebabkan vaksin mempunyai suhu tetap yang tidak bisa bisa
lebih atau kurang sehingga adanya prasarana & sarana mutlak dibutuhkan
melakukan proses yang mengaitkan tentang rencana, arahan dan kendali sumber
Yaitu tahap analisis untuk memperoleh informasi yang akurat dan relevan
dari data yang telah dikumpulkan. Hal ini penting untuk mengambil keputusan yang
masa depan (Sugiharti et al., 2019). Data subjektif dan objektif yaitu dua jenis data
yang berbeda dalam pengumpulan dan analisis informasi. Data subjektif didasarkan
1. Data objektif didasarkan pada fakta empiris yang dapat diukur secara obyektif.
Kedua jenis data ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Data
memandang suatu hal, tetapi dapat dipengaruhi oleh bias personal. Di sisi lain, data
objektif lebih akurat dan dapat diandalkan dalam membuat keputusan karena
didasarkan pada fakta yang terukur. Dalam pengambilan keputusan yang baik,
penting untuk mempertimbangkan kedua jenis data ini dengan hati-hati untuk
mendapatkan gambaran yang lengkap dari situasi atau masalah yang sedang
dihadapi.
35
diagnosis kebidanan, merupakan aspek penting dari kesehatan ibu. Ini melibatkan
adalah dengan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Ini
dan kondisi medis yang ada. Penyedia layanan kesehatan juga akan memantau
melahirkan, pantawan terhadap ibu dan bayi sangat penting untuk mengidentifikasi
hasil kesehatan ibu yang aman. Identifikasi dini potensi komplikasi bisa
menghambat akibat yang berdampak buruk pada kesehatan untuk ibu & bayi. Sebab
1. Diagnosa Kebidanan
Masalah Potensial adalah situasi yang mungkin terjadi di masa depan dan
mengacu pada tindakan segera yang diambil untuk mencegah bahaya atau
nyawa dan meminimalkan dampak bencana. Penting untuk bersiap dan bertindak
sumber daya yang cukup, dan koordinasi yang efektif. Kegagalan implementasi
tersebut. Oleh karena itu, implementasi harus dilakukan dengan cermat dan hati-
hati.
2.3.7 Evaluasi
suatu program atau proyek. Ini melibatkan pengumpulan data, mengukur hasil, dan
membuat rekomendasi untuk perbaikan. Evaluasi sangat penting agar jelas bahwa
Ialah aspek yang berguna dari pemecahan isu yang efektif. Ini melibatkan
identifikasi dan peringkat masalah yang paling mendesak yang perlu ditangani
individu dan organisasi mengalokasikan sumber daya mereka secara efisien dan
efektif.
pada hasil yang diinginkan, dan kelayakan penyelesaiannya. Masalah yang paling
waktu dan sumber daya untuk masalah yang kurang penting. Dengan berfokus pada
masalah yang paling mendesak terlebih dahulu, mereka dapat mencapai tujuan
menemukan prioritas masalah, yaitu analisis Pareto, analisis SWOT, dan analisis
masalah-masalah utama dengan memfokuskan pada 20% penyebab utama dari 80%
masalah yang terjadi. Analisis SWOT yaitu teknik yang digunakan untuk evaluasi
Adapun hitungan angket yang telah dibagikan, maka didapat score untuk
Menurut penelitian (Maryani et al., 2020) apabila memakai cara ini, kendala
bisa diukur dengan musyawarah yang disebut “Nominal Group Techniqu ” , adapun
Andrew H. Van de Ven, Harold L. Angle & Marshall Scott Poole di tahun
Salah satu kekuatan metode Delbecq adalah mendorong kreativitas dan inovasi
dengan memungkinkan peserta menghasilkan ide secara bebas tanpa takut dikritik
atau dihakimi. Selain itu, metode ini mempromosikan kolaborasi dan kerja tim saat
para peserta bekerja sama untuk mengevaluasi setiap ide. Namun, satu kelemahan
potensial dari metode Delbecq adalah dapat memakan waktu dan mungkin tidak
cocok untuk semua jenis masalah atau keputusan. Secara keseluruhan, metode
Delbecq tetap menjadi alat yang berguna bagi kelompok yang ingin memecahkan
ialah tahap identifikasi masalah, tahap penentuan kriteria, tahap penilaian alternatif,
dipenuhi oleh alternatif solusi yang akan dipilih. Setelah itu, pada tahap penilaian
kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan pada akhirnya pada tahap pemilihan
alternatif, dipilihlah solusi terbaik dari seluruh alternatif yang telah dievaluasi.
Metode Delbeq sangat berguna dalam membantu organisasi untuk memilih solusi
B. Metode Delphi
pendapat ahli dan mencapai konsensus tentang topik tertentu. Ini dikembangkan
pada 1950-an oleh RAND Corporation sebagai cara untuk meramalkan kejadian di
masa depan, tetapi sejak itu telah diterapkan ke berbagai bidang seperti bisnis,
kesehatan, dan pendidikan. Metode ini melibatkan beberapa putaran kuesioner atau
survei yang dikirim ke sekelompok ahli yang memberikan pendapat mereka secara
lainnya dikirim dengan hasil dari putaran sebelumnya. Proses ini berlanjut sampai
konsensus tercapai. Salah satu manfaat utama dari metode Delphi adalah
pun yang mendominasi diskusi. Ini juga membantu mengurangi bias dan
akuntabilitas atau transparansi, dan mungkin ada tantangan dalam memilih pakar
yang tepat atau memastikan partisipasi mereka. Secara keseluruhan, metode Delphi
tetap menjadi alat yang berharga untuk mengumpulkan pendapat ahli dan mencapai
1. TEKNIK SKORING
dipakai didalam beberapa bidang yakni bidang pendidikan & psikologi. Teknik ini
melibatkan penetapan skor untuk parameter atau kriteria yang berbeda berdasarkan
lebih objektif dan standar untuk mengevaluasi kinerja atau menilai efektivitas
intervensi. Dengan memecah tugas kompleks menjadi komponen yang lebih kecil
dan terukur, teknik ini membantu mengidentifikasi area kekuatan dan kelemahan
digunakan untuk mengevaluasi kinerja siswa dalam tugas, ujian, atau proyek.
keseluruhan, Parameter Teknik Skoring adalah alat berharga bagi siapa yang ingin
membantu mengidentifikasi area untuk perbaikan dan memberikan peta jalan yang
A. Metode Bryant
pekerjaan. Metode ini didasarkan pada beberapa kriteria yang penting untuk setiap
posisi pekerjaan. Kriteria pertama adalah pendidikan, yang mengacu pada tingkat
pengalaman, yang mengacu pada jumlah tahun pengalaman dalam peran yang
sama. Kriteria ketiga adalah keterampilan, yang mengacu pada keterampilan khusus
yang dibutuhkan untuk pekerjaan itu. Kriteria penting lainnya dalam Metode Bryant
adalah ciri-ciri kepribadian. Ini termasuk kualitas seperti motivasi, kerja tim, dan
seperti etos kerja dan sikap saat memilih kandidat. Terakhir, kecocokan budaya
merupakan faktor krusial lainnya dalam metode ini. Ini melibatkan penilaian
apakah nilai dan keyakinan kandidat selaras dengan budaya perusahaan. Secara
kandidat yang sesuai ketentuan tapi juga mempunyai ciri kepribadian dan
Metode Matematik Paho yang juga dikenal dengan Metode Paho dalam
Matematika salah satu pendekatan matematika yang telah banyak digunakan bidang
(PAHO) untuk membantu peneliti dan praktisi menganalisis data terkait masalah
analisis data. Salah satu kekuatan dari metode ini adalah kemampuannya untuk
mengharuskan periset agar membuktikan pola & tren dalam data yang
kemungkinan hasilnya tidak terlihat secara langsung. Selain itu, ini menyediakan
Secara keseluruhan, Metode Matematik Paho telah terbukti sebagai alat yang efektif
berdasarkan beberapa kriteria. Metode ini digunakan oleh teknik, ekonomi, dan
relevan untuk proses pengambilan keputusan dan pemberian bobot untuk setiap
44
yang rumit di mana ada banyak tujuan dan pertukaran di antara mereka. Ini juga
balik keputusan akhir. Namun, salah satu keterbatasan MCUA adalah sangat
bobot dan skor pada kriteria. Selain itu, ini mungkin tidak memperhitungkan
ketidakpastian atau kejadian tak terduga yang dapat memengaruhi hasil keputusan.
Secara keseluruhan, MCUA adalah alat yang berguna untuk membuat keputusan
berdasarkan informasi dalam situasi yang kompleks tetapi harus digunakan dengan
D. Metode Hanlon
Hanlon, yang pertama kali merumuskannya pada akhir abad ke-20. Metode Hanlon
adalah prinsip penting dalam berpikir kritis dan pemecahan masalah. Ini
kesimpulan. Dengan melakukan itu, kita menghindari membuat asumsi yang salah
dan menghubungkan motif yang sebenarnya tidak ada. Metode ini memiliki
Kesimpulannya, Metode Hanlon adalah alat yang berharga untuk orang yang mau
menaikkan skillnya dalam berpikir kritis. Dengan menerapkan prinsip ini kita bisa
menjauhi perdebatan yang tidak penting & mendorong pemahaman dalam interaksi
Masalah P E A R L Hasil
Perkalian
PEARL
A 1 1 1 1 1 1
B 1 1 1 1 1 1
C 1 0 1 1 0 0
46
E. Metode CARL
Cara ini berupa pendekatan pemecahan masalah klasik yang telah banyak
pribadi. Metode ini terdiri dari empat tahap: observasi, refleksi, pengambilan
pengumpulan data untuk memahami akar penyebabnya. Pada refleksi tahap kedua,
berdasarkan pertimbangan yang cermat dari semua opsi yang tersedia. Terakhir,
efektif.
Swedia Carl wilhelm schell pada awal abad ke-20. Metode ini menekankan
pendidikannya sendiri. Ini dari metode carl adalah keyakinan disebut siswa
47
bahwasanya belajar terbaik saat mereka aktif terhubung pada proses pembelajaran.
Ini berarti bahwa guru harus membuat pelajaran yang interaktif dan langsung,
Aspek kunci lain dari metode Carl adalah fokusnya pada instruksi individual.
dan minat khusus setiap jiwa, daripada menggunakan pendekatan satu ukuran untuk
semua. Secara keseluruhan, metode Carl telah terbukti sebagai metode pengajaran
pembelajaran aktif dan instruksi individual telah membantu banyak siswa mencapai
hidup.
F. Metode Reinke
mengajarkan bahasa asing dengan metode yang efektif & efisien. Metode ini
dikembangkan oleh seorang ahli bahasa asal Jerman bernama Franz Reinke pada
tahun 1927. Metode Reinke terbagi 5 tahap proses yakni pengenalan, pemahaman,
siswa akan diperkenalkan dengan kosakata dasar dan struktur kalimat sederhana
dalam bahasa target. Setelah itu, siswa akan memasuki tahap pemahaman di mana
mereka akan belajar untuk memahami teks dalam bahasa target. Tahap ketiga
adalah pengulangan di mana siswa akan berlatih mengulang kosakata dan frasa-
frasa penting dalam bahasa target. Tahap keempat adalah penggunaan di mana
siswa akan mulai menggunakan kosakata dan struktur kalimat yang telah dipelajari
48
dalam situasi komunikatif. Terakhir, pada tahap penilaian, guru akan mengevaluasi
kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa target. Metode Reinke telah terbukti
efektif dalam mengajarkan bahasa asing kepada siswa dari berbagai tingkat
Metode Reinke adalah metode pelatihan suara Jerman yang sudah dipakai 100
tahun lebih. Ini dikembangkan oleh Friedrich Wilhelm Reinke, yang percaya bahwa
suara dapat dilatih seperti otot tubuh lainnya. Metode tersebut melibatkan latihan
untuk memperkuat otot yang terlibat dalam pernapasan dan vokalisasi, serta teknik
bersuara", seperti "m" dan "n", untuk membantu mengembangkan kontrol napas
dan penempatan vokal yang tepat. Aspek penting lainnya adalah penggunaan bunyi
vokal, yang dipraktikkan dalam berbagai nada dan volume untuk meningkatkan
dan siapapun yang mengandalkan suaranya untuk profesi atau passion mereka.
Telah dipuji karena keefektifannya dalam meningkatkan kualitas dan daya tahan
mereka yang ingin meningkatkan kemampuan vokal mereka melalui latihan dan
latihan terstruktur.
49
1. Metode MCUA
penceritaan yang populer di sinema modern. Ini dikembangkan oleh Marvel Studios
dan telah digunakan dalam serial film superhero mereka yang sukses.
banyak karakter dan alur cerita berpotongan dan tumpang tindih. Setiap film berdiri
sendiri tetapi juga berkontribusi pada narasi yang lebih besar. Hal ini
memungkinkan kedalaman dan kerumitan yang lebih besar dalam penceritaan, serta
Salah satu elemen kunci dari metode MCU adalah perencanaan yang
bagaimana setiap film cocok dengan gambaran yang lebih besar, sambil juga
kepribadian, motivasi, dan kekurangan yang berbeda. Hal ini membuat mereka
pembuatan film yang sangat efektif, menghasilkan beberapa film paling sukses
Metode Hanlon Kuantitatif adalah suatu cara yang dipakai untuk analisis data
kuantitatif. Trik ini bertujuan agar menguji hipotesis & menetapkan adanya
teknik statistik untuk menganalisis data. Teknik ini meliputi uji t, uji F, dan analisis
regresi. Dalam penggunaannya, metode ini memerlukan sampel yang cukup besar
agar hasilnya dapat dianggap valid. Kelebihan dari metode Hanlon Kuantitatif
adalah dapat memberikan hasil yang akurat dan objektif dalam analisis data.
Namun, kelemahan dari metode ini adalah sulit dilakukan jika sampel yang
digunakan terlalu kecil atau jika data yang dianalisis tidak lengkap. Dalam
dapat membantu para peneliti untuk mengambil kesimpulan berdasarkan fakta dan
bukti yang kuat. Oleh karena itu, para peneliti harus memahami dengan baik cara
kerja dan aplikasi dari metode ini agar dapat menghasilkan hasil penelitian yang
berkualitas tinggi.
mengatasi masalah dan menyelesaikan konflik dengan cara yang efektif. Metode
ini terdiri dari tiga tahap, yaitu pengenalan, penjelasan, dan pemecahan masalah.
saling mengenal satu sama lain. Hal ini bertujuan untuk mereka bisa mengerti
perspektif setiap orang & mencari jalan keluar serentak.Tahap kedua adalah
penjelasan, di mana pihak-pihak tersebut saling berbicara tentang masalah yang ada
51
dengan jujur dan terbuka. Dalam tahap ini, penting bagi setiap pihak untuk
royong agar mendapatkan jalan keluar yang bisa diterima oleh semua orang.
Tahapan ini membutuhkan kerja sama dan kompromi dari semua pihak agar konflik
menggunakan metode ini secara tepat, kita dapat menciptakan lingkungan kerja
menangkap & menyelidiki peristiwa sosial. Metode ini dikembangkan oleh seorang
sosiolog bernama Robert Hanlon pada tahun 1980-an. Metode Hanlon bertujuan
untuk mengeksplorasi dan memahami fenomena sosial dari sudut pandang subjektif
dianalisis secara induktif untuk mengenali tema yang timbul dari data terkandung.
tentang fenomena sosial yang kompleks dan sulit dipahami dengan metode
generalisasi karena fokus pada kasus tertentu saja. Secara keseluruhan, metode
Hanlon merupakan salah satu pendekatan kualitatif yang efektif dalam memahami
Metode CARL
terapis adalah memfasilitasi proses ini dengan menyiapkan tempat yang aman &
perilakunya. Salah satu prinsip utama Metode Carl adalah empati. Terapis harus
mampu memahami dan menghargai perspektif klien tanpa penilaian atau kritik. Hal
ini menciptakan rasa aman bagi klien untuk mengekspresikan dirinya secara penuh.
Prinsip penting lainnya adalah penghargaan positif tanpa syarat. Terapis harus
menerima klien apa adanya tanpa berusaha mengubahnya atau memaksakan nilai
mereka sendiri pada mereka. Ini membantu klien mengembangkan penerimaan diri
dan harga diri. Akhirnya, keaslian mengacu pada kemampuan terapis untuk menjadi
otentik dan transparan dengan klien. Ini menciptakan suasana kepercayaan di mana
klien merasa nyaman berbagi pikiran dan perasaan terdalam mereka. Secara
dengan menekankan empati, penghargaan positif tanpa syarat, dan keaslian sebagai
3. Metode Reinke
oleh seorang ahli bahasa asal Jerman bernama Reinke pada tahun 1927. Metode
Reinke terdiri dari enam tahap yang bertujuan untuk membantu siswa belajar
kosakata dasar dan tata bahasa. Tahap kedua adalah tahap pemantapan, di mana
diajak untuk membaca teks-teks sederhana dalam bahasa Jerman. Tahap kelima
menulis teks-teks sederhana dalam bahasa Jerman. Terakhir, tahap keenam adalah
bahasa Jerman.
54
Dalam keseluruhan proses pembelajaran dengan metode Reinke ini, guru harus
menerapkannya secara sistematis dan terstruktur agar dapat memberikan hasil yang
menekankan pentingnya teknik pernapasan dan resonansi vokal yang tepat untuk
didasarkan pada keyakinan bahwa suara adalah instrumen yang dapat dilatih dan
dikembangkan melalui teknik dan latihan yang tepat. Metode ini berfokus pada
dan resonansi. Salah satu prinsip utama Metode Reinke adalah penggunaan bunyi
vokal untuk meningkatkan resonansi vokal. Penyanyi diajari untuk fokus pada suara
vokal tertentu seperti "ah" atau "oh" untuk menciptakan suara yang lebih bergema.
Aspek penting lainnya dari metode ini adalah penggunaan latihan fisik untuk
mengembangkan otot inti dan diafragma yang kuat yang penting untuk
pengendalian napas yang tepat. Secara keseluruhan, Metode Reinke telah banyak
meningkatkan teknik vokal dan menghasilkan suara nyanyian yang jernih dan
bertenaga.
55
Dari hasil kuesioner yang telah dibagikan, maka didapat score untuk setiap
BAB III
TINJAUAN KASUS
I. KEPALA KELUARGA
Nama : Tn. A
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
No.KK/KTP : 1207021510810004
1. ANGGOTA KELUARGA
- Penyebab kematian :
- Umur meninggal :
SUBUR)
( √ ) Ya ( ) Tidak ( ) Lain-lain,Jelaskan….
7. Bila sakit, tindakan apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi keluhan tersebut
:
58
( ) Alternatif ( ) Didiamkan
( ) Infertil ( ) Impotensi
( ) Lain-lain
( ) Ya ( ) Tidak
11. Bagaimana kondisi ibu hamil saat ini :() Sehat () Sakit
A. Keluarga
B.Sanitasi Lingkungan
B .Sanitasi Lingkungaan
2. Pengumpulan Data
A. Data Subjekti
1. Biodata
Nama: An. A
Umur: 1 tahun
Jenis kelamin:Perempuan
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan bahwa An.A pernah demam setelah diimunisasi, dan sehingga
Ny. I tidak mau membawa anaknya kembali untuk imunisasi, dilain sisi juga
Ny.I dan Tn. A merasa bahwa imunisasi itu tidak begitu bermanfaat. Menurut
mereka ketika anaknya tidak mendapatkan imunisasi, anaknya tetap sehat saja.
Disini terlihat bahwa masih kurangnya pengetahuan ibu dan suami mengenai
B. Data Objektif
Keadaan: composmentis
HR: 90 x/I TB : 75 cm BB : 8 kg
dengan dokter atau bidan setempat sesegera mungkin. Untuk mendapatkan info
lebih lanjut tentang imunisasi An. A apakah masih bisa dilakukan imunisasi
sesegera mungkin.
IV. INTERVENSI
3. Beritahu ibu tentang efek samping yang bisa terjadi ketika selesai imunisasi
seperti demam, tidak enak badan, dan lain-lain sebagainya, hal itu adalah normal.
V. IMPLEMENTASI
memberitahu ibu bahwa saat ini imunisasi anaknya tidak lengkap yaitu belum
lengkap dan resiko jika tidak dilakukan. Karna imunisasi begitu penting dalam
menghambat terjadinya perluasan gangguan penyakit yang bisa menular. Jika anak
mengalami gangguan penyakit itu dia akan berpotensi untuk menularkan penyakit
tersebut kepada orang lain yang gampang tertular penyakit seperti pada bayi &
anak.
3. Memberitahu ibu efek samping yang bisa terjadi ketika selesai imunisasi seperti tidak
enak badan, demam dan lain-lain sebagainya, hal itu adalah normal. Ibu dari anak
tersebut tidak usah khawatir jika anak mengalami demam setelah melakukan
imunisasi karena hal itu adalah hal yang biasa di mana sesudah imunisasi akan terjadi
respon tubuh untuk membangun kekebalan yang baru dari suntikan vaksin saat
imunisasi.
dahulu kepada dokter atau bidan atau nakes setempat. Karna dokter atau bidan
imunisasi, antibodi anak akan naik. Tapi suatu saat akan turun lagi. Saat daya
tahan tubuh anak hampir habis maka diwajibkan untuk melakukan imunisasi
kembali agar daya tahan tubuh yang sudah turun tersebut bisa kembali naik.
VI. EVALUASI
dalambatas normal
Data perkembangan
ibu mengatakan bahwa legan pada anak membengkak dan merah setelah
disuntik.
HR: 80 x/I TB : 75 cm BB : 8 kg
65
P: Planning
2. Memberitahu ibu bahwa bengkak pada legan anak paska imunisasi itu hal
yang biasa.
Kunjungan Ke-3
0: TVV Baik
HR: 85 x/I TB : 75 cm BB : 8 kg
P: Planning
2 Ibu sudah mengerti dan paham tentang pentingnya imunisasi dan efek
sampingnya.
semakin memudar.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Analisis
Sesuai dengan hasil pendataan yang sudah dilakukan di Desa Bangun Rejo,
April sampai 11 Mei 2022 terdapat beberapa anak yang tidak mendapatkan
keluarga atau ibu mengenai betapa banyak manfaat dari vaksin imunisasi yang
komplit terhadap usianya. Dan resiko jika imunisasi anak tidak lengkap dilakukan.
Jika imunisasi tidak lengkap akan membuat anak akan mudah terserang penyakit.
Dengan anak mendapatkan imunisasi lengkap akan membangun daya tahan tubuh
agar anak tidak gampang terinfeksi oleh virus yang akan menyebabkan penyakit.
Apabila anak tidak mendapatkan imunisasi secara komplit sesuai usianya maka
akan sangat gampang si anak tadi terkena penyakit yang sebenarnya bisa
menghambat penyakit tersebut dengan cara imunisasi komplit sesuai umurnya, jika
tidak kemungkinan anak akan bisa terkena beberapa penyakit seperti batuk rejan,
TBC, hepatitis dan difteri.Pengetahuan tentang imunisasi lengkap ibu, bapak, atau
keluarga.
Minggu ketiga tanggal 20 April sampai 11 Mei 2022, pukul 09.00 wib sudah
kembali kunjungan ke rumah keluarga binaan dalam hal tanya jawab adapun hasil
dari kegiatan tersebut ibu serta keluarga sudah paham tentang pendidikan
Perencanaan
d. Jelaskan pada ibu tentang resiko jika tidak dilakukan imunisasi lengkap.
imunisasi
d. Jelaskan pada ibu beberapa penyakit yang bisa terjadi jika tidak
1. Pengkajian Data
Pengkajian data subjektif dan objektif yang ada di lapangan. sesuai dengan
teori dimana terdapat pada An.A yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap.
Masalah dan Kebutuhan Setelah di lakukan pengumpulan data dasar dari pasien
An.A masalah yang dialami sesuai dengan teori yang ada bahwa An.A tidak
kemungkinan bisa terjadi terhadap An.A yang berkaitan kepada teori yang
sudah ada yang dimana teori tersebut menyatakan apabila tidak ditangani
dengan segera akan terjadi infeksi virus measles/campak terhadap sekujur tubuh
anak.
3. Tindakan Segera
Pada langkah tindakan segera berdasarkan teori yaitu ibu atau keluarga harus
segera ke fasilitas kesehatan untuk berkonsultasi dengan dokter atau bidan atau
dilakukan.
4. Intervensi (Perencanaan)
Dari hasil yang dilakukan dilihat bahwasanya tidak ada ketimpangan teori &
praktik di lapangan yakni mulai dari pengkajian data sampai tahap intervensi
70
5. Implementasi
menganjurkan ibu atau keluarga Tn. A untuk membawa An.A untuk imunisasi.
6. Evaluasi
keluarga Tn.A dan keluarga sudah mengerti tentang imunisasi dasar dan
pentingnya imunisasi dari lahir hingga anak prasekolah .dan bersedia membawa
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pengkajian
A dan Ny. I ditemukan bahwa An. A umur 1 tahun dengan imunisasi tidak lengkap dan
resiko jika imunisasi tidak dilakukan sampai lengkap sesuai umur anak. Sehingga
1. Prioritas Masalah
keluarga belum mengetahui tentang manfaat imunisasi lengkap dan kurang pemahaman
2. Penyebab Masalah
Adapun sebab masalah yang muncul terhadap keluarga Tn.A kurangnya pengetahuan
tentang betapa pentingnya imunisasi dan jika tidak melakukan imunisasi secara komplit akan bisa
menyebabkan si anak mengalami komplikasi yang bisa menyebabkan cacat kepada anak bahkan
kematian.
3. Intervensi
4. Implementasi
Pelajar & keluarga telah melaksanakan implementasi sesuai dengan intervensi yangtelah direncanakan
5. Evaluasi
Sudah dilaksanakan intervensi keluarga Tn.A & An.A,keluarga susah mengerti dan
lengkap pada An.A. Keluarga Tn. A sudah mengetahui efek samping imunisasi, cara
menangani efek samping imunisasi, dan resiko imunisasi jika tidak dipenuhi secara
lengkap.
6. Dokumentasi
5.1 Saran
Pada kesempatan ini penulis akan menyampaikan saran & simpulan yang ditujukan kepada:
1. Keluarga diharapkan mampu mengenal kondisi nya sehingga jika terjadi suatu masalah
untuk segera konsultasi ke puskesmas atau polindes atau ke tenaga kesehatan terdekat.
Untuk ketua RW dan RT di Desa Bangun Rejo, Kecamatan. Tanjung Morawa untuk selalu
KUNJUNGAN PERTAMA
KUNJUNGAN KEDUA
74
DAFTAR PUSTAKA
Administrasi, B., & Masyarakat, F. K. (2019). Analisis Pelaksanaan Program Imunisasi Dpt-
Hb- Hib Pentavalen Booster Pada Baduta Di Puskesmas Kota Semarang (Studi Kasus
Pada Puskesmas Halmahera). Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 7(1), 48–56.
Dinengsih, S., & Hendriyani, H. (2018). Dasar Pada Bayi Usia 0-12 Bulan Di Desa Aweh
Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 9(2), 202–212.
Izza, N., Lestari, D., & Tumaji, T. (2017). Faktor Orang Tua dan Status Imunisasi DPT Anak
12-36 Bulan di Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Sokobanah Kabupaten Sampang.
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 20(2), 43–51.
https://doi.org/10.22435/hsr.v20i2.6916.43-51
Kesehatan, K., & Indonesia, R. (2018). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun
2011.
Limoy, M., & Yuniantinii, U. (2020). Meningkatkan Peran Orang Tua ke Posyandu untuk
Mendapatkan 5 Imunisasi Dasar pada Bayi dan Balita Desa Teluk Kapuas Dusun Teluk
Indah RT/RW 18/01 Tahun 2021. Jurnal PKM Kebidanan Komunitas, 4(2), 205–212.
Maryani, H., Kristiana, L., Paramita, A., & Izza, N. (2020). Disparitas Pembangunan
Kesehatan di Indonesia Berdasarkan Indikator Keluarga Sehat Menggunakan Analisis
Cluster. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 23(1), 18–27.
https://doi.org/10.22435/hsr.v23i1.2622
Muchlisa, N., & Abdi Putri Bausad, A. (2022). Pengetahuan dan Kesadaran Ibu tentang
Imunisasi Dasar Lengkap: Studi Cross-sectional. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia
(Indonesian Health Scientific Journal), 7(2), 156–160.
https://doi.org/10.51933/health.v7i2.914
Prayogo, A., Adelia, A., Cathrine, C., Dewina, A., Pratiwi, B., Ngatio, B., Resta, A., Sekartini,
R., & Wawolumaya, C. (2018). Kelengkapan Imunisasi Dasar pada Anak Usia 1 – 5 tahun.
Sari Pediatri, 11(1), 15. https://doi.org/10.14238/sp11.1.2009.15-20
Rahman, Z., Munir, Z., & Siam, W. N. (2019). Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Orang Tua
terhadap Motivasi untuk Melengkapi Imunisasi Lanjutan. Citra Delima : Jurnal Ilmiah
STIKES Citra Delima Bangka Belitung, 3(2), 106–111.
https://doi.org/10.33862/citradelima.v3i2.66
RI, K. (2020). Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. 2(1).
Rosdiana, D., Nurjannah, N., Hermansyah, H., & Yussar, M. O. (2020). Faktor Perilaku Ibu
76
Rumah Tangga Terhadap Upaya Pencegahan Difteri di Kota Banda Aceh. Majalah
Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA), 3(3), 272–277.
Sugiharti, S., Mujiati, M., Masitoh, S., & Laelasari, E. (2019). Gambaran Ketersediaan Sumber
Daya Manusia dan Prasarana Puskesmas dalam Pelaksanaan Program Indonesia Sehat
dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK): Analisis Data Risnakes 2017. Jurnal Penelitian
dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan, 3(1), 31–39.
https://doi.org/10.22435/jpppk.v3i1.1883
Sukriani, W., & A’La, D. A. (2019). Faktor yang Berhubungan dengan Status Imunisasi Dasar.
Jurnal Forum Kesehatan, 9(1), 29–33. https://e-journal.poltekkes-
palangkaraya.ac.id/jfk/article/view/41
Sulistyoningrum, D., & Suharyo. (2017). Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Bayi Usia 9-12
Bulan Dan Faktor Determinan Di Kelurahan Randusari Kota Semarang Tahun 2017.
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(1), 35–50.
Tiani, I., Usman, S., Keperawatan, M., Pascasarjana, P., Syiah Kuala, U., Pediatri, B.,
Kedokteran, F., Promosi Kesehatan, B., Kesehatan Masyarakat, F., & Serambi Mekah, U.
(2017). Peran Petugas Imunisasi dalam Pemberian Vaksinasi Pentavalen The Role of
Immunization Worker in Giving Pentavalen Vaccine. Jurnal Ilmu Keperawatan, 4(1),
2338–6371.
Wijaya, M. S. D., Mantik, M. F. J., & Rampengan, N. H. (2020). Faktor Risiko Tuberkulosis
pada Anak. e-CliniC, 9(1), 124–133. https://doi.org/10.35790/ecl.v9i1.32117